Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Mendekati Hari H


__ADS_3

Semua persiapan pernikahan Andre dan Nadia benar-benar dikebut oleh pihak WO dan keluarga besar terutama Mama Anisa dan Ibu Ratmi yang mengurus. Dalam waktu 1 bulan segala persiapannya sudah hampir 80% tinggal menunggu undangan disebar dan beberapa hal kecil karena untuk gaun dan cincin masih menggunakan yang dulunya dibeli. Beruntungnya pakaian dan cincin itu masih muat di badan serta jari manis keduanya.


Saat ini saatnya Nadia dan Andre yang dibuat sibuk karena harus membuat list undangan mereka. Untuk undangan dari orangtua sudah jadi tinggal menunggu Nadia dan Andre. Nadia saat ini kebingungan akan mengundang siapa, pasalnya hampir semua sahabatnya ada didesa. Kalau untuk datang ke pernikahannya di kota pastinya mereka akan kesusahan.


"Ndre, kayanya aku nggak ngundang siapa-siapa deh di acara pernikahan kita" ucap Nadia tiba-tiba.


Kini Andre dan Nadia tengah berada di ruang makan rumah Keluarga Farda ditemani dengan kertas serta bolpoint diatas meja. Mereka sedang disibukkan dengan membuat daftar tamu undangan yang akan mereka undang ke acara pernikahannya. Sedangkan ketiga anak Andre tengah tidur siang di kamarnya.


"Lho kenapa? Ini acara pernikahan kita berdua. Tak mungkin kan kalau undangannya hanya dari aku dan kedua orangtua kita" ucap Andre mencoba bersabar.


Sebenarnya Andre sedang menekan emosinya, pasalnya dia berpikir sepertinya kekasihnya ini sama sekali tak niat dalam mengurus pernikahan. Namun daripada nanti salah paham dan berakhir ribut, dia mencoba untuk bersabar dalam menanggapi ucapan Nadia.


"Di kota aku nggak punya kenalan banyak. Hanya Bang Ucup yang ada dipasar sama nenek aja" ucap Nadia.


"Kebanyakan sahabatku ada di desa. Mereka pasti keberatan kalau harus ke kota hanya demi menghadiri acara pernikahanku karena mereka memikirkan biayanya. Kondisi ekonomi keluarga mereka pasti akan menjadi kendala untuk sahabatku datang" lanjutnya dengan lesu.


"Memangnya kamu tak diberitahu oleh ibu?" tanya Andre.


Bukannya menanggapi keluhan dari Nadia, Andre malah menanyakan sesuatu yang membuatnya bingung. Pasalnya selama satu bulan ini dirinya jarang berkomunikasi dengan ibunya. Ibunya itu selalu sibuk dari pagi bersama Mama Anisa untuk menyiapkan segala hal mengenai pernikahan dirinya.


"Jadi untuk tamu yang dari desa, papa sudah menyiapkan satu bus untuk mereka gunakan ke kota. Kamu, ayah, dan ibu tinggal memberikan total tamu undangan dari desa saja. Kalau misal satu bus itu nanti tidak cukup, kita bisa menambahnya lagi. Mereka kan kita yang undang, sebisa mungkin kita menyediakan akomodasinya" ucap Andre saat melihat raut wajah kebingungan kekasihnya itu.


Nadia sontak saja terkejut mendengarkan ucapan Andre. Dia merasa malu karena tak tahu menahu mengenai segala rentetan yang sudah dipersiapkan keluarganya. Nadia merasa kalau dia hanya terima beres saja tanpa mau tahu apa yang sudah dilakukan keluarganya padahal ini adalah pernikahan dia sendiri.

__ADS_1


"Maaf... Maafkan aku karena benar-benar tak mengetahui hal ini" ucap Nadia dengan tak enak hati.


"Sebenarnya kamu niat tidak menikah denganku? Kamu tidak terpaksa kan?" tanya Andre tanpa mempedulikan permintaan maaf Nadia.


Tatapan Andre begitu serius dan menatap tajam kearah Nadia. Ia seakan menuntut jawaban Nadia untuk segera dijawabnya. Nadia yang mendengar ucapan Andre pun merasa bersalah. Dirinya memang merasa cuek dengan segala hal yang berhubungan dengan acara pernikahan keduanya.


