Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Fakta Masa Lalu 4


__ADS_3

Papa Reza mengepalkan kedua tangannya mendengar semua cerita yang dibeberkan oleh Pak RT setempat. Rasanya ia ingin meninju wajah mereka yang seharusnya mau membantu seorang anak, jika memang tak mempunyai uang tentunya bisa menghubungi dirinya.


"Astaghfirullah...".


Sedari tadi Papa Reza dan Andre hanya bisa mengucapkan istighfar berulangkali dalam hatinya. Tak menyangka Papa Reza mempunyai saudara yang sekejam itu. Padahal dulunya keluarga Budhe Ana itu sangat baik kepadanya dan Dewi. Sampai saat ini Papa Reza langsung berpikir bahwa kebaikan keluarga Budhe Ana itu hanya kamuflase belaka dan Dewi berusaha menutupi perlakuan mereka.


"Apa kalian mengenal dengan Budhe Ana itu?" tanya Pak RT.


"Kenal, dia saudara orangtua saya dulu. Dulunya tak punya anak sehingga meminta adik saya untuk diasuh mereka. Saya menyetujuinya karena kebetulan kondisi ekonomi saya waktu itu memburuk terlebih kedua orangtua saya meninggal akibat kecelakaan" jawab Papa Reza dengan wajah yang masih tak percaya.


Mereka pun memilih untuk terdiam sejenak setelah bercerita panjang lebar. Terlebih kini Zunai malah makan buah rambutan yang baru saja dipetik oleh Bu RT. Setelah ini mereka akan menuju ke rumah Budhe Ana untuk memperjelas semuanya. Namun sebelum itu ketiganya beristirahat dulu di rumah RT setempat.


"Kalau makam Dewi dimana ya, pak? Saya mau ziarah sekalian kesana" tanya Papa Reza dengan mencoba menahan kepiluan dihatinya.


"Makamnya tak jauh dari sini kok, pak. Tapi maaf pak, nanti jangan kaget saat melihat makamnya yang jarang diurus oleh pihak keluarga" ucap Pak RT dengan tak enak hati.


Papa Reza menganggukkan kepalanya mengerti. Lagi pula saat masih hidup saja sudah diperlakukan seenaknya apalagi ketika telah meninggal. Pasti makamnya itu tak ubahnya seperti lautan rumput atau malah hanya gundukan tanah yang kering.


Setelah dirasa Zunai cukup puas dalam makan rambutan, mereka pun segera bergegas pergi menuju makam Dewi. Tentunya bapak dan ibu RT ikut karena Papa Reza memintanya. Setidaknya untuk Ibu RT nanti bisa menjaga Zunai jika terjadi sesuatu. Saat mereka berjalan, banyak sekali warga yang terkejut dengan hadirnya Zunai dengan pakaian bagusnya.


Tentunya mereka ikut menyapa bahkan tak jarang Zunai melambaikan tangannya seperti artis dadakan. Hal ini malah membuat mereka semakin gemas apalagi Zunai ini sedari dulu anaknya memang ramah dan selalu mau bermain dengan siapa saja.

__ADS_1


"Silahkan... Itu pak makamnya" ucap Pak RT dengan sedikit mengarahkan Papa Reza dan Andre.


Ibu RT dan Zunai terlihat bercengkerama dengan beberapa warga disana dan tak ikut masuk ke dalam pemakaman. Papa Reza hanya bisa menghela nafasnya pelan saat makam adiknya sudah tak terlihat seperti sebuah kuburan. Tak ada gundukan tanah atau rumput hijau disana, hanya berupa tanah rata dengan papan nama saja.


Papa Reza dan Andre duduk berjongkok disana kemudian berdo'a disamping makam Dewi. Papa Reza berulangkali mengusap sudut matanya yang basah karena begitu merindukan adiknya itu.


"Dewi, abang janji akan membuat kedua anakmu bahagia. Bahkan abang akan membalas semua orang yang menyakitimu" ucap Papa Reza dalam hatinya.


Setelah cukup mendo'akan adiknya, Papa Reza berdiri diikuti oleh Andre dan Pak RT. Ketiganya keluar dari makam kemudian berjalan mendekat kearah Zunai dan Bu RT.


