
Hari berlalu semenjak kejadian didalam mobil itu. Nadia pun mengerti dan memahami dengan apa yang diucapkan oleh Andre, serta sudah memaafkan laki-laki itu. Ia juga yakin kalau perasaan Andre padanya bukanlah sebuah obsesi semata. Nadia juga sudah memantapkan hatinya untuk menerima masalalu Andre dan mencintai dia sepenuh hatinya.
Tak terasa hari ini sudah memasuki waktu masa pingitan bagi Nadia dan Andre. Pernikahan mereka akan digelar satu minggu lagi secara mewah di sebuah hotel milik Keluarga Farda. Semua undangan pun sudah disebar baik dari pihak Andre maupun Nadia telah rampung. Persiapan untuk acara mewah itu juga sudah rampung 90% tinggal waktu hari H pelaksanaan saja.
Semua undangan yang didesa sudah dikirim oleh Ibu Ratmi menggunakan pihak ekspedisi. Setelah undangan diterima oleh mereka, seketika saja ponsel Ibu Ratmi ramai dengan chatt yang masuk dari tetangga-tetangga di desanya. Walaupun dulu para tetangga selalu julid dan lebih membela keluarga Parno, namun Ibu Ratmi tetap mengundang mereka. Hal ini dilakukan Ibu Ratmi agar mereka sadar dan tak merendahkan keluarganya lagi.
***
Tradisi pingitan ini diadakan sesuai kesepakatan kedua keluarga yang menginginkan suasana pernikahan kali ini sangat kental dengan adat. Awalnya Andre keberatan dengan tradisi pingitan ini pasalnya dia harus menahan rindu dengan calon istrinya itu. Bahkan kini di hari pertama pingitan ini dilakukan, Andre sedari pagi sudah uring-uringan karena ponsel Nadia ternyata sudah disembunyikan oleh Ibu Ratmi.
"Astaga... Kenapa ribet gini sih mau nikah aja? Dulu kayanya waktu sama Aneta nggak gini-gini amat" kesal Andre terus menggerutu sambil turun dari tangga.
"Jangan ngedumel terus, Ndre. Dulu kan yang nyiapin keluarga Aneta yang keturunan bule, mana ada acara pingitan kaya gini" tegur Mama Anisa saat mendengar gerutuan anaknya itu.
Tanpa menghiraukan mamanya, Andre segera saja duduk di kursi ruang makan setelah sampai diruangan itu. Terlihat disana sudah ada Mama Anisa, Papa Reza, dan ketiga anaknya sudah siap untuk melaksanakan sarapan. Anaknya juga sudah tampak rapi dengan pakaian santainya karena Abel dan Anara memutuskan untuk tak masuk sekolah selama satu minggu ke depan. Mama Anisa tak mau jika Nadia nanti kelelahan dan bertemu dengan Andre kalau masih antar jemput ketiga cucunya.
"Kalian mau kemana kok jam segini sudah rapi? Bukannya Abel dan Nara nggak sekolah" tanya Andre pada ketiga anaknya.
"Mau ke lumah unda dong" ucap Arnold dengan nada sombongnya.
Seketika saja Andre langsung memelototkan matanya tajam kearah Mama Anisa. Papa Reza dan Mama Anisa hanya tersenyum jahil melihat tatapan tak terima yang dilayangkan oleh anaknya itu.
"Kok mereka boleh sih ke rumah Nadia? Andre aja nggak boleh ke rumahnya bahkan ketemu juga. Ini nggak adil" protes Andre.
__ADS_1
"Hei... Yang nikah sama Nadia kan kamu, bukan ketiga anakmu. Ya pasti mereka bolehlah ketemu sama Nadia" ucap Mama Anisa dengan tak santainya.
"Alo papa mau etemu unda, oleh aja. Api anti bial yang ikah tu unda cama Anol aja" ucap Arnold dengan nada meledek.
Mama Anisa dan Papa Reza sontak saja menahan tawanya, sedangkan Andre tambah memberengut kesal. Bukan hanya itu, Andre sangat gemas dengan ucapan anak laki-lakinya itu yang terlihat seperti orang dewasa. Andre segera saja beranjak dari duduknya kemudian mendekat kearah Arnold lalu menggendong anaknya itu untuk didudukkan dalam pangkuannya.
