Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Ulah Arnold


__ADS_3

Hari senin telah tiba, saatnya Abel dan Anara kembali sekolah dengan Nadia serta Arnold yang akan menjadi pengantar dan penunggu. Setelah tadi pagi diawali dengan suasana penuh keharuan di kamar anak-anak, sekarang waktunya untuk kembali memulai aktifitas. Hari ini Andre masih libur cuti pernikahan sehingga ia berencana untuk ikut mengantar anak-anaknya ke sekolah.


Anak-anak telah rapi dengan pakaiannya kini tengah duduk di meja makan bersama dengan Papa Reza dan Mama Anisa. Nadia sedang membantu Mbok Imah di dapur untuk menyiapkan makanan, sedangkan kini Andre tengah berada di ujung tangga sambil tersenyum manis melihat kearah keluarganya.


"Papa buluan kecini. Ita dah lapal, ama ekali papa ini" gerutu Arnold saat melihat papanya masih berdiri didekat tangga.


Andre pun dengan sigap berjalan mendekat kearah papanya kemudian mencium kening ketiga anaknya dengan lembut. Namun bukanlah Arnold kalau tak ada drama yang ia ciptakan pagi-pagi seperti ini.


"Angan ium-ium, ita ukan mahlom" ucap Arnold sambil kepalanya dimiringkan agar terhindar dari ciuman Andre.


"Mana ada begitu? Itu kan papa kamu sendiri, bukan oranglain" ucap Nadia yang baru saja datang sambil terkekeh geli.


Arnold yang mendengar Nadia lebih membela Andre pun hanya bisa mencebikkan bibirnya kesal. Bahkan kini matanya sudah berkaca-kaca, kedua orangtua Andre hanya bisa geleng-geleng kepala melihat drama yang diciptakan oleh Arnold ini.


"Hayoloh... Bunda bikin nangis gembul" goda Mama Anisa.


"Katanya laki-laki itu nggak nangis" ledek Andre.


Dalam hati keempat orang dewasa itu sudah menghitung mundur bahwa sebentar lagi pasti Arnold akan menangis beneran karena diledek oleh ketiganya. Benar saja, setelah beberapa menit akhirnya Arnold mengeluarkan suara tangisan melengkingnya.


Huaaaaaa....


"Unda, papa, enek ahat..." seru Arnold sambil menangis.


Bukannya segera menenangkan Arnold yang menangis, namun orang-orang dewasa itu malah tertawa melihat wajah bocah kecil itu menangis dengan ingus yang keluar dari hidungnya. Pemandangan yang begitu menggemaskan membuat mereka sangat suka sekali menjahili Arnold.

__ADS_1


Tanpa disangka ditengah tawa orang-orang dewasa itu, Abel turun dari kursinya kemudian mendekat kearah Arnold. Abel mengusap air mata yang mengalir di kedua pipi Arnold dengan tisue yang dibawanya bahkan mengelap ingus yang keluar tanpa jijik. Melihat pemandangan mengharukan itu sontak saja para orang dewasa menghentikan tawanya kemudian memandang keduanya dengan tatapan sulit diartikan.


"Jangan nangis lagi, adek. Papa, bunda, nenek, dan kakek kan hanya bercanda" ucap Abel dengan lembut.


Arnold hanya menganggukkan kepala saja sebagai jawaban ditengah-tengah sesenggukannya. Abel langsung memeluk Arnold sambil terus mengusap lembut punggung bocah laki-laki itu.


"Tlimakacih akak Bel" bisik Arnold tepat ditelinga Abel.


Nadia dan Andre segera saja mendekat kearah mereka lalu memeluk keduanya sambil mengucapkan kata maaf pada Arnold. Disusul oleh Anara, Mama Anisa, dan Papa Reza yang ikut memeluk keempatnya. Mereka pagi itu merasa bahwa keluarga adalah segalanya, saling bahu membahu jika ada salah satu yang tengah mengalami kesakitan.


***


Setelah drama pagi ini di ruang makan, akhirnya Andre mengantar anak dan istrinya ke sekolah TK dekat rumah dengan berjalan kaki. Kelimanya sepakat untuk berjalan kaki biar sekalian olahraga pagi hari. Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya mereka sampai juga didepan sekolah.


