
"Alan, jangan teriak-teriak. Nanti ganggu anak-anak lain yang mau test dan sibuk belajar" tegur Nadia sambil menunjuk beberapa anak yang memang masih duduk di luar ruangan sambil belajar.
Alan langsung mengedarkan pandangannya kearah area dekat ruangan. Memang benar adanya disana masih banyak calon siswa baru yang sedang belajar bahkan ditemani oleh orangtuanya. Bahkan ada juga yang duduk sambil sarapan. Alan masih mengedarkan pandangannya mencari sosok yang selama satu minggu menjadi sahabatnya.
"Halusna belajal tu di lumah, napain uga dicini" ucap Alan tak peduli.
Bahkan ia tak peduli dengan ucapannya yang begitu keras hingga membuat hampir semua orang menatap kearahnya. Bahkan ada beberapa anak yang langsung menyimpan bukunya dalam tas kemudian pergi dari sana diikuti oleh orangtuanya. Bahkan orangtuanya langsung menatap sinis kearah Alan yang acuh pada keadaan sekitar.
Nadia dan Mama Anisa hanya bisa menutup wajahnya dengan tas yang dibawanya karena semua orang menatap kearah mereka. Sedangkan Alan yang menjadi tersangkanya langsung saja duduk di kursi depan ruangan sambil memakan kue yang ada didalam tas kecilnya.
"Napa ihat-ihat? Mau cama tue aku? Beli don, macak inta" ucap Alan sambil mengerucutkan bibirnya saat hampir semua orang menatapnya dengan intens.
Mereka semua melengos kemudian memilih acuh atas tingkah Alan si bocah kecil yang begitu aktif itu. Bahkan mereka berusaha menulikan telinga demi menjaga hati dan mulut agar tak mengumpati anak kecil. Tak berapa lama, tanda masuk untuk semua calon siswa baru sudah dibunyikan. Semua calon siswa baru segera memasuki ruang test dengan yang menunggu berada di luar.
"Alan, kamu diam ya. Jangan berisik" ucap Mama Anisa memperingati.
Alan menganggukkan kepalanya kemudian melanjutkan kegiatannya sambil menunggu Gracia. Sudah beberapa hari mereka sering berbincang lewat video call dan kali ini keduanya akan bertemu di sekolah kakaknya. Namun saat waktu test sudah dimulai, Gracia belum juga datang. Hal ini membuat Alan tampak lesu duduk di kursinya.
"Unda, Alan dalau lho ini. Ndak ada yan mau ngehibul Alan ditu?" tanya Alan dengan menopangkan dagunya pada kedua tangannya.
"Emangnya Alan galau kenapa?" tanya Mama Anisa menanggapi.
__ADS_1
"Cia, wewek Alan elum atang nih lho. Alan tan cudah lindu belat" ucap Alan dengan wajah disedih-sedihkan.
Mama Anisa dan Nadia hanya bisa mengelus dadanya sabar saat mendengar ucapan dari Alan itu. Terlebih Mama Anisa yang sudah ingin menampol wajah Alan yang terlihat sudah sok dewasa itu. Ia begitu gemas melihatnya bahkan sudah seperti si Arnold saat dulu dekat dengan Nilam.
"Angan lindu atuh, belat. Bial atuh saja" ucap seseorang dari samping Alan.
Seseorang itu adalah Gracia yang notabene seseorang yang sedang dinanti oleh Alan. Gracia yang memang mendengar ucapan bernada sendu dari Alan langsung saja menanggapinya. Hal ini membuat Alan langsung mengalihkan pandangannya kearah suara seseorang yang dikenalnya itu.
"Wah... Cia atang. Elat nih, tan Alan cudah lindu cama tamu" ucap Alan dengan malu-malu.
Nadia dan Mama Anisa saling pandang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Alan. Terlebih kini wajahnya sudah memerah karena malu dan salah tingkah. Melihat ucapan Gracia juga ternyata mereka memang sefrekuensi. Astaga... Anak-anak jaman sekarang, hanya bisa membuat mereka mengelus dada.