"Emangnya kamu tahu apa nikah itu?" tanya Andre gemas pada anaknya yang sedari tadi diam sambil memakan kue ditangannya itu walaupun sudah dipindahkan tempatnya.
"Tau dong. Ikah tu Anol dan unda inggal belcama di lumah ini" jawabnya dengan bangga.
Papa Reza, Mama Anisa, dan Andre segera saja tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban polos dari Arnold. Andre kira otak Arnold sudah terkontaminasi hal dewasa, ternyata anaknya itu masih suci dan polos.
"Sudah... Sudah... Ayo sarapan, nanti keburu siang" ucap Papa Reza menghentikan tawanya.
Semuanya pun akhirnya sarapan pagi itu dengan hikmat. Arnold disuapi oleh Andre, sedangkan semuanya makan sendiri-sendiri. Setelah sarapan selesai, Andre dan Papa Reza pergi ke perusahaan sedangkan Mama Anisa beserta tiga cucunya akan berkunjung ke rumah Nadia.
***
Saat dirinya tengah menonton acara TV , Nadia dikejutkan dengan teriakan ketiga anak Andre yang datang mengunjungi rumahnya. Tentu saja Nadia menyambutnya dengan senang hati karena bisa bermain dengan ketiganya.
"Bunda..." seru Anara dan Abel dengan nada cerianya.
Sedangkan Arnold tampak berjalan dengan gaya coolnya, bahkan dia memakai kacamata hitam yang kebesaran jika dipakainya. Sampai berulangkali bocah itu menaikkan kacamatanya yang turun ke bawah hidung. Sungguh Nadia merasa anak Andre yang satu itu sangat lucu dan ingin membuatnya selalu tertawa dengan tingkahnya.
__ADS_1
Nadia segera memeluk dan mencium Anara, Abel, serta Arnold dengan gemas. Baru beberapa jam tak bertemu dengan mereka ternyata membuatnya rindu. Nadia juga menyambut kedatangan calon mertuanya yang langsung saja menyelonong masuk untuk bertemu dengan Ibu Ratmi.
"Bunda, tahu nggak kalau tadi papa di rumah marah-marah terus gara-gara nggak dibolehin ketemu bunda" cerita Anara.
"Katanya papa sangat rindu sama bunda" lanjut Abel.
Mendegar perkataan dua gadis cilik itu tentu membuat dia merasa tersanjung dan pipinya bahkan merona. Kini Nadia terlihat salah tingkah saat kedua calon anaknya itu terus menceritakan tentang Andre. Sedangkan Arnold hanya terdiam mendengarkan tiga perempuan yang tengah menggosip itu.
"Adek kok diam saja daritadi? Itu juga kenapa kacamatanya nggak dilepas?" tanya Nadia dengan heran.
"Anol ndak cuka gocip. Alo wewek-wewek ada umpul tan asti cukana gocipin olang. Ontohna ada gocipin Anol yan anteng ni" ucap Arnol dengan percaya dirinya.
Bahkan Arnold mengucapkan itu dengan gaya tengilnya sambil menaikturunkan kacamata hitamnya. Nadia, Anara, dan Abel hanya menganga tak percaya dengan tingkah Arnold ini. Pasalnya baru pertama kali ini mereka melihat tingkah Arnold yang seperti ini.
"Cudah... Cudah... Alian anjut ja gocipna. Anol ndak kan anggu olang gocip kalna tu keljaan wewek. Anol dicini ja uat again alian" ucap Arnold membuyarkan lamunan ketiganya.
Akhirnya ketiga perempuan itu mulai berbincang hal-hal random tanpa mempedulikan Arnold yang sibuk sendiri dengan kegiatannya. Padahal Arnold seperti itu karena sedang malas berbicara banyak.
"Adi owok halus cabal alo inggal ma wewek banak ini. Asti iap hali halus dengal meleka menggocip" gumam Arnold sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan menatap kearah Nadia, Anara, dan Abel.
****
Nanti kalau part nya kebalik, bilang ya guys....
__ADS_1
Nggak tahu ini kok tiba-tiba kaya gini
Yang benar Part "Meluruskan" dulu baru part "pingitan" ini 🙏