
Pengunduran rencana pernikahan Andre dan Nadia waktu itu membuat dua keluarga besar itu kembali bertemu untuk membicarakan masalah ini. Hari ini akan diputuskan mengenai rencana pernikahan yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat sesuai dengan permintaan Andre. Andre sudah tak mau lagi mengundur waktu pernikahannya karena khawatir akan kembali tertunda akibat kejadian yang tak bisa mereka prediksi.
Disinilah sekarang mereka semua berada, di rumah kontrakan Nadia. Mereka membahas tentang semua yang harus dipersiapkan ulang untuk menggelar acara pernikahan. Nadia dan keluarganya memilih konsep sederhana namun Andre tak menyetujuinya. Ia ingin pesta resepsi dilakukan secara mewah dan besar-besaran karena ada kolega bisnis yang mereka undang.
"Untuk akad aku setuju kalau diadakan secara sederhana dan private. Namun untuk resepsi, aku minta digelar di gedung besar karena kolega bisnisku dan papa sangatlah banyak" ucap Andre memberikan usul saat mereka begitu alot berpendapat tentang pesta pernikahan itu.
Semuanya terdiam mendengar usulan Andre itu dan memikirkan tentang bagaimana baiknya. Sebenarnya Mama Anisa juga menginginkan pesta pernikahan yang mewah, namun dia juga ingin menantunya itu merasa nyaman dengan pernikahan yang akan diadakan nanti.
Sedari tadi Nadia dan Andre tak mau mengalah dengan idenya masing-masing membuat laki-laki itu mengambil jalan tengah untuk melaksanakan kemauan keduanya. Biar adil lebih baik dua-duanya dilakukan, secara sederhana dan mewah.
"Bagaimana Nad? Kalau Papa sih terserah kalian berdua saja. Toh yang nanti duduknya di pelaminan lama itu kalian kalau dua acaranya dengan tema berbeda. Pasti budget dan tenaga kalian akan terkuras habis hari itu" ucap Papa Reza.
"Ya udah kalau gitu Nadia ikut Andre saja. Pesta yang mewah saja daripada mubadzir harus mengadakan dua tema yang tentunya dengan dekorasi dan tempat yang berbeda. Lebih baik satu untuk sehari itu akan jauh lebih menghemat tenaga" pasrah Nadia.
Nadia tak mau egois dalam hal ini karena semua biaya dan urusan ini ditanggung oleh keluarga Andre jadi lebih baik menurut saja. Walaupun sebenarnya ia kurang nyaman jika harus pesta dengan banyak undangan yang hadir. Sudah takdirnya juga menkikah dengan pengusaha, pasti akan banyak rekan bisnis yang harus diundang.
"Kamu yakin? Jangan sampai ini nanti jadi masalah untuk kalian ke belakangnya" tanya Papa Reza.
Nadia hanya menganggukkan kepalanya saja dan sedikit tersenyum terpaksa. Andre yang melihat hal itu sebenarnya kasihan dengan Nadia yang sepertinya tertekan dengan kemauannya, namun lingkungan yang menuntutnya seperti ini. Tak mungkin juga kenalan dan teman dekatnya tak diundang dalam acara sepenting ini.
"Baiklah kalau begitu sudah dapat disimpulkan ya kalau acara pernikahan ini akan diadakan secara mewah di gedung. Untuk koordinasi dengan WO, saya minta tolong kepada mama dan Ibu Ratmi agar kedua calon pengantin kita tidak kelelahan" ucap Papa Reza sambil terkekeh pelan.
Mama Anisa, Ibu Ratmi, dan Ayah Deno pun ikut terkekeh pelan karena ucapan Papa Reza. Sedangkan Andre dan Nadia hanya tersenyum kikuk mendengar ucapan Papa Reza yang terdengar seperti sebuah godaan. Selama hampir dua jam lamanya, mereka merundingkan semua tentang acara pernikahan itu.
__ADS_1
***
Setelah selesai membicarakan tentang pernikahan, Mama Anisa dan Papa Reza undur diri pulang terlebih dahulu. Sedangkan Andre dan Nadia memilih untuk menyusul ketiga anaknya yang sedari tadi berada di rumah Nenek Darmi.
