Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Aktifitas


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang hari, namun pasangan pengantin baru itu sama sekali tak terusik dengan sorot sinar matahari yang menyorot dari balik gorden. Namun setelah beberapa menit akhirnya salah satu dari mereka terbangun karena rasa gerah yang dirasakannya. Nadia, ia terbangun terlebih dahulu yang kemudian menatap wajah suaminya penuh haru.


Mengingat kejadian semalam membuat pipinya memerah merona. Ia tak menyangka bahwa kini dirinya telah menyerahkan harta berharga yang selama ini dijaganya kepada Andre, sosok duda beranak tiga. Ia sungguh bahagia bisa bersanding dengan sosok Andre yang membuatnya bisa menjadi sosok ibu sekaligus ketika menikah dengannya.


Walaupun sosok suaminya ini temperamental dan terkadang egois, namun ia akan berusaha untuk menutupinya dengan kelebihannya. Begitu juga dengan dirinya yang masih banyak kekurangan akan ditutupi oleh kelebihan dari suaminya itu.


Nadia memandang wajah Andre yang begitu sempurna dihadapannya itu. Bibir merah yang semalam menciumnya dengan lembut, bulu mata lentik, rahang tegas, dan bibir mancung. Sungguh pemandangan yang membuat Nadia takjub bahkan tersipu malu. Nadia yang terus menatap suaminya pun terkejut ketika mata Andre tiba-tiba terbuka membuatnya hampir terjungkal ke belakang jika saja Andre tak melingkarkan tangannya ke perutnya.


"Hati-hati, sayang" ucap Andre dengan sedikit khawatir saat istrinya tadi hampir saja terjungkal karena kaget.


Nadia hanya bisa cengengesan mendengar ucapan suaminya itu. Terlebih kini dirinya tengah gugup karena ketahuan sedang mengagumi wajah suaminya itu. Andre hanya bisa terkekeh geli melihat wajah gugup istrinya yang terlihat sangat lucu dimatanya. Gadis tomboy yang selalu ceplas ceplos dan berani kini malah seperti ayam yang tengah disembelih. Terdengar suara hembusan nafasnya namun tak bisa bersuara.


"Kamu nggak perlu gugup seperti itu ketika memandangku. Aku hanya milikmu, jadi kau bebas jika akan memandangku atau bahkan menyentuhku" ucap Andre yang kemudian mengambil telapak tangan istrinya dan mengecupnya sekilas.


Perlakuan Andre ini membuat Nadia salah tingkah. Baru kali ini dirinya diperlakukan dengan lembut seperti ini oleh seorang laki-laki selain ayahnya sendiri. Bahkan kini matanya juga ikut berkaca-kaca karena terharu melihat pandangan suaminya yang begitu tulus padanya.


"Terimakasih. Terimakasih sudah memilih seorang gadis biasa bahkan hanya bekerja sebagai babysitter saja sebagai istrimu. Bahkan diluaran sana banyak sekali perempuan cantik dan seksi namun kau malah memilih gadis yang tomboy bahkan terkesan urakan ini sebagai pendampingmu dan ibu dari anak-anakmu" ucap Nadia dengan mata berkaca-kaca.


Melihat istrinya sudah akan menangis membuat Andre langsung saja menarik Nadia masuk kedalam pelukannya. Ia mengusap lembut punggung Nadia membuat wanita itu malah menangis dengan kerasnya.


"Bukan kamu yang beruntung memiliki aku, namun aku lah laki-laki paling beruntung di dunia ini karena memilikimu" bisik Andre tepat pada telinga Nadia.

__ADS_1


"Kita sama-sama beruntung" timpal Nadia dengan terkekeh sambil mengusap ingus yang keluar dari hidungnya menggunakan kaos milik suaminya.


Andre pun hanya membiarkan saja kaosnya kotor karena ingus istrinya. Toh nanti istrinya juga yang akan mencucinya. Mereka berdua masih menikmati pelukan itu dengan begitu mesranya, namun hanya beberapa menit moment itu tercipta karena tiba-tiba saja ada gangguan yang datang.


Brak... Brak... Brak...


