
"Selamat pagi..." seru sepasang paruh baya yang masuk ke dalam ruang rawat inap Abel.
"Selamat pagi... Nenek, Kakek" seru Anara.
Andre dan Nadia hanya tersenyum melihat kedatangan dari Mama Anisa dan Papa Reza itu, sedangkan Arnold masih fokus memeluk kakaknya Abel. Bocah laki-laki-laki itu seperti tahu akan kegelisahan dan ketakutan yang dialami oleh kakaknya.
Mama Anisa dan Papa Reza memutuskan untuk segera masuk ke dalam ruang rawat Abel setelah melihat pemandangan mengharukan diatas brankar. Yap, yang tadi melihat dibalik pintu itu adalah kedua orangtua Andre yang baru saja tiba setelah menyelesaikan pekerjaannya dari luar kota. Lebih tepatnya mempercepat kepulangan mereka demi segera bertemu dengan cucunya, Abel.
Mereka pun mendekat kearah brankar milik Abel dengan tatapan lembut mengarah ke cucu-cucunya. Sedangkan Abel yang melihat kehadiran dari dua orang yang diketahuinya adalah kakek dan neneknya seketika menundukkan kepalanya. Abel merasa takut kalau kedua orang itu takkan menerima kehadirannya seperti oma dan opanya. Bahkan ia memegang erat tangan Nadia yang berada disampingnya dan mengeratkan pelukannya pada Arnold. Nadia yang paham dengan apa yang terjadi oleh Abel pun mengelus tangan gadis kecil itu dengan lembut.
Kedua orangtua Andre segera memeluk Anara dan Arnold, sedangkan Nadia dan Andre mengecup punggung tangan keduanya. Mama Anisa menatap Abel dengan intens membuat Abel menambah tundukan kepalanya lebih dalam lagi. Andre, Nadia, Anara, dan Arnold segera menyingkir dari brankar itu untuk memberikan ruang pada kedua orangtua itu. Papa Reza dan Mama Anisa merapatkan diri ke tubuh Abel. Keduanya seketika memeluk Abel dengan eratnya bahkan Mama Anisa sampai menangis terisak di pelukan gadis itu. Bahkan tubuh gadis kecil itu seketika menegang mendapatkan pelukan tiba-tiba dari nenek dan kakeknya.
"Nenek kangen sama Abel..." lirih Mama Anisa.
Abel yang yang mendengar ucapan dari neneknya seketika saja badannya menjadi lebih rileks kemudian membalas pelukan dari kedua orang paruh baya itu. Abel sangat bahagia karena nenek dan kakeknya juga rindu padanya dan mau menerima dirinya. Abel sangat terharu ternyata masih banyak yang menyayangi dirinya.
"Abel juga kangen sama nenek dan kakek" ucap Abel sambil menitikan air matanya.
__ADS_1
Ternyata keputusannya untuk lebih memilih tinggal bersama papanya adalah keputusan yang sangat tepat. Kini ia sudah takkan takut lagi dengan orang-orang jahat diluaran sana karena ada keluarga yang akan terus menjaga dan melindunginya sampai kelak dia bisa melindungi dirinya sendiri.
Setelah itu ketiganya melepaskan pelukan mereka lalu mengobrol bersama sabil bercanda di atas brankar tempat tidur. Sedangkan Nadia sedang memandikan Anara dan Arnold dibantu oleh Andre. Wajah Abel sudah lebih ceria dari hari kemarin bahkan demamnya sudah turun.
Setelah selesai memandikan Anara dan Arnold, Nadia membantu memakaikan pakaian kepada keduanya lalu Andre menyuapi keduanya makan. Mereka sudah benar-benar seperti keluarga bahagia yang saling bahu membahu untuk mengurus anak. Semua itu tak luput dari pandangan Mama Anisa dan Papa Reza yang terlihat tersenyum melihat pemandangan itu.
***
Dokter dan perawat memasuki ruang rawat inap Abel sambil tersenyum manis kearah semua orang yang ada disana. Semuanya tengah menonton acara TV dengan seksama saat dokter dan perawat itu mengetuk pintu ruang rawat.
"Selamat siang" sapa dokter itu.
