
"Napa eluk-eluk Alan?" protes Alan saat tiba-tiba dipeluk oleh kakek dan papanya.
Alan dan Arnold sekarang memang sudah jarang mau untuk dipeluk karena merasa mereka sudah besar. Kecuali jika dalam keadaan sakit atau manja pasti akan selalu dalam dekapan bunda atau papanya. Arnold dan Alan tak habis dengan kedua laki-laki dewasa itu yang ketika melihat mereka langsung memeluknya begitu saja.
"Kita bangga sama kalian" ucap Andre dengan mata berkaca-kaca.
Alan dan Arnold saling pandang kemudian melihat kearah dua neneknya yang tak mau memandang kearah mereka. Alan dan Arnold seakan tahu kalau ini adalah ulah kedua neneknya yang mengadu pada papa dan kakeknya.
"Nenek agi... Nenek agi..." keluh Alan.
Sontak saja para orang dewasa disana tertawa melihat wajah pasrah Alan dan Arnold saat kegiatannya ternyata diketahui oleh yang lain. Pasalnya mereka sudah meminta untuk tak memberitahu pada papa dan kakeknya namun malah melanggarnya.
"Besok-besok nggak usah ajak atau cerita sama nenek" ucap Arnold dengan menatap sinis kedua neneknya.
"Embel..." ketus Alan sambil mengerucutkan bibirnya.
Mama Anisa dan Nenek Hulim sedikit merasa bersalah karena melanggar janjinya kepada dua anak kecil itu. Tapi mereka juga tak pintar berbohong jika sudah menyangkut uang karena bagaimana pun nanti akan jadi masalah dalam rumah ini.
***
Alan dan Arnold juga Nadia bersama Andre akan menjemput ketiga anaknya yang lain di sekolah. Nenek Hulim dan Mama Anisa memilih tak ikut karena hari ini sudah capek karena seharian pergi. Sedangkan Papa Reza juga lebih memilih bersama dengan istrinya.
"Unda, napa akak ulangna cole?" tanya Alan dengan penasaran.
"Ada kegiatan ekstrakurikuler yang harus diikuti anak sekolah" jawab Nadia.
__ADS_1
"Pa tu etatulitulel?" tanya Alan bingung.
Nadia dan Andre menahan tawanya saat kosa kata itu berubah di mulut Alan. Nadia menjelaskan jika kegiatan ekstrakurikuler itu memang wajib karena untuk melatih bakat yang ada pada diri siswanya. Melalui kegiatan itu diharapkan nanti bakatnya dapat tersalurkan.
Alan hanya menganggukkan kepalanya pura-pura mengerti. Akhirnya Alan diam kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu sang abang yang tengah fokus pada tayangan kartun di ponselnya. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Andre itu memasuki tempat parkir khusus untuk yang menjemput.
Arnold terlihat mengedarkan pandangannya kearah seluruh sekolah ini. Hal ini juga tak lepas dari pandangan Nadia dan Andre. Mereka akan membiasakan Arnold untuk datang ke sekolah kakaknya agar ada keinginan untuknya kembali menuntut ilmu.
"Wah... Enak ya kalau sekolah temannya banyak" ucap Nadia memancing reaksi Arnold sambil menunggu kedatangan ketiga anaknya.
"Ya, nanak talo unya eman anyak. Api anyak uga eman yan cuka akalin ita" ucap Alan menanggapi.
Nadia menganggukkan kepalanya sambil melirik respons dari Arnold yang terlihat biasa saja. Bahkan Arnold terlihat tak tertarik untuk menanggapi apa yang diucapkan oleh Nadia dan adiknya itu.
"Abang mau mulai sekolah kapan? Nilam udah siap lho nemenin abang" ucap Nadia sambil bertanya.
Nadia dan Andre begitu terkejut dengan jawaban dari Arnold. Bahkan kini Nadia menatap tak percaya Arnold yang benar-benar terlihat acuh jika sudah membahas tentang sekolah. Mereka bingung bagaimana membujuk anaknya itu untuk kembali ke sekolah lagi.
"Tul, nanak kelja apat uang. Talo cekolah alah ita yan klualin uang" ucap Alan menyetujui ucapan kakaknya.
