
"Sttt... Napa bicik-bicik ndak jak-jak Alan? Angan uka cimpan lahasia diantala tita" ucap Alan tiba-tiba dengan pelan.
Tentunya Papa Reza dan Nenek Darmi yang tak menyadari kedatangan Alan itu begitu terkejut karena adanya bocah kecil itu di belakang keduanya. Andre dan Febri pergi ke restorant yang ada didekat sana untuk memesan dan membeli makanan buat makan siang. Mereka memilih ke restorant langsung daripada menggunakan layanan pesan antar karena sekaligus membeli permintaan anak-anak di supermarket.
Sedangkan yang wanita dewasa sedang menyiapkan minuman juga perlengkapan lainnya untuk persiapan makan siang. Makanya anak-anak dibiarkan bermain sendiri dan Papa Reza juga Nenek Darmi lah yang mengawasi mereka. Walaupun begitu, ternyata keduanya malah asyik berbincang membuat mereka tak sadar akan gerak-gerik anak-anak.
Terutama mereka tak mendengar dan merasakan adanya Alan yang berjalan mendekat kearah keduanya. Tiba-tiba saja Alan sudah berada di belakang keduanya membuat mereka terkejut. Terlebih dengan ucapan Alan yang membuat mereka semakin terpojok.
"Astaga... Kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Papa Reza sambil geleng-geleng kepala.
"Ya bica don. Tan Alan adi tecini dalan patek tati. Agian talian cibuk bicik-bicik cih" ucap Alan menyindir.
"Mangna nenek tama tatek agi nomonin apa?" lanjutnya bertanya.
Alan sungguh penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh nenek dan kakeknya itu. Pasalnya saat tadi ia sampai di belakang tubuh keduanya, mereka malah sedang melamun seakan memikirkan sesuatu. Padahal tadi saat Alan dan yang lainnya sedang bermain, ia sempat melihat jika keduanya tengah bisik-bisik seperti membicarakan hal yang serius.
Karena Alan sangat penasaran, ia memutuskan untuk pergi diam-diam dari kegiatan bermain saudaranya yang lain. Walaupun sebenarnya saudaranya itu mengetahui kalau Alan pergi namun mereka membiarkannya saja. Ia berjalan tanpa suara agar bisa mencuri dengar pembicaraan nenek dan kakeknya itu.
"Omongan orang dewasa. Anak kecil nggak boleh tahu dan ikut campur" ucap Papa Reza yang langsung menarik cucunya untuk duduk di pangkuannya.
"Ish... Tatek ndak acik. Alan uga udah dewaca tok ini, adi ayo tacih tau atu" ucap Alan membujuk Papa Reza dan Nenek Darmi sambil mengedipkan matanya berulangkali.
Bukannya memberi tahu Alan, keduanya malah tertawa melihat mata bocah kecil itu. Sepertinya bibit-bibit genit ini sudah mulai muncul sejak kecil pada diri Alan. Apalagi wajahnya yang begitu polos seakan tak tahu apa-apa namun menyimpan sesuatu yang besar itu kini menatap kakeknya dengan pandangan begitu penasaran.
__ADS_1
"Heleh... Dewasa kok bicaranya masih cadel gini" ledek Papa Reza dengan jahilnya.
"Ish... Tecel deh Alan ini. Olang bicala selius tok didiniin. Tatek ahat... Tungguh ahat, Alan tecal cekali" ucap Alan mendramatisir.
Nenek Darmi dan Papa Reza tentunya tertawa melihat akting dari Alan yang sama sekali tak meyakinkan ini. Keduanya yakin kalau Alan itu hanya merajuk dan ingin diberitahu tentang pembicaraan mereka tadi. Nanti juga Alan akan lupa sendiri kalau sudah bermain dengan saudaranya yang lain.
Tak berapa lama para wanita dewasa keluar dari rumah Nenek Darmi dengan membawa gelas dan piring. Anak-anak yang tadinya bermain langsung berkumpul disana menunggu jadwal makan siang yang sebentar lagi akan dimulai walaupun makanannya belum datang.
