Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Rencana Alan


__ADS_3

"Ega, bangun yuk. Kita mandi" ucap Nadia membangunkan ega yang begitu lelap dalam tidurnya.


Nadia memaklumi jika Ega begitu nyenyak dalam tidurnya karena mungkin ini pertama kalinya dia bisa tidur tanpa adanya gangguan panas dan hujan. Bahkan ia juga takkan takut untuk diusir dari emperan toko jika kesiangan bangun. Tentunya dengan selimut, bantal, dan kasur yang empuk membuatnya semakin nyaman.


Eunghhhh....


Akhirnya setelah perjuangan beberapa kali membangunkan Ega, bocah kecil itu terbangun juga dengan mata bulat yang mengerjap. Alan terpekik gemas melihat kelucuan Ega membuat Alan langsung saja menatapnya seakan ingin memakannya. Ega tersenyum kearah Nadia dan Alan yang berdiri disamping ranjang.


"Demasna... Pati tayang, dajuna lobek-lobek" gumam Alan pelan.


"Ayo kita mandi" ajak Nadia yang langsung menggendong Ega agar turun dari kasur.


Nadia, Ega, dan Alan langsung memasuki kamar mandi. Nadia membersihkan dua bocah kecil itu dengan begitu telaten. Sedangkan Ega dan Alan malah bermain air sambil mencipratkannya kearah Nadia membuat baju wanita dewasa itu basah. Bukannya merasa bersalah, keduanya malah tertawa bersama.


"Wah... Angina adan Eda" ucap Ega begitu senang sambil menciumi tangannya yang begitu wangi.


Selama ini memang Ega tak pernah mandi menggunakan sabun bahkan jarang gosok gigi. Kalau pun bisa gosok gigi pasti itu diberi oleh warga sekitar untuk menggunakan sikat dan pasta giginya. Bahkan kini wajah dan tubuhnya begitu fresh dengan pipi kemerahan.


"Eda ndak pelnah andi pate cabun tan? Matana adi aktu Alan tidul di cebelah Eda tok ada wau-wau dengkol" ucap Alan dengan pedasnya.


Nadia langsung saja menepuk punggung anaknya Alan sambil memelototinya. Sungguh anaknya ini kalau ngomong tak bisa disaring sama sekali membuatnya kesal. Beruntung Ega malah menatapnya dengan begitu polos, sepertinya bocah kecil itu tak paham dengan apa yang diucapkan oleh Alan.

__ADS_1


"Eda mang jalan andi" ucap Ega dengan polosnya menjawab ucapan Alan itu.


Alan pun sekarang memilih diam daripada nanti dimarahi oleh bundanya itu. Bundanya itu walaupun dirinya sudah bicara jujur namun tetap saja akan dimarahi. Padahal dirinya mengucapkan hal yang sebenarnya namun Nadia yang memang dasarnya tak suka jika dia ceplas-ceplos pun pasti langsung ditegur.


***


"Eda patek dajuna Alan tuh. Yang macih dada platikna" ucap Alan sambil menunjuk beberapa baju baru yang ada di lemari miliknya.


"Napa ajuna macih di platik? Halusna dipate don" ucap Ega dengan raut wajah bingungnya.


Ega bingung melihat semua baju yang dilipat kemudian ada di lemari ini. Pasalnya selama ini dirinya tak pernah melihat hal seperti ini. Hidup dijalanan tentunya hanya bermodalkan baju yang pakai dan yang lainnya ditaruh pada plastik yang selalu dibawa oleh kakaknya. Nadia yang mendengar pertanyaan dari Ega pun paham kalau anak itu sepertinya belum pernah melihat baju baru sehingga menanyakan mengapa dilapisi plastik.


"Itu bajunya masih baru, nak. Habis beli dari toko tapi belum sempat dipakai. Sekarang pakai baju dulu yuk, nanti badannya kedinginan" ucap Nadia dengan sedikit mengalihkan pembicaraan ini.