Bahkan kini Alan langsung menggandeng Gracia untuk duduk di area taman bermain yang tak jauh dari para orangtua yang sedang menunggu. Bahkan hampir semua orang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anak kecil itu. Namun mereka sedikit iri dengan keduanya yang bisa cepat akrab tak seperti anak-anaknya yang susah bersosialisasi dengan orang baru.
***
Hampir dua jam test masuk sekolah dilaksanakan, ada beberapa calon siswa baru yang sudah keluar dari ruangannya. Sistem test disini memang jika yang sudah selesai bisa langsung keluar dari ruangannya jika yakin dengan jawabannya. Alan yang sudah mulai mengantuk karena menunggu lama pun langsung gelendotan pada sang bunda. Begitu pula dengan Gracia yang sudah ada dalam gendongan pengasuhnya.
"Abang mana cih? Tenapa ama anget? Apa cucah coalna ya? Bial Alan cuculin aja ah, cekalian antuin" ucap Alan yang kemudian melepaskan pelukannya dari sang bunda.
Nadia yang mendengar hal itu langsung saja mencegah Alan dengan menarik tangannya. Nadia takkan membiarkan anaknya itu membuat keributan dengan memanggil kakaknya agar segera keluar. Terlebih masuk dan membantu kakaknya, yang ada nanti malah Arnold yang kena getahnya.
__ADS_1
"Jangan, nak. Nanti pasti sebentar lagi abang selesai kok" ucap Nadia mencegah.
Namun dengan pintarnya Alan berkelit sehingga bisa terlepas dari genggaman tangan sang bunda. Bahkan kini Alan berlari masuk kedalam ruangan test Arnold dengan Nadia dan Mama Anisa langsung saja mengejarnya. Aksi itu ternyata mengundang tawa dari banyak orang disana.
"Abang, tepetan keljainna. Alan dah antuk nih" protes Alan yang langsung berdiri didepan ruangan.
Semua orang yang ada didalam ruangan itu sontak mengarahkan pandangannya ke depan ruangan. Lihat saja bocah kecil itu tanpa takutnya berkacak pinggang sambil menatap abangnya yang menatapnya dengan kesal. Arnold sedang memeriksa jawabannya sebelum nanti keluar dari ruangan, namun Alan sudah merusuhinya.
"Macak ngeljain coal ditu aja lama. Cini bial Alan aja yang keljain" ucapnya yang kemudian mendekat kearah tempat duduk abangnya.
Arnold dengan sigap berdiri kemudian mengumpulkan kertas yang ada ditangannya kepada pengawas test. Pengawas itu tak bisa berbuat apa-apa karena memang yang ada di ruangan itu hanya ada beberapa penjaga dan Arnold saja. Sedangkan yang lainnya sudah keluar saat Alan memasuki ruangan itu.
"Maaf ya, bu. Adik saya ini belum minum obat makanya rusuh seperti ini" ucap Arnold meminta maaf kepada pengawas disana.
Batas waktu ujian adalah 3 jam sehingga Arnold santai ingin menghabiskan waktunya itu agar semua jawabannya ia yakini benar. Namun apalah daya jika sudah ada pengganggu yang datang untuk memintanya segera keluar. Alan pun langsung digandeng oleh Arnold agar keluar dari ruangan test.
Nadia dan Mama Anisa yang menunggu didepan pintu juga langsung menundukkan kepalanya sedikit. Pertanda bahwa mereka meminta maaf atas keributan yang dibuat oleh anaknya itu. Beruntung beberapa pengawas itu memaklumi apa yang dilakukan oleh Alan.
"Alan, besok-besok jangan seperti itu lagi ya. Kalau kamu kaya gitu lagi mending nggak usah ikut" tegur Nadia.
Alan hanya menganggukkan kepalanya didalam gendongan Nadia. Alan pun yang memang sudah mengantuk dan kelelahan langsung terlelap dalam gendongan bundanya. Sedangkan Arnold menggandeng tangan Mama Anisa untuk segera berlalu pergi dari sekolah. Nilam yang juga melaksanakan test disana pun sudah pulang bersama dengan papanya yang menjemput.
__ADS_1