"Pamit dulu sama papa" titah Nadia dengan lembut.


"Papa ndak eka. Ini tu Anol inta uit uat eli ajan" kesal Arnold dengan menepis tangan papanya.


"Adek, salim dulu dong sama papanya baru minta uang untuk beli jajan" tegur Nadia dengan lembut.


Dengan malas-malasan, Arnold mengambil telapak tangan papanya kemudian menciumnya sekilas dan langsung saja menengadahkan tangannya kembali. Andre yang melihat hal itu pun hanya tersenyum maklum pasalnya anak-anaknya ini jarang sekali diajarkan untuk salim terlebih dahulu sejak dulu.


Andre segera memberi selembar uang 50 ribu tepat ditelapak tangan bocah kecil itu. Tanpa mengucapkan terimakasih, Arnold segera melipat uang itu lalu memasukkannya dalam kantong saku celananya. Arnold menggandeng kedua kakaknya untuk segera masuk kedalam sekolah diikuti oleh Nadia yang telah berpamitan pada suaminya. Andre pun berlalu pulang ke rumah setelah memastikan anak dan istrinya masuk dalam sekolah dengan aman.


***

__ADS_1


Saat ini Arnold tengah jajan di halaman sekolah sendirian, sedangkan Nadia hanya mengawasi dari tempatnya menunggu. Tadinya Nadia ingin ikut namun bocah kecil itu menolak untuk diantar. Akhirnya dengan percaya dirinya Arnold melangkahkan kakinya pada penjual es krim dan telur gulung yang ada disana.


Sambil menunggu pesanannya dibuatkan Arnold melihat kearah sekeliling sekolah itu. Suasana sekolah yang begitu asri karena banyaknya pepohonan membuat suasana yang begitu terik itu tak terasa sama sekali. Namun perhatiannya fokus pada area bermain ayunan yang ada di sekolah itu.


"Ini dek" ucap penjual itu memberikan pesanannya.


Dengan susah payah, Arnold membawa dua es krim dan satu plastik telur gulung itu dengan tangan mungilnya. Sisa kembalian uangnya sudah ia masukkan dalam sakunya kemudian ia berjalan menuju ke arah area bermain. Disana sudah ada seorang gadis kecil yang tengah duduk di ayunan, sedangkan Arnold langsung mendudukkan diri disampingnya.


"Angan cedih-cedih, anti diigit Anol" ucap Arnold saat melihat gadis kecil disampingnya ini tengah menundukkan kepala.


"Ciapa yan cedih, atu cuma antuk" ucap gadis kecil itu sembari menegakkan kepalanya.


Gadis kecil itu menatap kearah Arnold dengan mata sayunya. Memang gadis itu bukanlah sedang sedih, hanya saja ia mengantuk dan diminta untuk ikut menunggu kakaknya yang juga bersekolah disini. Gadis kecil itu kemudian mengalihkan pandangannya kearah tangan Arnold yang memegang makanan dan es krim.


"Ilam oleh inta es klimna?" tanya gadis kecil bernama Nilam itu dengan tatapan berbinar.


"Oleh, api engan catu cyalat" ucap Arnold dengan tengilnya.


"Apa tu cyalatna?" tanya Nilam dengan mengernyitkan dahinya.


"Adi wewekna Anol ulu balu atu kacih es klim" ucap Arnold dengan percaya dirinya.


Nadia yang sedari tadi memperhatikan ulah Arnold yang berada di area bermain itu pun hanya bisa tersenyum-senyum sendiri. Sedangkan gadis disampingnya itu hanya menatap bingung kearah Arnold, namun karena es krim itu sudah melambai-lambai ingin dimakannya membuatnya langsung menganggukkan kepala saja walaupun ia tak tahu masksud dari bocah laki-laki itu. Arnold pun dengan antusias memberikan satu es krim ditangannya kemudian mereka berdua memakannya dengan tenang.


"Holeee... Anol una wewek, anti pamel cama papa" batin Arnold tak sabar.

__ADS_1


****


Anol udah punya wewek, kalian kapan? hehehe


__ADS_2