Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Ketegangan 2


__ADS_3

Melihat wajah pucat dan panik dari Argio merupakan hiburan bagi Nenek Hulim. Ia tak menyangka jika jiwa-jiwa iblisnya saat muda akan keluar kembali di saat ia sudah tua seperti ini. Tak mendengar jawaban apapun dari Argio tentu membuatnya sedikit tahu jika laki-laki itu gugup karena melihat dirinya berada di kota ini.


"Maksud kau apa meminta bantuan padaku untuk melancarkan kasusmu melawan keluarga Andre dengan cerita bohongmu itu?" tanya Nenek Hulim langsung.


Deg...


Jantung Argio rasanya seperti akan melompat dari tempatnya. Benar dugaannya jika Nenek Hulim ke kantor polisi untuk membicarakan kasusnya dengan keluarga Andre. Terlebih saat ini dirinya berada disini juga, pasti Nenek Hulim juga akan mengkonfirmasi siapa yang sebenarnya bersalah.


Sepertinya ia harus berhati-hati dalam berbicara sebelum dia nanti malah di ultimatum oleh wanita paruh baya itu. Selain karirnya hancur, pasti semua keluarganya juga akan merasakan imbasnya terutama Ica. Ia tak mau hal itu terjadi jadi sebisa mungkin harus bisa meyakinkan Nenek Hulim agar tetap berpihak padanya.


Kini dengan tiba-tiba Nenek Hulim langsung duduk di kursi sofa yang digunakan untuk tamu yang datang. Begitu pula dengan Andre, Papa Reza, Papa Nilam, dan pengacara yang sedari tadi berdiri mengikuti Nenek Hulim duduk.


"Jangan bercanda, nyonya. Sedari awal saya tak pernah berbohong kepada anda tentang kasus anak saya ini. Mereka yang bersalah makanya saya meminta bantuan anda. Bahkan nyonya saja sudah sangat lama mengenal bagaimana saya, tak mungkin saya berani membohongi anda. Jangan percaya pada orang baru, nyonya" ucap Argio meyakinkan.


Walaupun ada keyakinan dan ketegasan begitu besar saat Argio menjelaskannya, namun tatapan mata laki-laki itu menggambarkan sebaliknya. Argio terlihat ragu-ragu untuk berbicara jujur bahkan kelihatan sangat panik. Ia terlihat memikirkan sesuatu setelah mengucapkan kalimat itu.


"Keluarga dan saudara saja bisa jadi pengkhianat kalau sudah menyangkut harta dan kekuasaan. Apalagi orang kepercayaan, bisa jadi karena terlalu dipercaya bisa keenakan dan menyalahgunakan tugasnya" ucap Nenek Hulim dengan sinis.

__ADS_1


Andre tak menyangka jika Nenek Hulim yang ia kira lemah lembut ternyata ucapannya sepedas ini. Bahkan hampir sama dengan Nadia dan Mama Anisa. Namun ada benarnya juga apa yang diucapkan oleh Nenek Hulim jika saudara saja bisa berkhianat apalagi ini orang terdekatnya.


Argio sudah tak bisa berkata-kata lagi, setiap kali dirinya berbicara maka akan mengundang kemarahan dari Nenek Hulim. Akhirnya ia lebih memilih diam daripada nanti masalahnya akan semakin runyam. Nenek Hulim masih menatap sinis kearah Argio yang terduduk dengan gelisah di kursinya.


"Pak kepala, saya minta kasus mengenai Arnold anak dari Bapak Andre ini untuk disegerakan penyelesaiannya. Yang salah wajib dihukum seberat-beratnya, kali ini saya takkan membacking siapapun termasuk dia. Jadi tolong untuk keadilan bagi korban yang notabene mengalami trauma berat atas kejadian itu" putus Nenek Hulim sambil menunjuk kearah Argio.


"Kalau memang anaknya bersalah serta keluarganya menghalang-halangi, tembak saja itu kepala mereka" lanjutnya.


Argio benar-benar terkejut dengan keputusan yang diambil oleh Nenek Hulim. Ia hanya bisa meneguk salivanya kasar saat melihat tatapan garang dari Nenek Hulim dan kepala polisi itu. Sedangkan Andre dan keluarganya kini sedikit bernafas lega karena mungkin sebentar lagi kasus ini akan dapat titik terangnya.