"Papa, Bunda..." seru seseorang yang sangat pasangan pengantin baru itu kenali.


Itu adalah suara Anara membuat Nadia segera menyuruh suaminya untuk membuka pintu karena takut terjadi sesuatu pada Arnold dan Abel. Pasalnya tak ada suara kedua anak itu membuat pikiran Nadia was-was. Nadia memang tak turun dari kasur karena kaki dan bagian intinya masih terasa sakit akibat pergulatan panas semalam. Andre membuka pintu kamar kemudian dengan tiba-tiba, ketiga anaknya menyelonong masuk kedalam kamar.


Ketiganya langsung saja naik keatas kasur kemudian melompat-lompat dengan cerianya. Andre dan Nadia hanya menganga tak percaya dengan tingkah mereka yang sangat berbeda dari kemarin saat bertemu. Mereka berdua saling pandang kemudian menatap ketiganya dengan intens.


"Bukannya kalian kemarin mau menginap seterusnya di rumah nenek?" tanya Nadia dengan tatapan bingung.


Begitu pun dengan Abel dan Anara yang langsung duduk mengapit Nadia sedangkan Arnold berada dipangkuan ibu sambungnya itu. Andre yang melihat ketiga anaknya sudah mengerubungi istrinya pun hanya bisa menghela nafasnya kasar. Acara romantis-romantisan yang tadi tercipta kini harus terhenti karena ada tiga anaknya.


"Lalu ini kok Abel udah nggak takut lagi kalau melihat papa?" tanya Andre yang kemudian ikut duduk diatas kasur.


"Abel udah sembuh kok kemarin, mungkin hanya takut-takut dikit aja" ucap Abel yang kemudian memeluk Nadia dengan erat.


Andre dan Nadia hanya menganggukkan kepalanya walaupun tak sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Abel. Dari gelagatnya, mereka sudah berpikir bahwa ada yang disembunyikan anak-anak ini. Biarlah nanti mereka mencari tahunya sendiri.

__ADS_1


"Papa elum andi, bau" ucap Arnold mengalihkan pembicaraan.


"Biarin bau... Nih rasakan bau dari badan papa" seru Andre yang kemudian mendekatkan ketiaknya kearah wajah Arnold.


Arnold pun menghindarinya dengan memutar tubuhnya kearah Nadia dan langsung memeluk bundanya itu. Namun Andre masih berusaha untuk melepaskan pelukan keduanya tapi tak bisa karena Arnold memeluk erat badan Nadia dengan erat.


"Curang ya, sembunyi dibalik ketek bunda" ucap Andre yang kemudian malah menggelitiki perut dan ketiak anaknya itu.


Hahahahaha...


Tawa renyah seketika terdengar dari bibir kecil Arnold karena merasa geli akibat gelitikan papanya. Tawa itu menular pada semua yang ada disitu tak terkecuali Abel. Nadia yang melihat anaknya sudah kembali ceria begitu bahagia.


"Unda.... Papa akal" ucap Arnold sambil cekikikan.


"Udah mas, ini mukanya sampai merah lho" tegur Andre karena kasihan melihat anaknya.


"Beraninya ngadu sama bunda ya sekarang" ucap Andre yang langsung menghentikan gelitikannya.


Siang itu mereka lewati dengan gelak tawa kebahagiaan yang hampir beberapa hari terakhir ini tak pernah terlihat. Walaupun Abel dan Arnold masih proses penyembuhan, namun keduanya lah yang sebenarnya nanti akan pioner bagi Anara.


"Ayo kita mandi" ajak Nadia.

__ADS_1


Akhirnya Nadia memutuskan membawa Anara dan Abel ke kamar mandi sebelah karena yang di kamar akan digunakan oleh Andre dan Arnold. Mama Anisa yang tadi tak sengaja lewat didepan kamar Andre yang terbuka pun merasa bahagia karena kini anak dan cucunya telah menemukan kebahagiaannya.


Terlebih saat melihat langkah jalan Nadia yang aneh membuatnya tak sabar ingin menggendong bayi-bayi lagi. Mama Anisa segera pergi dari sana saat melihat Nadia dan kedua cucu gadisnya akan keluar dari kamar.


__ADS_2