
Sejak kepulangan Nenek Darmi dari rumah keluarga Farda kemarin malam, ia amat merasa bersalah kepada Andre. Gara-gara dirinya membuat Andre marah kepada istrinya walaupun sebenarnya tujuannya baik. Kini Nenek Darmi memilih rebahan di kamar yang selama puluhan tahun dihuninya itu. Dirinya menerawang masa lalu mengenai anaknya yang kini tak mau menemani dan merawat dirinya di masa tua.
Nenek Darmi yang memang seorang janda ditinggal meninggal oleh sang mendiang sang suami sejak usia anaknya masih 8 tahun. Ia merawat dan memberikan semua yang terbaik unuk anak satu-satunya itu dengan bekerja di kediaman keluarga Farda. Disana ia merawat seorang anak kecil bernama Andre yang waktu itu masih bayi karena orangtuanya jarang berada di rumah.
Nenek Darmi bahkan mendukung pasangan suami istri keluarga Farda itu untuk bisa sukses dengan tak menerima upah saat ekonomi mereka masih dibawah. Pengabdiannya selama beberapa tahun terbayar dengan gaji yang diberikan oleh Mama Anisa setelah usaha mereka perlahan merangkak. Ia mengasuh Andre bersamaan dengan menjaga sang anak sehingga keduanya bahkan sudah seperti kakak adik.
"Ibu ikut tinggal sama kalian ya. Disini ibu hanya sendiri" ucap Nenek Darmi pada anak dan menantunya.
"Nggak bisa, bu. Kami disana masih mengontrak dan tempatnya juga kecil. Besoklah kalau kami sudah sukses dan punya rumah sendiri baru lah ibu tinggal bersama kami" tolak anak Nenek Darmi.
Saat anaknya sudah menikah, Nenek Darmi ingin sekali tinggal bersama dengan anak dan menantunya. Namun sang anak menolaknya dengan berbagai alasan padahal Nenek Darmi tahu jika anak satu-satunya itu sudah bergaji besar. Ia pernah melihat slip gaji anaknya yang tak sengaja ia dapatkan saat sedang mencuci kemejanya. Disana juga tertulis jabatan anaknya sebagai manager beserta gaji yang mencapai dua digit.
Nenek Darmi pun mengalah akhirnya memilih untuk tetap tinggal bersama di rumahnya dengan mendiang sang suami dulu. Ia juga masih bekerja di rumah Keluarga Farda namun hanya beberapa jam saja karena fisiknya tak sekuat dulu. Setelah keluar dari bekerjanya, Nenek Darmi hidup dari penghasilan orang yang mengontrak sebelah rumahnya. Sedangkan anaknya sama sekali tak pernah memberinya uang untuk kehidupan di masa tuanya itu.
Selama anak dan menantunya pindah itu hanya sekali mereka menjenguk Nenek Darmi. Setelahnya hingga sekarang mereka tak pernah muncul dihadapan Nenek Darmi. Bahkan untuk sekedar berkomunikasi saja tidak karena memang wanita tua itu tak mempunyai ponsel dan nomor anaknya. Ia pernah sekali ingin datang ke rumah kontrakan anaknya hingga dibantu oleh Papa Reza namun penolakan lah yang ia dapatkan.
"Ngapain sih ibu kesini? Kami disini hanya bekerja jadi pembantu dan penjaga rumah, bisa dipecat kami kalau ketahuan bawa orang" ucap sang menantu dengan judesnya.
Bukan rumah kontrakan yang kami dapatkan saat tahu alamat tempat tinggal mereka. Namun rumah mewah dengan dua lantai lah yang diperkirakan itu adalah milik anak dan menantunya. Ia dan Papa Reza waktu itu sudah menanyakan tentang kepemilikan rumah itu kepada satpam perumahan. Namun saat mereka kesana justru keduanya mengaku kalau hanya bekerja disana.
__ADS_1
Semenjak saat itu, Nenek Darmi sudah tak lagi tahu tentang bagaimana kabar dan keadaan anak juga menantunya. Hanya Keluarga Farda lah yang selalu menjenguknya bahkan menganggapnya sebagai orangtua. Saat Andre marah padanya hingga mengatakan tentang dirinya hanya orang luar membuatnya kini sadar bahwa hidupnya sudah tak punya siapa-siapa.
