Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Fakta Baru


__ADS_3

Kini didalam ruang rawat inap Arnold hanyalah ada anak-anak saja, sedangkan para orang dewasa sedang keluar untuk makan siang. Awalnya Nadia dan Andre akan tinggal disana namun diusir oleh Alan juga yang lainnya.


"Yebih aik talian akan ciang ulu, ita beltiga yan kan again bang Anol. Pelcaya cama ita talo bang kan aik-aik aja" ucap Alan meyakinkan.


Arnold yang kondisinya sudah terlihat baik-baik saja pun dengan senyumnya meyakinkan para orangtua untuk makan siang keluar. Akhirnya dengan pasrah mereka keluar dari ruang rawat inap dengan pesan jika terjadi sesuatu haruslah memencet tombol yang ada diatas brankar Arnold.


"Bang, kacih de Alan don uat ekat-ekat cama wewek" ucap Alan dengan menatap serius ke kakaknya.


"Alan masih kecil ndak boleh genit. Minum susu aja masih pakai dot terus popok juga" ledek Anara.


Alan mencebikkan bibirnya kesal karena diledek oleh kakaknya itu. Pasalnya dia ingin seperti Arnold yang di usianya masih belum genap 5 tahun dulu sudah dekat dengan Nilam. Padahal waktu itu kakaknya masih pakai popok dan dot seperti yang diceritakan oleh Mama Anisa. Tapi kini kakaknya yang perempuan malah meledeknya membuatnya kesal.


"Ndak usah ngomong itu karena Alan memang masih belum boleh mengenal gituan" ucap Arnold dengan bijak.


Tumben... Satu hal yang terlihat dalam pikiran ketiganya saat mendengar jawaban dari Arnold. Entah dapat hidayah dari mana saudara mereka itu bisa mengucapkan kata-kata yang dewasa seperti itu. Padahal biasanya ia lah yang paling semangat jika sudah menyangkut dengan pembahasan seorang cewek.


"Biarlah Arnold yang jelek di mata orang-orang, asalkan saudara abang enggak" lanjutnya.


Alan dan kedua kakak perempuannya begitu tercengang dengan ucapan Arnold. Bahkan melihat wajahnya yang terlihat sendu membuat mereka yakin jika kakaknya itu menyimpan sesuatu yang tak diketahui oleh orang dewasa.


"Adek kenapa? Cerita dong sama kita, sebenarnya apa yang terjadi" ucap Abel dengan dewasanya memeluk adiknya dari samping.


Tanpa mengucapkan apapun, Arnold memeluk erat kakaknya itu kemudian terdengar isakan lirih. Abel mencoba tak panik saat menghadapi adiknya yang kini sedang sedih. Sedangkan Anara dan Alan menatap sendu saudaranya yang terbelenggu banyak kesedihan setelah kejadian kemarin.

__ADS_1


"Huhu waktu Arnold dipukul kakinya kemarin, ibu guru bilang kalau anak nakal dan pecicilan kaya Arnold nggak boleh sekolah. Bahkan nggak pantas punya teman dan saudara yang banyak. Nanti bisa-bisa teman atau saudaranya akan malu kalau dekat dengan Arnold. Jadi adek nggak boleh jadi kaya abang biar nggak malu-maluin bunda dan papa" ucap Arnold sambil menangis.


Satu fakta terungkap kembali di saat Arnold mulai teringat akan kejadian di sekolah itu. Ternyata ucapan gurunya yang terucap membuat mental anak itu terguncang. Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada dua orang dibalik pintu yang mendengarkan ucapan terakhir Arnold. Bahkan dengan sigap merekamnya untuk dijadikan bukti walaupun tangannya yang memegang ponsel gemetaran mendengar fakta itu.


"Kita nggak malu dan selalu bangga sama adek. Jangan dengarin kata orang yang bahkan baru kenal kamu satu hari saja. Iya kan Alan, Nara?" ucap Abel menenangkan adiknya.


"Ya don, ita angga unya codala taya bang" ucap Alan yang kemudian ikut memeluk kakaknya.


