Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kisah Hidup Zunai


__ADS_3

"Ayah pergi cari kerja di kota setelah adik lahir. Katanya untuk bisa sekolahin Zunai dan beli susu adik tapi sampai sekarang nggak pulang. Kalau ibu sudah dipanggil sama Allah saat Ega lahir" jawab Zunia dengan sedikit sesenggukan.


Mereka tercengang dengan cerita yang diucapkan oleh Zunai. Begitu teganya seorang ayah meninggalkan kedua anaknya yang masih kecil tanpa adanya pengawasan dari orang dewasa. Harusnya mereka juga dibawa ke kota terlebih sang ibu sudah meninggal.


"Terus kalian selama masih ada orangtua tinggal dimana? Kok tadi kamu bilang di emperan toko" tanya Mama Anisa.


"Di rumah. Tapi waktu selang beberapa hari setelah ayah pergi, ada orang banyak datang ke rumah. Katanya rumah itu sudah dijual sama ayah kami jadi kita langsung disuruh pergi. Tetangga sampai bantuin bawa Ega yang baru lahir beberapa hari karena Zunai nggak berani gendong" cerita Zunai.


Astaga... Mata para orang dewasa sudah berkaca-kaca mendengar cerita dari Zunai. Waktu kejadian itu mungkin Zunai usianya masih 4 tahun dan adiknya baru lahir. Pantas saja Zunai belum berani menggendong bayi masih merah itu.


Mereka tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan kedua anak kecil ini di luaran sana. Bahkan terlihat dari wajah kusam dan pakaian lusuh banyak robekannya ini tentu sudah bisa menggambarkan bagaimana susahnya kehidupan keduanya.


Mungkin mereka juga kebingungan saat diusir terlebih rumah katanya di jual oleh ayahnya. Ada dua kemungkinan yaitu sang ayah sengaja menelantarkan dan membuang anaknya hingga menjual rumah itu atau keduanya ditipu oleh orang-orang tak bertanggungjawab.


"Lalu Zunai setelah pergi dari rumah itu kemana?" tanya Nadia dengan suara seraknya menahan tangis.


"Ke masjid. Kita tinggal di belakang masjid sampai Ega udah bisa jalan. Banyak tetangga yang bantu walau hanya kadang-kadang saja. Kami memutuskan pergi nggak di masjid lagi karena tanah belakangnya itu akan dibangun jadi kami mutuskan tidur di emperan toko" ucap Zunai dengan polosnya.


Bahkan dibalik suara sesenggukannya itu ada tawa lirih karena mungkin mengingat banyak tetangga yang membantu mereka walaupun sebenarnya semua sedang dalam masa ekonomi sulit. Padahal semua yang ada disana sudah hampir menangis cuma ditahan karena tak mau membuat sedih Zunai. Nadia langsung memeluk erat tubuh kecil Zunai yang kini mulai tenang.

__ADS_1


"Setelah itu kalian ketemu ayah nggak?" tanya Andre.


"Hehe ya enggak dong, om. Kalau ketemu ayah, pasti kan nggak mungkin kita sekarang ada di jalanan seperti ini" jawab Zunai sambil tertawa.


Andre menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena ternyata dia malah linglung sendiri. Nadia dan Mama Anisa juga tertawa melihat tingkah Andre yang sepertinya karena terlalu sedih mendengar kisah Zunai malah membuat pikirannya kosong sendiri. Andre dan Papa Reza terlihat berdiskusi sedangkan Mama Anisa juga Nadia kembali menginterogasi Zunai.


"Kalau untuk makan sehari-hari sekarang gimana? Kan udah nggak tinggal dekat tetangga yang dulu" tanya Nadia penasaran.


"Cari barang buat dijual, uangnya buat beli makan. Kalau nggak dapat ya cari di tong sampah kan biasanya ada makanan sisa" ucap Zunai dengan polosnya.


Jawaban dari Zunai yang polos itu malah membuat hati Nadia dan Mama Anisa sesak. Sedangkan Anara sudah menangis dalam pelukan Abel karena ternyata selama ini masih banyak anak yang kurang beruntung. Keduanya masih beruntung diberikan keluarga lengkap dan kehidupan yang begitu layak.


"Kalian tinggal sama kakek aja ya. Bahaya lho kalau tinggal di jalanan gitu" ucap Papa Reza mengajak Zunai tinggal bersama dengan keluarganya.