"Tapi besok kalau mau kerja itu harus sekolah dulu lho. Minimal sampai SMA" ucap Nadia memberi pengertian.
Arnold terlihat terdiam sejenak sambil berpikir mengenai ucapan bundanya itu. Setelahnya ia melihat kearah Nadia yang menatapnya penuh harap. Mereka seperti mengharapkan agar Arnold mau untuk sekolah walaupun hanya sampai SMA saja.
"Arnold mau buka usaha sendiri jadi nggak perlu ijazah sekolah" ucap Arnold.
__ADS_1
Sepertinya pikiran Arnold tentang sekolah sudah jelek sejak kejadian itu membuatnya tak mau lagi berurusan dengan instansi satu itu. Dari jawabannya pun akhirnya Nadia dan Andre pasrah saja tentang sekolah anaknya itu. Arnold yang tak bisa dipaksa untuk bersekolah tentunya Nadia tak mau mengambil resiko.
Biarlah nanti tunggu sampai ia akan masuk SD tanpa harus TK dulu. Siapa tahu tahun depan rasa trauma itu sudah menghilang seiring berjalannya waktu. Sedangkan Alan yang bingung dengan apa yang dibicarakan kini pun memilih untuk diam saja.
***
Setelah pembicaraan itu, di dalam mobil hanya ada keheningan saja. Mereka memilih sibuk dengan kegiatannya masing-masing sambil menunggu kedatangan ketiga bocah yang keempatnya jemput. Tak berapa lama, akhirnya mereka melihat kedatangan tiga bocah kecil yang berjalan kearah parkiran.
Andre keluar dari mobilnya kemudian melambaikan tangan pada ketiganya. Ketiganya segera berlari menuju Andre kemudian memeluknya dengan erat. Mereka langsung masuk dalam mobil dan bergabung dengan kedua saudaranya.
"Tapek?" tanya Alan pada ketiga kakaknya yang langsung menyandarkan badannya pada kursi.
"Heem..." jawab Anara sambil menganggukkan kepalanya.
"Tuh tan unda, cekolah tu tapek. Becok Alan uga ndak mau cekolah caja lah. Nanak uga tidul di lumah" ucap Alan memutuskan.
Alan mengusap keringat yang mengalir pada dahi Anara dengan lembut memakai tisue. Ia kasihan melihat ketiga kakaknya yang kelelahan karena sekolah. Hal ini membuat pemikiran Alan tentang sekolah jadi berubah setelah melihat semua yang terjadi.
Nadia yang mendengar ucapan Alan pun hanya bisa menghela nafasnya lelah. Andre yang melihat pergolakan hati istrinya hanya bisa mengelus lembut lengan Nadia. Ia memberi kode kepada istrinya jika nanti mencari solusinya bersama-sama untuk memberi pengertian pada kedua anaknya agar mau sekolah. Nadia menganggukkan kepalanya mengerti, ada sedikit rasa sesal di hatinya kini.
Ia membiarkan anak-anaknya selalu merasakan sakit di sekolahnya membuat mereka malah kini jadi trauma. Ia seringkali menyalahkan dirinya sendiri karena merasa tak becus dalam menjaga mereka. Namun Andre yang melihatnya selalu berusaha menguatkan istrinya karena ia juga berperan penting dalam pendidikan anak-anaknya.
Andre segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kelima anak yang ada di kusri penumpang kini malah tertidur dengan saling berpelukan. Alan duduk di pangkuan Abel sambil memeluknya sedangkan Arnold bersama dengan Fikri. Anara lebih memilih menyandarkan kepalanya di jendela mobilnya.
"Ini mau diangkat satu-satu atau dibangunkan aja, mas?" tanya Nadia setelah mobil berhenti di halaman rumah.
__ADS_1
Nadia melihat kearah belakang yang ternyata semua anaknya tertidur dengan pulasnya. Kasihan juga mereka jika dibangunkan disaat nyenyak dalam tidurnya. Akhirnya Andre memilih untuk mengangkatnya satu per satu dibantu oleh Nadia dan Papa Reza yang tadi tak sengaja berpapasan.