
Anak-anak dibiarkan tidur di dalam rumah Nenek Darmi bersama dengan Mama Anisa, Nadia, dan istri Febri. Sedangkan Nenek Darmi yang enggan untuk tidur siang masih duduk di teras bersama dengan yang laki-laki dewasa. Tadi sempat Papa Reza menanyakan nama ibu dan ayah dari Zunai juga Ega pada gadis cilik itu.
"Agustina Dewi atau biasa dipanggi Ibu Dewi kalau ayah namanya Lukman Adiwiharya. Itu kata tetangga sebelah rumah soalnya kami belum bisa baca ktp dan beberapa tulisan yang ditinggalkan oleh mereka" ucap Zunai menjelaskan.
Setelah mendengar jawaban dari Zunai, sontak saja Papa Reza dan Nenek Darmi saling pandang seakan mengetahui sesuatu. Mata keduanya berbinar cerah seakan tahu bahwa ini semua akan sangat mudah bagi mereka mendapatkan hak asuh wali untuk Zunai dan Ega. Walaupun ibu dari mereka sudah meninggal.
"Nanti saat pulang biar Reza cek semua yang dibawa dalam kantong plastik mereka. Siapa tahu ada petunjuk dimana tempat si Lukman itu" putus Papa Reza.
"Pa, sebenarnya ada apa? Apa ada yang aneh dengan identitas dari orangtua Zunai dan Ega?" tanya Andre yang begitu penasaran saat tadi melihat papanya itu bertanya pada kedua anak angkatnya itu.
Papa Reza terlihat seperti tengah menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Ia menatap wajah Nenek Darmi dan Andre secara bergantian. Ia seperti ragu untuk mengungkap siapa orang yang dulu menjadi salah satu penyemangat dalam hidupnya itu.
"Agustina Dewi... Agustina Dewi Farda lebih tepatnya. Dia adik kandung papa yang umurnya diatas kamu sedikit, Ndre. Jarak antara umur papa dan dia itu memang sangat jauh bahkan hampir 19 tahun, itu pun nenek hamil saat diumurnya yang hampir menginjak 40 tahun. Dulunya orangtua papa itu meninggal saat adanya kecelakaan beruntun di jalan tol nah waktu itu nenek hamil besar dan melahirkan darurat di rumah sakit. Semenjak dilahirkan, papa hanya mengunjungi Dewi itu beberapa kali saja karena dia dirawat oleh saudara jauh papa yang kehidupannya lebih mapan. Apalagi papa saat itu baru saja menikah dan ekonominya belum stabil sehingga dengan berat hati mengijinkan Dewi dirawat mereka" ucap Papa Reza menceritakan semuanya.
Ada raut sendu pada wajahnya saat mengingat sang adik yang bahkan hanya ia kunjungi setiap 3 atau 6 bulan sekali karena harus sibuk dengan pekerjaannya. Papa Reza sudah berjanji jika suatu saat nanti ia sukses, ia akan langsung menjemput Dewi agar bisa tinggal dengannya. Namun naas... Saat umur adiknya itu 19 tahun, Dewi dinyatakan hilang di gunung karena mengikuti kegiatan kampusnya.
__ADS_1
Sudah segala cara keluarga lakukan namun tetap saja tak membuahkan hasil. Bahkan Papa Reza sudah menuntut pihak kampus karena adanya kegiatan ini namun dirinya malah disuruh mengikhlaskan kalau kemungkinan Dewi itu sudah meninggal. Papa Reza pun akhirnya hanya bisa memilih untuk mengikhlaskan kepergian adik kandungnya itu dengan membawa penyesalan. Setelah itu saudara jauh Papa Reza memilih untuk berpindah rumah entah kemana karena semenjak kejadian itu mereka seakan putus komunikasi.
Andre yang mendengar kisah dari papanya itu pun langsung memeluk Papa Reza dari samping. Bahkan sampai umurnya kini yang sudah menginjak 30 tahun, dirinya tak mengetahui kisah ini. Papanya sangat menutup rapat cerita ini untuk menghilangkan penyesalan yang ada dalam hatinya. Kalau benar Dewi yang dimaksud itu adalah adik kandung Papa Reza, sudah pasti penyesalannya akan bertambah karena melihat keadaan dua keponakannya yang begitu miris.