"Ita mau akan piling cama delas?" tanya Ega dengan polosnya menatap semua orang disana.
Semua yang mendengar itu tentunya tertawa apalagi wajah polos Ega yang memang menggemaskan. Mereka tak menyangka jika Ega bisa mengucapkan pertanyaan seperti itu. Padahal Ega tadi sudah tahu kalau ada Andre dan Febri yang sedang keluar membeli makanan.
"Iya, tusus Eda matan piling cama delas. Tetalian cendok cama dalpu uga" ucap Alan menjawab pertanyaan Ega itu.
"Telas..." ucap Ega setelah mencoba menggigit sendok.
"Alan jangan jahil. Tadi abang Alan cuma bercanda kok Ega, makanannya masih menunggu papa dan om tadi lho" ucap Arnold sambil mengelus rambut Ega dengan lembut.
"Ladian naneh jaja. Cejak tapan delas dan piling bica dimatan?" gerutu Alan.
"Adiknya kan hanya bertanya yang tidak ia tahu. Jawabnya yang benar besok lain kali" ucap Nadia memberitahu dengan baik.
Alan tak menggubris ucapan Nadia dan malah kini sibuk dengan ponsel kakeknya itu. Nadia hanya bisa mengelus dadanya sabar melihat anaknya yang susah untuk dinasihati itu. Nantinya pelan-pelan ia akan berusaha berbicara dari hati ke hati yang siapa tahu bisa membuat Alan mengungkapkan semuanya hingga tak bersikap tertutup seperti ini.
__ADS_1
***
Tak berapa lama, Andre dan Febri datang dengan beberapa kantong plastik berisi makanan dari salah satu restorant terkenal. Ada juga satu kantong plastik besar berisi camilan untuk anak-anak. Semuanya menatap berbinar kearah kantong plastik berlogo salah satu supermarket itu.
"Eits... Makan siang dulu baru nyemil" tegur Nadia membuat mereka hanya bisa menatap harap kearah plastik besar itu.
"Sini Alan. Biar bunda suapi barengan sama Ega" ajaknya pada sang anak.
Alan menganggukkan kepalanya dengan semangat kemudian berjalan mendekat kearah Nadia dan Ega. Akhirnya mereka makan siang dengan tenang bahkan berulangkali Alan dan Ega menambah porsi makannya.
"Pantesan perutnya buncit. Makan terus..." ucap Andre menyindir Alan.
"Ndak papa, Alan macih maca peltumbuhan tok. Ndak tayak papa, cudah wuwa api pelutna endut. Olahlaga cana bial cispek" ucap Alan acuh tak acuh.
Mendengar sindiran pedas dari Alan itu malah membuat semuanya tertawa kecuali Andre yang sudah mencebikkan bibirnya kesal. Ia memang sudah jarang melakukan olahraga karena sibuk bekerja dan akhir pekan selalu digunakannya untuk jalan-jalan bersama keluarga.
"Biarlah... Yang penting sehat" ucap Andre dengan acuh.
"Toba tek tu dula dalah cama kolestelolna" tantang Alan meledek.
Alan pernah mendengar kalau papanya ini mempunyai riwayat gula darah dan kolesterol tinggi. Bahkan Nadia sering memarahi suaminya itu karena tak bisa mengontrol makanan. Tentunya Alan bisa menggunakan senjata itu untuk membalikkan keadaan. Andre mendelikkan matanya kesal dengan anak tengilnya itu.
Mereka yang melihat perdebatan itu hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Keduanya memang susah kalau disatukan terlebih Alan ingatannya begitu kuat jika sudah mengungkit kesalahan yang diperbuat oleh Andre.
__ADS_1
"Yalhamdulillah... Tenyangna. Abis tenyang, obok. Nitmat mana yang tau tutaskan" ucap Alan yang kemudian membaringkan badannya diatas karpet.
Ega pun sama yang langsung membaringkan tubuhnya disamping Alan setelah merasa kenyang. Tak berapa lama keduanya tertidur padahal sudah ditegur agar nanti dulu tidurnya.