Terlebih sepertinya Nenek Hulim juga baru tahu tentang kebenarannya.Kalau sudah tahu dari awal, mungkin ia akan membantu orang yang sebagai korbannya. Sepertinya memang otak licik dari Argio lah hingga Nenek Hulim tak bisa membedakan mana orang baik dan yang hanya memanfaatkan saja.


"Tapi nyonya, saya ini orang kepercayaan anda lho. Masa anda menarik bantuan yang sudah diberikan kepada saya" ucap Argio membujuk agar Nenek Hulim membatalkan niatnya.


Nenek Hulim melengos namun malah menatap kepala polisi yang masih berdiri dengan kikuknya. Disini sepertinya malah Nenek Hulim lah yang berkuasa dibandingan dengan laki-laki itu. Tak berapa lama ruangan itu penuh keheningan, Nenek Hulim berdiri diikuti oleh semua orang disana.


"Ingat... Percepat prosesnya, setidaknya minggu ini semua berkas harus sudah dilimpahkan ke pengadilan. Bilang sama si Teo untuk memberikan keputusan seadil-adilnya, yang salah harus dihukum dengan berat. Saya sudah mempunyai bukti kejahatan anak Gio, kalau sampai keputusannya melenceng akan ku pastikan kalau tempat ini rata dengan tanah" ucap Nenek Hulim.

__ADS_1


"Dan buat kamu Gio, tim dari perusahaan akan memeriksa semua pekerjaanmu dan menelusuri keuangan ganjil yang ada didalam perusahaanku. Sampai proses itu selesai, jangan pernah kau menggunakan fasilitas kantor dan terlihat ada di perusahaan atau bisnisku yang lain" lanjutnya.


Setelah mengucapkan hal itu, Nenek Hulim pergi berlalu dari ruangan kepala polisi diikuti oleh Andre, Papa Nilam, Papa Reza, dan kepala polisi. Kelima orang itu melengos keluar dari ruangan meninggalkan Argio yang kini berdiri mematung. Kedua tangannya mengepal erat mendengar ultimatum yang dilayangkan kepadanya.


Bayang-bayang kehancuran karirnya dan kehidupan keluarganya yang akan berakhir di jalanan langsung berputar dalam pikirannya. Hal ini membuat otaknya mendadak kosong dan kacau. Ia segera melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menyusul Nenek Hulim.


Sialnya... Saat Argio sampai di halaman, ternyata Nenek Hulim dan keluarga Andre sudah berada di parkiran mobil. Bahkan mobil perusahaan yang ia parkirkan di sebelahnya sudah tak ada disana. Sontak saja ia panik, namun otaknya masih lah bekerja bahwa tak mungkin ada pencuri di kantor polisi.


"Mobil yang ku bawa tadi kemana?" teriak Argio frustasi.


Semua yang ada disana sontak saja melihat kearahnya kecuali Nenek Hulim yang langsung melengos masuk kedalam mobil. Terlihat sekali kalau Argio begitu frustasi dengan kejadian yang mendadak menimpanya hingga membolak-balikkan kehidupannya. Melihat Nenek Hulim sudah berada dalam mobil, Andre segera masuk diikuti oleh Papa Nilam dan Papa Reza.


Mobil milik Andre segera dinyalakan kemudian kendaraan itu mendekat kearah Argio yang mengacak-acak rambutnya frustasi didepan pintu masuk kantor polisi. Andre menghentikan mobilnya sesuai dengan perintah Nenek Hulim, kemudian wanita paruh baya itu membuka kaca jendelanya.


"Kau tak perlu pusing mikirin mobil perusahaan yang hilang. Karena mobil dan semua fasilitas yang diberikan oleh perusahaanku sudah ku tarik. Jadi silahkan nikmati kebodohanmu itu" ucap Nenek Hulim dengan sinis.


Mobil milik Andre langsung melaju meninggalkan Argio yang menatapnya tak percaya mendengar ucapan Nenek Hulim. Ia tak menyangka jika Nenek Hulim bisa secepat ini melakukan sesuatu untuk menjatuhkannya.

__ADS_1


__ADS_2