Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Rasa Penasaran


__ADS_3

Setelah keluarga Mama Anisa pulang, kedua orangtua Nadia pun pamit pada Nenek Darmi untuk kembali ke rumah kontrakan anaknya. Sedangkan Nadia masih ingin di rumah Nenek Darmi untuk membantu wanita tua itu membersihkan beberapa gelas dan piring yang tadi digunakan untuk menjamu tamu. Entah mengapa Nadia begitu nyaman ketika berada di rumah Nenek Darmi.


Di rumah kontrakan, kedua orangtua Nadia berbincang mengenai keluarga Mama Anisa. Ibu Ratmi begitu penasaran dengan hubungan antara anaknya dan duda tiga orang anak itu. Awalnya mereka tak percaya kalau Andre itu duda beranak tiga, pasalnya wajah laki-laki itu masih belum terlihat seperti bapak-bapak. Namun kemudian Ibu Ratmi berpikir kalau orang kaya pasti memiliki perawatan khusus hingga wajahnya terawat dan tak cepat menua. Buktinya saja Mama Anisa yang umurnya berada diatasnya saja masih terlihat cantik bahkan tak ada kerutan seperti dirinya. Ah memang uang bisa mengubah segalanya.


"Pak, Nadia itu sebenarnya ada hubungan apa sih dengan anaknya jeng Anisa? Kok kayanya akrab sekali dengan anak-anaknya pak duda itu. Jangan-jangan Nadia sudah menikah di kota tanpa memberitahu kita, pak" tanya Ibu Ratmi.


"Jangan asal bicara, bu. Walaupun Nadia adalah anak yang tomboy dan urakan seperti itu namun dia masih menghormati kita sebagai orangtuanya jadi tak mungkin dia menikah tanpa restu dari kita. Nanti kita tanya sama Nadia biar jelas dan kita tidak berpikir yang tidak-tidak" ucap Ayah Deno.


Akhirnya Ibu Ratmi mengangguk pasrah saja dengan apa yang diucapkan oleh Ayah Deno. Lagi pula nanti jika membicarakan berdua saja pastinya hanya akan menimbulkan pikiran-pikiran lain yang tak ada ujungnya.


"Kalau misalnya, pak duda kaya itu mau sama Nadia nih kira-kira ayah setuju nggak?" tanya Ibu Ratmi.


"Manut Nadia aja, bu. Ayah ndak mau ikut campur lagi tentang hal seperti itu. Ayah nggak mau kejadian tentang Parno itu terulang lagi. Apapun pilihan Nadia, pasti ayah akan menyetujuinya selama orang itu baik" ucap Ayah Deno.


Ibu Ratmi menyetujui ucapan Ayah Deno, sebagai orangtua mereka akan mendukung setiap keputusannya asalkan itu baik. Orangtua Nadia memilih untuk tak lagi egois dengan meninggikan keinginan mereka demi kebahagiaannya sendiri. Saat ini kebahagiaan Nadia adalah yang paling utama untuk mereka.


***


Nadia masuk ke rumah kontrakannya dalam keadaan lunglai dan lesu, bahkan ia berjalan gontai seperti tak punya tenaga. Tenaganya hari ini sudah terkuras habis untuk bekerja, walaupun hanya menemani dan menjaga ketiga bocah kecil itu ternyata ia merasakan sangat capek. Namun walaupun begitu, ia sangat menikmati pekerjaannya kali ini. Kedua orangtua Nadia yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala saja, namun rasa penasarannya tak membuat mereka diam saja.


"Nak, sini deh... Ibu mau tanya sesuatu sama kamu" ucap Ibu Ratmi dengan antusias

__ADS_1


"Besok aja deh tanya-tanyanya, bu. Nadia hari ini capek banget" ucap Nadia.


Nadia sudah tahu kalau kedua orangtuanya sangat penasaran dengan hubungan dia dan keluarga Mama Anisa. Jadi untuk menghindari kalau mereka akan menggodanya lebih baik dia istirahat saja. Lagi pula dia tahu sifat ibunya yang teramat kepo jika dia dekat dengan seseorang.


"Tapi..."


"Udah ya, bu. Nadia mau mandi lalu istirahat dulu. Besok pagi harus kerja lagi" ucap Nadia menyela.