Begitu pula dengan Anara, mereka berempat saling berpelukan untuk menyalurkan rasa aman dan nyaman kepada saudaranya yang tengah kalut dengan pikiran juga perasaannya. Ketiga saudaranya itu berusaha meyakinkan Arnold bahwa dia tak seperti apa yang diucapkan orang itu. Arnold adalah saudara terbaik untuk ketiganya.


***


"Astaga... Ternyata ucapan mereka itu nggak bisa di filter sama sekali sampai anakku seperti itu" ucap Nadia kesal.


Namun tanpa disangka mereka malah menemukan satu fakta baru yang membuat keduanya tercengang dan Nadia dengan sigap merekamnya. Video CCTV yang ditampilkan memang hanya gambar tak ada suaranya sehingga tak tahu apa yang dikatakan guru itu pada Arnold.


"Aku juga akan merusak mental dua orang guru itu biar rasakan ucapan pedas seorang Nadia" kesalnya.


Sedangkan Andre kini sedang berusaha menahan emosinya. Rasanya ia sudah tak tahan mendengar fakta-fakta lain mengenai kejadian itu. Terlebih anaknya yang jika dimintai penjelasan akan berakhir menangis dan histeris. Andre mengacak-acak rambutnya frustasi dengan kasus anaknya yang begitu rumit ini.


"Angkatlah dulu, mas" titah Nadia saat melihat ponsel suaminya berdering.


Nadia segera duduk didepan ruang rawat inap Arnold kemudian mengangkat panggilan yang masuk pada ponselnya. Terlihat jika Andre begitu terkejut setelah berbincang panjang lebar dengan orang di seberang sana. Setelah selesai dengan panggilannya itu, Andre segera mendekat kearah sang istri yang masih menunggunya dengan tatapan penasaran.

__ADS_1


"Ica sama Dinda itu sudah ditetapkan sebagai tersangka bahkan mereka ditahan" ucap Andre dengan tersenyum lega.


Nadia juga merasa lega akhirnya perjuangan mereka untuk mendapatkan keadilan mendapatkan titik ujungnya. Namun jangan harap hukuman mereka hanya sampai jeruji besi saja, ia akan memberinya tambahan dengan merusak mentalnya agar merasakan seperti apa tersiksanya Arnold.


"Kita kapan disuruh kesana?" tanya Nadia tak sabar.


"Nanti sekitar jam 2 kita disuruh kesana untuk menandatangi berkas juga keterangan lainnya" ucap Andre.


"Aku ikut" ucap Nadia cepat.


Andre melihat Nadia dengan tatapan yang sulit diartikan. Wajah Nadia menyiratkan sebuah rencana yang tak main-main untuk menghancurkan orang yang telah merusak mental anaknya. Dia sampai bergidik ngeri sendiri melihat istrinya yang sulit ditebak pikirannya seperti sang mama.


"Baiklah, asal jangan buat keributan disana" peringat Andre.


"Aku takkan buat keributan hanya mungkin otak pelaku aja yang jadi keriting karena bertemu denganku" ucap Nadia dengan sinis.


Tuh kan, ucapan Nadia dengan suaminya saja sudah menusuk jantung dan hatinya apalagi nanti pada pelakunya langsung. Bahkan kini Nadia sudah melenggang masuk dalam ruang rawat inap Arnold meninggalkan dirinya yang masih terbengong.


"Ndre, apa benar pelakunya sudah ditangkap?" tanya Mama Anisa yang baru saja datang dengan wajah terburu-buru.


"Iya, ma" jawab Andre singkat.


"Kalau begitu mama akan ikut ke kantor polisi menemui mereka disana" ucap Mama Anisa cepat.

__ADS_1


Bahkan tanpa mempedulikan dirinya yang terkejut, Mama Anisa langsung saja masuk ke ruangan Arnold. Andre dan Papa Reza yang ditinggalkan begitu saja saling menatap seolah mengisyaratkan bahwa keduanya seakan pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti di kantor polisi.


__ADS_2