"Nanti kita cari sama-sama ya, pa. Untuk mengetahui semuanya, kita lihat plastik besar yang selalu dibawa Zunai itu. Siapa tahu disana ada petunjuk, lalu apa papa tahu mengenai Lukman itu?" tanya Andre dengan tatapan penasarannya.
Papa Reza menjawab dengan gelengan kepalanya. Toh yang pasti Lukman itu adalah suami dari Dewi yang perlu ia selidiki identitasnya lebih dalam. Akhirnya mereka mulai berbincang santai setelah mengakhiri semua perbincangan serius itu. Mereka menghabiskan waktu hingga sore hari di rumah Nenek Darmi.
***
Mereka sudah membersihkan diri setelah pulang dari rumah Nenek Darmi bahkan kini semuanya tengah berkumpul di ruang keluarga. Kecuali Nadia dan Mama Anisa yang sedang menyiapkan makanan untuk makan malam di dapur. Zunai pun menganggukkan kepalanya kemudian membawa satu kantong plastik yang ia letakkan di kamar tamu itu.
"Ini kakek" ucap Zunai dengan menyerahkan kantong plastik itu pada Papa Reza.
Papa Reza dan Andre segera saja memeriksa semua isi dari kantong plastik besar itu. Ada beberapa pakaian ganti juga beberapa kertas disana yang dibungkus sebuah plastik bening. Papa Reza langsung saja mengambil plastik bening itu kemudian membaca beberapa kertas berisi fotocopy kartu keluarga, KTP, dan beberapa surat yang tulisannya sudah pudar.
__ADS_1
Mata Papa Reza berkaca-kaca karena ternyata dugaannya benar kalau Dewi yang dimaksud adalah adik kandungnya sendiri. Bahkan di fotocopy KTP yang dipegangnya ini sudah tertulis jika dia mempunyai marga keluarga Farda. Ternyata Zunai dan Ega adalah keponakannya sendiri. Namun mengapa adiknya itu tak mencarinya saja kalau sedang kesusahan? Lalu siapa yang dimaksud budhe oleh Zunai itu?.
"Kalian itu keponakanku" ucap Papa Reza yang langsung menarik Zunai dan Ega masuk dalam pelukannya.
Bahkan Papa Reza langsung menciumi pucuk kepala kedua bocah kecil yang terlihat kebingungan itu. Harusnya mereka memanggilnya dengan sebutan om atau paman bukan kakek. Dirinya sungguh bahagia, walaupun adiknya sudah tiada namun ia meninggalkan dua bocah kecil ini untuk ia rawat sehingga penyesalannya sedikit berkurang.
"Hei... Alan, kamu sekarang kamu nggak bisa dipanggil abang lagi sama Ega. Ega itu paman kalian dan Zunai adalah tante" ucap Andre tiba-tiba.
Tentunya Alan, Arnold, Anara, dan Abel yang tadinya kebingungan dengan apa yang terjadi menjadi bertambah bingung. Mereka menatap penasaran kearah orang dewasa seolah meminta penjelasan lebih. Andre dan Papa Reza terlihat tertawa melihat raut penasaran dari keempatnya itu.
"Macak meleka ante dan taman? Meleka macih tecil lho, tatek angan cuka ohong" kesal Alan tak terima.
"Kami nggak bohong. Mereka ini anaknya adik papa yang sudah meninggal" ucap Papa Reza.
"Alan ndak ngelti. Pototna Eda halus etap mandil atu abang" ucap Alan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tak mau menuruti perintah kakeknya itu.
__ADS_1
Zunai dan Ega masih mencerna ucapan dari Papa Reza itu. Papa Reza hanya menjelaskan kalau keduanya itu anak dari adik kandungnya sendiri namun tak paham mengapa mereka tak pernah bertemu. Papa Reza sengaja tak menceritakannya karena pasti anak seusia mereka juga bingung bagaimana kejadian berpisahnya ia dan adiknya itu.