Sebelum ibunya berbicara lebih banyak, Nadia dengan sigap memotong ucapan ibunya itu walaupun sebenarnya itu adalah hal yang tak sopan. Namun apa boleh buat, jika ditanggapi maka akan sangat lama untuk dirinya bisa beristirahat. Nadia segera berlalu menuju kamarnya sebelum ibunya berbicara lagi. Ibu Ratmi yang melihat itu hanya menghela nafasnya kasar sedangkan Ayah Deno hanya geleng-geleng kepala.


"Udahlah, bu. Kita tanya besok saja, lagi pula pasti Nadia juga capek seharian ini pergi" nasihat Ayah Deno.


Ayah Deno memberi nasihat kepada istrinya yang terlihat akan menyusul anaknya ke kamar. Akhirnya Ibu Ratmi hanya menganggukkan kepalanya pasrah kemudian mereka berlalu masuk ke dalam kamar untuk istirahat.


***


Keluarga Parno marah besar dengan orangtua Nadia yang pergi dari desa itu tanpa memberitahu mereka. Bahkan Parno sedari tadi sudah menangis histeris dan berteriak seperti orang kurang waras karena tahu kalau keluarga Nadia meninggalkan desa ini. Harapannya untuk bersatu dengan Nadia kini sangatlah tipis kalau sampai dia tidak menemukan gadis pujaan hatinya itu.


Ketua RT setempat juga tak tahu menahu mengenai kepindahan keluarga Nadia karena mereka memang tidak melapor padanya. Hampir semua tetangga Nadia menghujat kepergian keluarga itu yang pergi tanpa pamit. Padahal orangtua Nadia pergi karena memang sudah tak nyaman tinggal di dekat tetangga yang toxic.


"Ini gimana, pak? Parno semakin tak terkendali" panik Ibu Dyah.

__ADS_1


"Bapak juga bingung, bu. Harus cari kemana keluarga itu" bingung Bapak Aden.


Keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing untuk mencari cara agar anaknya itu bisa segera terkendali dan tersenyum seperti biasa. Saat keduanya tengah duduk melamun di ruang tamu, seketika saja mereka terkejut dengan suara barang dilempar dan teriakan dari Parno.


Brakkkk... Brakkkk....


Arrrghhhh... Nadia...


Mendengar hal itu, segera saja mereka beranjak dari duduknya kemudian berlari kearah kamar anaknya. Saat sampai disana terlihatlah banyak barang yang sudah berserakan diatas lantai. Pecahan gelas dan beberapa pot tanaman hias membuat kedua orangtua Parno bergidik ngeri. Sedangkan Parno berada di pojok kamar terduduk sambil menelungkupkan kepalanya di sela-sela kaki.


"Kita bawa Parno kembali ke kota saja, bu. Kalau disini pasti dia akan ingat terus dengan Nadia" putus Bapak Aden.


"Ibu setuju dengan ide bapak" ucap Ibu Dyah.


Melihat kondisi anaknya yang semakin hari tak terkendali membuat keduanya memutuskan untuk kembali ke kota, tempat asal mereka. Keluarga Parno memang berasal dari kota kemudian pindah ke desa untuk menjadi juragan sapi. Karena mempunyai uang yang banyak, membuat keluarga Parno sombong dan suka semena-mena dengan orang yang tak patuh dengan ucapan mereka. Parno adalah anak tunggal dari Bapak Aden dan Ibu Dyah yang mempunyai kekurangan sifat childishnya.


Mereka berdua segera mendekat kearah anaknya, keduanya segera memeluk anaknya yang masih terisak histeris itu. Sambil terus mengelus punggung anaknya, akhirnya Parno sedikit lebih tenang membuat kedua orangtuanya sedikit lega.


"Kita kembali ke kota ya, nak. Bapak akan carikan perempuan yang lebih baik dari Nadia itu" ucap Bapak Aden.


"Mau Nadia aja.." rengek Parno.

__ADS_1


"Iya... Iya... Yang penting kita ke kota dulu" pasrah Bapak Aden.


Saat ini yang terpenting adalah mereka kembali ke kota terlebih dahulu. Masalah Parno yang ingin mencari Nadia, mereka hanya bisa berharap kalau anaknya bisa lupa dengan gadis itu.


__ADS_2