"Sebentar ya tuan, nyonya... Saya mau memeriksa keadaan nona Abel dan setelahnya saya akan membacakan hasil dari pemeriksaan kemarin" ucap dokter itu.
Mama Anisa yang masih duduk di sebelah brankar Abel pun segera menyingkir untuk memberikan tempat pada dokter dan perawat itu. Abel yang melihat neneknya akan pergi, seketika saja memegang tangan Mama Anisa dengan erat sambil menggelengkan kepalanya. Mama Anisa yang melihat Abel merasa ketakutan pun seketika mengernyitkan dahinya heran, pasalnya Andre belum menceritakan tentang keadaan cucunya itu secera keseluruhan.
"Nyonya bisa berdiri di sebelah sana untuk menemani pasien dalam pemeriksaan ini" ucap dokter itu dengan tersenyum.
__ADS_1
Dokter itu menunjukkan tempat diseberang dirinya untuk berdiri menunggu Abel diperiksa. Mama Anisa yang mengerti pun akhirnya menuju ke area itu bersama dengan Papa Reza dan Andre yang ikut mendekat. Abel melihat neneknya dari duduk disampingnya sampai berdiri diseberang sang dokter. Ia seperti tak ingin ditinggal jauh oleh neneknya itu. Setelah itu dokter mulai memeriksa keadaan Abel.
"Ini sebenarnya apa yang terjadi dengan Abel? Kemarin kamu bilang kalau cuma luka-luka dan demam aja akibat kekerasan itu, tapi ini kok Abel kelihatan sangat ketakutan dengan orang asing" bisik Mama Anisa pada Andre.
"Nanti Andre jelaskan, ma. Lagipula Andre ingin mendengarkan semua hasil pemeriksaan Abel dulu baru kasih tahu sama kalian" ucap Andre balik berbisik.
Mama Anisa pun hanya menganggukkan kepalanya paham dengan maksud Andre walaupun sebelumnya dia merasa kesal. Sebenarnya tadi dia sudah bingung dengan sikap yang ditampilkan oleh Abel saat dirinya datang. Padahal dulunya Abel adalah sosok yang ceria dan dekat dengan kakek serta neneknya. Walaupun sudah tidak bertemu selama 3 tahun, Mama Anisa yakin kalau Abel masih ingat dengan dirinya dan kakeknya sendiri.
***
Setelah dokter dan perawat selesai melakukan pemeriksaan pada kondisi Abel, mereka mengajak Andre, Mama Anisa, dan Papa Reza untuk berbicara sebentar di ruangannya. Mereka meninggalkan ketiga bocah kecil itu bersama Nadia dan memberikan pesan untuk tak mengijinkan siapapun masuk kecuali orang-orang yang dikenal.
Saat ini Mama Anisa, Papa Reza, dan Andre berada di ruang dokter untuk mendengarkan penjelasan dari pemeriksaan kemarin. Ketiganya sudah menyiapkan otak dan mental untuk menerima semua penjelasan dokter itu sekalipun itu adalah hasil terburuk. Ketiganya sampai meremas kedua tangannya pertanda gugup dan was-was.
"Selamat siang... Disini saya akan membacakan hasil pemeriksaan atas nama nona Abel. Benar dugaan saya dari awal, kalau pada tulang punggung belakang pasien mengalami keretakan. Ini disebabkan oleh pukulan benda keras, jatuh, atau karena kecelakaan. Karena disini kasusnya adalah kekerasan maka sudah dipastikan kalau ini terkena pukulan benda keras. Retakannya lumayan parah karena sepertinya ini sudah terjadi sejak lama dan tak diobati, begitupula dengan keadaan tulang pada pergelangan tangannya" ucap dokter itu.
Ketiga orang yang mendengar ucapan sang dokter sudah tak bisa berkata-kata lagi. Ketiganya benar-benar shock mendengar hasil pemeriksaan kesehatan Abel.
__ADS_1
"Dari hasil visum juga sudah terlihat bahwa memang benar adanya kalau ada tindakan kekerasan fisik pada tubuh pasien" lanjutnya.
Kedua tangan Andre mengepal dengan erat, ia berjanji setelah ini akan mencari bukti-bukti lain demi menjebloskan orang-orang biadab itu. Dia takkan pernah melepaskan satu pun orang-orang yang sudah terlibat.