"Kalau aku nanti meninggal, siapa yang akan mendo'akanku?" gumamnya.
Tanpa sadar air mata keluar dari sudut matanya mengingat bahwa tak ada sanak keluarga yang dekat dengannya. Bahkan ia mengingat kalau suatu saat ia meninggal tak ada yang mendo'akannya atau mengingatnya lagi. Didalam kamar yang begitu hening ini dirinya meluapkan segala rasa sesak yang ada.
Tok... Tok... Tok...
Saat dirinya masih melamun bahkan merenungi semua kisah masa lalunya, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu rumahnya. Nenek Darmi tersentak kaget bahkan langsung bangun dari baringannya. Ia segera mengusap air mata yang membasahi matanya itu kemudian berjalan keluar kamar. Ada sedikit rasa bingung saat tamu datang begitu pagi seperti ini.
Ceklek...
Bocah kecil itu sendiri tak lain adalah Alan. Alan datang bersama dengan Arnold juga Nadia. Mereka sengaja datang pagi-pagi kesini setelah sarapan tadi karena ajakan Alan yang ingin menghibur Nenek Darmi. Bahkan Alan begitu cerianya melangkahkan kakinya karena akan bertemu dengan Nenek Darmi.
"Halo Alan anteng..." ucap Nenek Darmi sambil tertawa.
"Wah... Akhilna ada yan ilang Alan anteng. Biacana tan pada ilang talo Alan tu mumut dan emas" ucap Alan begitu girangnya.
"Salim dulu sama neneknya, dek" tegur Nadia memberi perintah pada sang anak.
__ADS_1
Alan menganggukkan kepalanya kemudian mencium punggung tangan Nenek Darmi begitu juga dengan Arnold dan Nadia. Keempatnya segera saja duduk di kursi teras rumah Nenek Darmi dengan dua bocah kecil itu langsung memegang toples cemilan masing-masing.
"Kalian kesini katanya mau menghibur nenek, kok sekarang malah sibuk sama makanan sih" ucap Nadia sambil geleng-geleng kepala.
"Nenek kedatangan kami saja sudah terhibur kok, iya kan?" tanya Arnold meminta persetujuan Nenek Darmi.
Nenek Darmi menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan dari Arnold. Kedatangan mereka memang sebagai hiburan bagi Nenek Darmi yang tadi merasakan kesepian. Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala karena kedua anaknya itu pintar sekali membuat alasan.
"Nenek bagia Ala atang. Ami uga utuh bagia engan dikacih cimilan" ucap Alan sambil terus memasukkan sebuah kue kacang kedalam mulut kecilnya.
"Nenek angan cedih-cedih agi ya talo dimalahin papa. Bial anti Alan yan omelin alik tuh papa, ndak copan cekali. Halus belajal copan cantun agi tuh papa" lanjutnya menenangkan Nenek Darmi.
Nenek Darmi tersenyum mendengar celotehan Alan. Ia tak merasa marah pada Andre, hanya sedikit sedih saja karena harus ada masalah dengan satu-satunya keluarga yang ia punya. Terlebih dalam masalah ini ia sedikit ikut andil sehingga haruslah menerima konsekuensinya.
"Maafkan Andre ya, nek. Dia memang otaknya agak miring kalau cemburu" ucap Nadia tak enak hati sambil bercanda.
"Tak apa, lagi pula wajar kalau Andre cemburu. Kan biasanya cemburu itu tanda cinta" ucap Nenek Darmi terkekeh pelan.
Nadia salah tingkah mendengar ucapan dari Nenek Darmi membuat wanita tua itu malah tertawa melihat sikap malu-malu istri Andre itu. Sedangkan kedua bocah kecil itu malah asyik berbagi cemilan yang berbeda dengan saling suap-suapan. Kedua wanita yang ada dihadapannya begitu gemas dengan tingkah mereka yang begitu lucu.
__ADS_1