
Brakkk...
"Sialan..." seru Mama Anisa sambil menggebrak meja yang ada di ruangan itu.
Setelah melihat adegan yang terputar pada layar besar itu, kemarahan Mama Anisa dan Nadia memuncak. Bahkan wanita paruh baya itu sampai berdiri dan menggebrak meja yang ada didepannya. Ia benar-benar murka terlebih saat melihat wajah-wajah orang dewasa disana yang malah tertawa melihat Arnold kesakitan. Tak ada satupun orang disana yang berniat membantu Arnold kecuali Nilam yang dengan sigap berlari keluar mencari bantuan.
"Benar-benar binatang..." geram Nadia dengan mengepalkan kedua tangannya.
Bahkan Ibu Hamid dan rekan-rekan guru yang lainnya juga geram dengan apa yang dilakukan oleh dua oknum teman sejawat mereka itu. Mereka tak menyangka jika keduanya dengan berani melakukan tindakan kekerasan pada anak kecil. Memanglah keduanya baru saja lulus namun belumlah mendapatkan sertifikasi jadi statusnya masih lah menggantung.
"Astaga... Ibu Ica dan Ibu Dinda" lirih Ibu Hamid menatap tak percaya keduanya.
"Kalian ini walaupun masih muda harusnya bisa berpikir jika apa yang dilakukan ini sudah termasuk tindak kriminal. Kenapa kalian bisa seperti ini hanya karena masalah pensil dipatahkan? Kalian bisa mengajari mereka untuk saling memaafkan bukan seperti ini" lanjutnya pasrah.
Ibu Hamid pun kalau anaknya diperlakukan seperti ini tentunya akan sangat marah seperti Nadia dan Mama Anisa. Bahkan melihat Arnold yang tak bergerak sama sekali setelah dipukul beberapa kali kakinya oleh temannya atas suruhan Ibu Ica dan Ibu Dinda.
"Kalian berdua harus bertanggungjawab atas apa yang dilakukan. Entah itu pertanggungjawaban secara materi maupun kesehatan mental Arnold" ucapnya dengan tegas.
"Tidak hanya itu, saya akan membawa kasus ini pada pihak yang berwajib dan dinas terkait agar dilakukan peninjauan kembali atas kualitas pendidik di sekolah ini" ucap Nadia dengan tegas.
Ibu Hamid dan guru lainnya hanya bisa pasrah dengan keputusan yang diambil oleh Nadia. Memang sudah sepantasnya jika mereka melakukan hal ini terlebih saat ini Ibu Ica dan Ibu Dinda sudah tak bisa berkutik lagi. Mereka berdua berpikir jika sekolah ini tak ada CCTV sehingga masih bisa mengelak atas perbuatannya namun ternyata pikirannya salah.
__ADS_1
Saat semua video diputar mereka seperti kehilangan muka dihadapan semua guru di sekolah itu. Mereka berdua yang tadinya sombong dan menatap remeh kearah Mama Anisa dan Nadia hanya bisa menundukkan kepalanya. Mereka juga harus bersiap jika dipecat dari pekerjaannya ini. Walaupun mereka dari keluarga berada namun sepertinya takkan berpengaruh pada kekuasaan keluarga Arnold.
***
"Bunda... Tolongin Nilam... Tolongin Arnold... Kaki Arnold sakit, Arnold nggak mau sekolah lagi" histeris Arnold dengan mata terpejamnya.
Semua yang mendengar teriakan Arnold dari atas brankar tentunya langsung saja mendekat kearahnya. Nilam juga mengalami sedikit shock akibat kejadian ini dan langsung pulang setelah dijemput oleh papanya. Didalam ruangan ini hanya ada Papa Reza, Andre, Alan, Abel, dan Anara yang sedang bersantai diatas karpet.
"Bangun, nak. Hei... Disini ada papa dan yang lainnya" ucap Andre sambil menepuk-nepuk pipi anaknya dengan lembut.
Tak ada reaksi berarti dari Arnold, bocah laki-laki itu masih memejamkan mata dengan kepala bergerak ke kanan kiri seperti orang gelisah sambil terus mengigau minta tolong. Andre panik sedangkan Papa Reza berusaha untuk menenangkan ketiga cucunya yang khawatir dengan kondisi saudaranya.