"Aku nggak terpaksa kok menikah denganmu. Aku hanya sedikit cuek saja karena kedua orangtua kita sudah mengurus semuanya. Aku pun bingung harus membantu apa karena sudah dipersiapkan semuanya" jawab Nadia sambil menggaruk belakang tengkuknya yang tak gatal.


"Kalaupun kamu terpaksa menikah denganku, aku tak peduli. Yang aku pedulikan adalah kita segera bersatu dalam ikatan pernikahan karena aku sudah tak mau kehilanganmu lagi" ucap Andre dengan nada dinginnya.


Andre segera saja berlalu meninggalkan Nadia yang masih terkejut dengan perubahan ekspresinya. Nadia terkejut dengan raut wajah Andre yang terkesan penuh obsesi dengannya. Sekarang pikiran Nadia sedang kacau akibat hal ini, dia malah berpikir kalau Andre hanya terobsesi dengannya bukan mencintainya.


Tanpa mempedulikan pikirannya yang benar-benar kacau, Nadia segera saja melanjutkan untuk membuat daftar list undangan sahabat-sahabatnya dari desa. Mulai sekarang dia akan membangun komunikasi dengan ibu dan Mama Anisa untuk mengetahui segala persiapan penikahannya dengan Andre.


Nadia pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki karena semenjak Andre meninggalkannya di ruang makan, laki-laki itu sama sekali tak menampakkan batang hidungnya. Bahkan Nadia sudah menghubunginya, namun panggilannya sama sekali tak direspons oleh Andre. Nadia hanya bisa menghela nafasnya sabar, memang benar kata orangtua kalau menjelang pernikahan itu pasti ada saja ujiannya.


Saat Nadia masih asyik dengan lamunannya, tiba-tiba saja muncul orang-orang berbaju hitam dengan penutup kepalanya menghadang jalan gadis itu. Sontak saja Nadia langsung tersadar dari lamunannya kemudian memundurkan langkahnya.


"Ikut kami dengan cara baik-baik atau kekerasan?" ucap orang itu dengan nada mengancam.


"Cih... Ikut kalian? Kenal aja kagak masa mau gue ikutin" ucap Nadia dengan tengilnya.


"Wah... Berani nih cewek. Tangkap dia..." seru salah satu orang-orang itu mengomando teman-temannya yang lain.

__ADS_1


Nadia segera memasang kuda-kuda untuk melawan 4 orang laki-laki berpakaian hitam dengan penutup kepala itu. Begitu pula dengan orang-orang itu yang segera saja membentuk lingkaran sehingga Nadia berada ditengah-tengahnya. Walaupun keadaannya terdesak karena dikerumuni empat laki-laki, hal itu tak membuat Nadia takut.


Bugh... Bugh...


Empat orang laki-laki itu segera saja menyerang Nadia bersamaan membuat gadis itu sedikit kuwalahan. Bahkan tendangan dari keempatnya diarahkan kearah segala sisi membuatnya benar-benar terkepung. Beberapa kali juga tendangan itu mengenai wajah dan badannya membuat mukanya terdapat lebam-lebam.


"Sialan..." desis Nadia saat wajahnya terkena tendangan kaki dari salah satu laki-laki itu.


Sedari tadi Nadia hanya menggunakan tangannya untuk menangkis segala serangan yang diarahkan padanya. Saat ini dia mencoba meredam emosinya agar tak kalap dan salah perhitungan. Segera saja dia mulai melakukan perlawanan kepada empat orang laki-laki yang ada didepannya itu.


"Rasakan ini, kalian pikir melawanku akan semudah melawan perempuan lain" seru Nadia dengan mengarahkan tendangannya kearah dada keempat orang laki-laki itu secara bergantian.


Dugh... Dugh... Dugh... Dugh...


Arrgghhhh....


"Sialan... Berani-beraninya kau memukul kami. Dasar perempuan jadi-jadian" seru salah satu seorang laki-laki itu.


"Bodo amat, kalian yang nyerang saya duluan. Maka rasakan ini akibatnya... Ciattttt...." seru Nadia.


Nadia masih terus menggunakan kaki dan tangannya untuk menyerang keempat laki-laki itu tanpa ampun. Terjadi pertarungan sengit antara dua kubu itu apalagi empat orang laki-laki melawan satu orang gadis membuat perlawanan itu tentunya tak seimbang. Namun tiba-tiba saja...


Bugh...

__ADS_1


Arrrghhhh....


__ADS_2