"Pak, tolong urus makam Dewi ya. Tolong dirawat, nanti untuk biaya dan tenaganya saya akan memberikannya pada anda" ucap Papa Reza.


"Maaf permisi, Zunai harus pergi dulu" ucap Andre membelah kerumunan.


Mereka segera menyingkir kemudian Andre menggendong Zunai. Segera saja mereka melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Dewi yang lumayan jauh. Terpaksa mereka harus jalan kaki karena akan lebih dekat menggunakan jembatan. Jembatan itu pun tak bisa dilalui mobil karena memang hanya diperuntukan bagi pejalan kaki.


Setelah kurang lebih setengah jam mereka berjalan, akhirnya semua sampai di dusun sebelah. Ternyata memang tempat tinggal keduanya hanya beda dusun saja walaupun masih satu desa. Walaupun berbeda dusun, namun semua berita kedatangan Dewi dan keluarga Budhe Ana dulu sampai disini.


"Itu rumahnya yang paling besar" ucap Pak RT sambil menunjuk rumah berlantai 2.


Lagi dan lagi... Papa Reza hanya bisa geleng-geleng kepala melihat pemandangan ini. Padahal sudah jelas kalau Budhe Ana ini orang kaya karena rumahnya saja sudah paling mentereng dibandingkan sekitarnya. Papa Reza tak habis pikir dengan jalan pikiran Budhe Ana yang tak bisa menampung dua anak Dewi ini.

__ADS_1


"Silahkan bunyikan bel atau ketuk pintunya, pak. Kami nggak berani soalnya kalau ada tamu kaya kita-kita ya cuma dicuekin" ucap Pak RT yang langsung memundurkan langkahnya.


Ting... Tong... Ting... Tong...


Bel berbunyi terus menerus karena Papa Reza menekannya berulangkali. Hal ini karena ia sudah terlanjur kesal dengan semua ulah dari Budhe Ana. Sampai RT atau tetangga saja tak ada yang berani bertamu pada mereka, sungguh keterlaluan.


"Hei... Jangan mainan bel, kaya nggak pernah lihat ada kaya gituan aja" seru seseorang dari dalam.


Papa Reza tak peduli bahkan terus saja memencet bel yang ada disana. Tentunya ia kesal, ada orang bertamu kok malah diteriaki dari dalam. Seharusnya mereka keluar kemudian membuka pintu dan menerima tamu dengan baik.


Tak berapa lama, seseorang keluar dari rumah sambil berkacak pinggang. Seorang wanita paruh baya yang dikenali oleh Papa Reza kini matanya membulat saat mengenali siapa yang datang bertamu. Bahkan sepertinya dia tadi ingin memarahi Papa Reza namun tak jadi karena melihat tatapan tajam dari laki-laki didekat gerbang itu.


"Keluar kau Ana atau ku robohkan pagar ini" teriak Papa Reza.


Bahkan teriakan itu juga menjadi pusat perhatian warga sekitar yang langsung keluar dari rumah. Tentunya mereka begitu takjub karena ada seseorang yang berani berteriak kepada Budhe Ana. Tak berapa lama, Budhe Ana langsung berlari kemudian membuka pintu gerbang itu. Ia juga langsung meminta Papa Reza segera masuk.


"Zunai..." ucapnya sambil membekap mulutnya dengan tangan tak percaya.


Budhe Ana matanya bergerak gelisah karena melihat adanya Zunai dalam rombongan Papa Reza itu. Papa Reza langsung masuk diikuti oleh Andre dan Zunai yang kini langsung memeluk papanya itu. Bahkan ibu dan bapak RT juga langsung diajak Andre masuk walaupun mereka sebenarnya takut.


Papa Reza dengan gaya angkuhnya langsung duduk di kursi sofa bersama dengan yang lainnya. Budhe Ana terlihat salah tingkah mendapat tatapan begitu tajam itu. Terlebih kini suaminya tak ada di rumah, tentunya ia semakin was-was dengan kehadiran Papa Reza yang tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2