"Arnold nggak mau sekolah lagi. Arnold nggak mau dipukul lagi" igau Arnold.
Andre memeluk anaknya itu dengan erat sambil terus menggumamkan kalimat penenang tepat pada telinganya. Namun apa yang dilakukannya ini sama sekali tak berhasil membuatnya khawatir terlebih keringat dingin mulai muncul pada dahi anaknya. Andre segera saja memencet tombol panggilan diatas brankar anaknya untuk memanggil dokter.
Tak berapa lama dokter memasuki ruang rawat inap dengan diikuti oleh beberapa perawat. Andre segera melepaskan pelukannya pada sang anak sedangkan dokter dan perawat segera memeriksa keadaan Arnold. Andre memeluk Anara dan Abel yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Arnold nggak akan kenapa-napa kan papa?" tanya Abel dengan sendu.
"Adek pasti baik-baik saja. Kita berdo'a ya agar Arnold bisa kembali ceria seperti biasanya" ucap Andre dengan suara seraknya.
__ADS_1
Untuk kedua kalinya dia merasa gagal menjadi sosok seorang ayah yang harus menjaga anak-anaknya. Dulu waktu dibentaknya, Arnold hanya akan jadi pendiam tak sampai mengigau seperti ini hingga pingsan. Ia takut apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan. Ia khawatir anaknya akan mengalami trauma berat hingga tak mau sekolah dan bersosialisasi dengan oranglain.
"Saya sudah berikan obat penenang pada pasien. Saya harap setelah ini pasien bisa mendapatkan bimbingan dari seorang psikiater untuk membantu menyembuhkan traumanya. Untuk sementara, berikan kenyamanan dan rasa aman pada pasien agar dia benar-benar merasa bahwa lingkungannya begitu mendukungnya" ucap dokter itu menyarankan.
Andre hanya bisa menganggukkan kepalanya mengerti. Dokter dan perawat itu segera saja pergi dari ruangan Arnold meninggalkan Andre yang sedang berpikiran kalut. Ketiga anaknya juga masih terdiam duduk disana karena merasakan ada yang kurang saat Arnold sakit.
Saat semuanya terdiam disana, mereka dikejutkan dengan kedatangan Mama Anisa dan Nadia yang datang dengan wajah penuh amarah. Bahkan Anara, Abel, dan Alan sampai ketakutan melihatnya sehingga bersembunyi dibalik badan papa dan kakek mereka.
"Hilangkan raut kemarahan kalian" tegur Papa Reza.
Keduanya pun yang mendengar langsung saja menghela dan menghembuskan nafasnya berulang kali untuk menenangkan apa yang tengah dirasakan. Mereka berdua sadar dengan apa yang dilakukannya ternyata membuat takut ketiga bocah kecil yang ada disana. Setelah cukup tenang, ketiganya duduk disana bergabung dengan yang lainnya.
"Apa yang kalian lakukan tadi di sekolah?" tanya Papa Reza.
Nadia dan Mama Anisa tentunya terkejut dengan ucapan Papa Reza yang mengetahui kemana mereka berdua pergi. Namun tak lama mereka sadar jika Papa Reza sudah hafal dengan tingkah kedua wanita yang sama bar-barnya itu.
"Memberikan pelajaran kepada oknum-oknum yang katanya terpelajar namun otaknya tertinggal di bak sampah" ucap Mama Anisa kesal.
"Nenek, memangnya otak bisa ada di bak sampah? Bukannya otak ada di dalam kepala ya" ucap Abel dengan tatapan polosnya.
Andre dan Papa Reza menatap Mama Anisa dengan julid. Mereka berdua membiarkan Mama Anisa mencari jawaban sendiri atas ucapan asalnya yang kadang tak difilter dulu sebelum diucapkan. Sedangkan Mama Anisa sudah ketar-ketir mendapatkan pertanyaan itu.
__ADS_1
"Ah... Itu otak ayam yang terbuang di tempat sampah" jawab Mama Anisa dengan kikuk.
Andre dan Papa Reza tentunya hanya bisa menahan tawanya mendengar jawaban Mama Anisa itu. Walaupun pintar berkelit, namun kepintarannya itu belumlah melebihi Arnold. Beruntung cucunya itu hanya menganggukkan kepalanya mengerti tanpa memperpanjang pembicaraan lagi.