Nadia segera membantu memasangkan baju itu pada Alan dan ega. Bahkan Nadia juga memberi mereka bedak tabur dan minyak telon agar tubuhnya wangi bayi. Setelah semuanya siap, Nadia langsung membangunkan Arnold yang masih tertidur.


"Eda, tamu yebih aik inggal cama abang Alan aja ote. Ental abang jajak alan-alan te aman, mall, telus dangguin Anol cekolah deh. Ini anti uga aju-ajuna uat Eda aja, bial tuh daju yang lobek uang aja. Bica uga uat pel lante" ucap Alan dengan mencerocos.


"Ndak oleh anggu olang cekolah" ucap Ega sambil menggelengkan kepalanya.


Alan mencebikkan bibirnya kesal karena Ega sama sekali tak bisa diajak kerjasama untuk membuat kerusuhan di sekolah Arnold nanti. Padahal dia sudah merencanakan banyak hal agar bisa melakukan sesuatu di sekolah baru Arnold nanti. Saat satu minggu pertama diperbolehkan bagi pihak keluarga menemani siswa baru agar mereka tak takut.

__ADS_1


Disaat itu lah rencananya Alan akan membuat ulah karena pasti dia akan ikut menunggu disana. Mumpung juga ada Ega yang bisa membuat segala sesuatunya menjadi seru. Namun ternyata Ega adalah tipe seorang anak penurut dan tidak aneh-aneh sehingga langsung menolak ajakan Alan.


"Woh... Ita danggu itu wuwat meleka telhibul lho. Menhibul tu aik" ucap Alan mencoba membujuk Ega lagi.


Ega terlihat terdiam memikirkan apa yang diucapkan oleh Alan itu. Pasalnya selama ini kakaknya selalu mengingatkan dirinya untuk tak boleh ikut campur urusan oranglain dan mengganggu orang disekitarnya. Mereka hanya cukup mencari uang dan makan tanpa boleh mengganggu yang lainnya.


"Tu ndak aik. Ata tak Nai, ndak oleh danggu olang. Anti bica di ucil. Bang Lan ndak akut talo diucil wowang tuwa?" tanya Ega dengan tatapan penasarannya.


"Ndak, apain akut? Ntal Alan lapolin polici talo meleka ucil atu" ucap Alan dengan percaya dirinya.


Ega hanya menganggukkan kepalanya seolah mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Alan itu. Sedangkan Alan kini sudah menyerah saja membujuk Ega yang tak bisa diajak kerja sama. Mereka pun akhirnya keluar kamar saat Nadia dan Arnold sudah selesai membersihkan diri.


***


"Ayo duduk disini. Kalian tontonlah kartun yang ada di TV, bunda mau ke dapur dulu" ucap Nadia meminta semuanya untuk duduk di ruang keluarga.


Mereka pun duduk di ruang keluarga bersama dengan Zunai yang ada disana. Zunai masih asyik makan kue kering yang disediakan oleh Nadia. Ega langsung mendekati kakaknya itu kemudian memeluknya dari samping.


"Eda tangen tama tatak. Biacana tidul beldua, adi Eda tidulna cama meleka" ucap Ega memberitahu kakaknya.


"Nyenyak nggak tidurnya?" tanya Zunai.

__ADS_1


Ega menganggukkan kepalanya dengan antusias sedangkan Zunai begitu bahagia melihat adiknya begitu ceria seperti ini. Sebelumnya tak pernah Zunai melihat Ega tertawa dan tersenyum ceria seperti ini karena setiap bangun tidur pasti hanya ada ketakutan.


Ketakutan saat diusir pemilik toko ketika bangun kesiangan. Bahkan saat tidur pun Zunai kadang tak bisa nyenyak karena takut terjadi sesuatu padanya dan sang adik. Terlebih kalau sudah ada preman yang berkeliaran, mereka harus dengan sigap bersembunyi agar tak dipalak. Kehidupan begitu keras membuatnya tak mau terlena dengan hidup enak yang disuguhkan oleh keluarga Alan ini.


__ADS_2