"Selama ini Zunai dan Ega baik-baik saja kok tinggal di jalanan, kek. Nanti kalau kami tinggal sama kalian, rumahnya nggak cukup lho" ucap Zunai dengan polosnya.


Ucapannya begitu polos namun matanya terlihat ada pancaran kekecewaan. Nadia semakin tak tega mendengar ucapan-ucapan yang menyayat hatinya itu. Apalagi jika sudah menyangkut kisah hidup seorang anak kecil yang mungkin saja bisa dijadikan pelajaran dalam kehidupannya sendiri. Papa Reza hanya bisa terkekeh pelan mendengar ucapan Zunai.


"Rumah kakek aku besar lho, kamarnya juga banyak. Kalau kalian tinggal disana masih muat kok" ucap Anara menanggapi ucapan Zunai.

__ADS_1


"Tapi kata budhe dulu waktu tetangga minta untuk aku tinggal di rumahnya yang besar itu, katanya nggak muat kalau Zunai dan Ega tinggal disana" ucap Zunai menimpali.


Anara dan Abel kebingungan dengan yang dimaksud Zunai. Sedangkan para orang dewasa terkejut yang artinya kalau Zunai dan Ega masih lah mempunyai saudara. Entah itu dari pihak ayah atau ibunya, namun sungguh tega jika sampai mereka yang katanya punya rumah besar namun tak bisa digunakan untuk menampung dua anak kecil seperti Zunai dan Ega.


Andre bahkan kini sudah mengepalkan kedua tangannya karena merasa kesal dengan orang yang disebut Zunai sebagai budhe itu. Kalau memang saudara, harusnya saling membantu apalagi ini anak kecil. Mereka tak habis pikir dengan jalan pikiran orang-orang itu.


"Rumah kakek muat untuk kalian tinggali, bahkan Ega bisa main sepak bola disana" ucap Papa Reza membuat Zunai menatap polos kearahnya.


Mata Zunai terlihat berbinar cerah mendengar apa yang diucapkan oleh Papa Reza itu. Namun seketika matanya meredup karena tiba-tiba mengingat sesuatu. Bahkan Zunai langsung menatap kearah Ega yang masih tertidur pulas bersama dengan Alan dan Arnold diatas karpet.


"Zunai dan Ega nggak mau ngrepotin oranglain. Lebih baik kita tetap tinggal seperti biasa saja, kakek" ucap Zunai sambil menggelengkan kepalanya.


Nadia begitu salut dengan kepintaran dan rasa tak enak hati pada oranglain yang dimiliki oleh Zunai bahkan ia juga tak mau dianggap memanfaatkan orang baik yang baru saja menolongnya itu. Bahkan kini Nadia langsung mencium pipi Zunai yang terlihat gembul itu dengan begitu sayangnya.


"Kalian tetap tinggal sama kita aja ya. Nanti kalau kalian nggak mau tinggal sama kami, nenek tuh punya kaya yayasan untuk membantu anak-anak kecil seperti kalian biar bisa sekolah. Nanti kalian bisa pilih tinggal di rumah kami atau disana" ucap Nadia dengan lembut.


Zunai terlihat terdiam mendengar saran dari Nadia. Sebenarnya ia sudah nyaman dengan perlakuan lembut keluarga ini namun Zunai tak mau memanfaatkan kebaikan mereka dengan ingin ikut tinggal bersama. Pastinya nanti juga mereka ada kesibukan sendiri selain mengurus keduanya. Apalagi Zunai melihat sudah ada banyak anak kecil disini.


"Sudah yuk kita pulang sekarang. Zunai dan Ega ikut kami dulu, biar malam ini bisa istirahat dengan nyenyak. Zunai pikirkan dulu ya tentang saran dari tante Nadia" ucap Papa Reza membuat gadis itu hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Sepertinya Zunai masih bingung akan bagaimana kelanjutannya. Ia juga harus memikirkan nasibnya dan masa depan adiknya kalau terus-terusan tinggal di jalanan. Akhirnya Papa Reza keluar dari ruangan itu untuk menyelesaikan pembayaran sedangkan Mama Anisa langsung menggendong Alan. Nadia menggendong Ega sedangkan Andre membawa Arnold diikuti oleh Anara dan Abel menggandeng Zunai.


__ADS_2