"Maafkan aku, Nad. Maaf kalau aku egois mengenai konsep pernikahan kita" ucap Andre saat berjalan berdampingan dengan Nadia.
"Tak apa, aku paham kok" ucap Nadia dengan tersenyum lembut.
Kali ini tak terlihat adanya senyum paksa yang tersungging di bibir indah kekasihnya itu. Andre hanya menganggukkan kepalanya tanpa mau membahas masalah tadi. Lagi pula sepertinya Nadia kini bersikap ikhlas menerima semua apa yang sudah diputuskan bersama.
"Anak-anak bunda..." seru Nadia setelah sampai di rumah Nenek Darmi.
"Bunda..." seru Anara dan Abel dengan antusiasnya.
Nadia segera mendekat kearah ketiganya kemudian memeluk dua gadis kecil itu dengan gemas. Meninggalkan ketiganya selama hampir 3 jam membuat Nadia begitu rindu dengan celotehan mereka.
"Adek nggak kangen sama bunda? Kok nggak peluk dan cium bunda sih" keluh Nadia.
"Angen, api Anol agi cibuk ikin lumah uat unda adi ium cama elukna anti aja ya" ucap Arnold tanpa mengalihkan pandangan dari mainannya.
Dengan ucapan sederhana Arnold itu saja Nadia sudah merasa terharu. Walaupun hanya rumah-rumahan, namun ia sangat menghargai apa yang dilakukan oleh Arnold padanya. Andre pun ikut bergabung dengan ketiga anaknya disana kemudian membantu Arnold untuk membuat apa yang diinginkannya.
***
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain...
"Bagaimana dengan rencana kita?" tanya seorang wanita paruh baya kepada seseorang yang ada didepannya.
"Mohon maaf saya tidak bisa melakukannya, nyonya. Karir saya bisa hancur kalau sampai perbuatan kita ini diketahui oleh pihak berwajib. Lagi pula nyonya juga tak berhak atas uang dari Tuan Andre karena hak asuh anak Aneta sudah jatuh pada laki-laki itu" ucap seorang laki-laki yang ada didepannya, yang tak lain adalah seorang pengacara.
Seorang wanita paruh baya itu adalah Sukma yang sedang menemui pengacaranya yang datang. Dibalik kedatangan pengacara itu, tentunya membawa informasi mengenai kelanjutan rencana yang sudah Sukma rancang. Alih-alih mendapatkan kabar baik, pengacara itu datang dengan informasi yang buruk. Bahkan kini Sukma sudah dibuat kesal oleh pengacara yang disewanya dengan biaya besar itu.
"Aku sudah membayarmu dengan mahal, pokoknya aku tak mau tahu kamu harus bisa menjalankan apa yang ku perintahkan" sentak Sukma.
"Tapi posisi kita sulit, nyonya. Apalagi nyonya Aneta tak mau bekerjasama dengan kita. Tuan Andre juga sebentar lagi akan menikah, sudah pasti posisinya jauh lebih kuat untuk menguasai ketiga anaknya" ucap pengacara itu.
Bukannya menenangkan Sukma, pengacara itu seakan ingin menambah dendam yang sudah tertanam dihati wanita paruh baya itu. Mendengar kabar yang benar-benar tidak menguntungkan baginya itu membuat Sukma harus memutar otaknya lebih keras.
"Kalau begitu kita ubah rencana. Gagalkan pernikahan Andre" titah Sukma dengan seringaian kejinya.
Pengacara yang mendengar perintah Sukma pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tak mau menuruti apa yang diperintahkan wanita itu karena bisa berbahaya untuk kelangsungan hidupnya.
"Maaf saya menolak menjalankan perintah anda. Silahkan cari oranglain saja" putus pengacara itu kemudian pergi berlalu dari hadapan Sukma.
"Hey... Mau kemana kau? Kembali" seru Sukma namun tak digubris sama sekali.
"Sialan... Kalau begitu aku harsus menjalankan rencana ini dengan menyewa oranglain" gumamnya.
__ADS_1
Sukma berlalu pergi dari ruangan yang dikhususkan untuk menjenguk tahanan. Ia kembali ke ruangan yang digunakan untuk menghabiskan perjalanan hidupnya selama beberapa tahun kedepan.