
"Maaf... Maafkan aku yang kurang bersyukur atas apa yang Tuhan kasih. Harusnya aku bersyukur karena masih didampingi orang-orang yang tulus menyayangiku. Aku hanya takut orang-orang yang ada didekatku menghina dan menjauhi diriku karena kondisi fisikku yang tak sempurna" ucap Andre dengan mata berkaca-kaca.
Ini kedua kalinya Andre menangis dan menampakkan kelemahannya didepan Nadia. Nadia tahu kalau ujian ini begitu berat bagi Andre, namun sebisa mungkin laki-laki itu harus bisa bangkit. Ada tiga anak kecil yang menjadi tanggungjawabnya dan Andre harus bisa bangkit lagi.
"Tolong panggilkan anak-anakku kesini. Aku ingin meminta maaf pada mereka" ucapnya dengan tatapan permohonan.
"Sebelum itu, hapus air matamu dulu. Kau sudah seperti zombie jika matamu memerah, nanti anak-anakmu pada kabur karena ketakutan" ejek Nadia.
Andre yang mendengar ucapan Nadia pun dengan sigap menghapus air matanya dengan kasar. Untung saja tak mengenai luka diwajahnya yang masih diperban. Nadia hanya tertawa melihat Andre yang tengah kesal dan menatapnya dengan tajam.
Melihat hal itu, Nadia segera saja kabur melarikan diri dengan cepat sebelum mendapatkan ceramah panjang lebar dari calon suaminya itu. Andre hanya terkekeh geli dengan tingkah Nadia yang buru-buru pergi, padahal walaupun berjalan pelan pun dia takkan bisa mengejar gadis itu. Ah... Jika mengingatnya, kini ia kembali tersadar atas kondisinya yang tak sempurna.
"Maafkan aku yang tak mempunyai fisik sempurna hingga nantinya aku akan sering merepotkanmu, Nadia. Namun jika nanti sudah sembuh, aku akan memberikanmu banyak cinta dan apapun yang aku punya hanya untukmu" batin Andre sambil tersenyum.
***
Nadia berjalan keluar dari ruangan Andre kemudian mencari keberadaan Mama Anisa, Papa Reza, dan ketiga bocah kecil itu. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya ia melihat kelimanya tengah duduk di kursi taman. Nadia segera berjalan mendekat dengan langkah pelan kearah mereka. Samar-samar Nadia mendengarkan curahan hati ketiga anak kecil itu membuat hatinya tersayat pilu terutama Abel.
"Nenek, apa papa akan bentak-bentak Abel terus kaya sama mama dan oma? Abel mau tinggal aja di rumah bunda, nggak mau tinggal sama papa" lirih Abel.
"Anara juga ikut kakak Abel. Papa nyeremin kalau lagi marah kaya gitu, Anara takut" ucap Anara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Anol mau inggal ama papa. Kacian kalu diinggal cendilian. Kalu anti dimalahin dan dientak-entak, akalan Anold malahin alik" ucap Arnol bijak dengan ancamannya.
__ADS_1
Nadia terus berjalan kearah mereka dengan menahan tangisnya, namun ia berusaha untuk tetap tersenyum. Mama Anisa dan Papa Reza yang mengetahui kehadiran Nadia pun kemudian berdiri untuk memberikan tempat agar gadis itu memberi pengertian kepada ketiganya.
"Kata siapa sih papa bakalan marah-marah dan bentak-bentak ketiga malaikat kecil bunda ini? Kalau papa marah atau bentak-bentak lagi, kita cuekin saja. Anggap saja sedang mendengarkan dongeng sebelum tidur" ucap Nadia dengan terkekeh geli.
"Papa itu sayang sama kalian lho, dia tadi sedih saat kalian bertiga takut padanya. Ayo kita semangatin papa terus biar cepat sembuh dan bisa jalan lagi" lanjutnya dengan bersemangat.
"Gimana sih bunda? Masa ada orang marah tetapi anggap sebagai dongeng sebelum tidur" ucap Anara dengan bingung.
"Jadi, nanti kalau papa marah-marah kita langsung tidur saja" jawab Nadia asal.
Dengan polosnya, ketiganya menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang diucapkan oleh Nadia. Sedangkan Mama Anisa dan Papa Reza yang mendengarnya hanya menahan tawa apalagi saat melihat Nadia dengan wajah cengonya. Nadia meringis pelan karena jawaban asalnya ternyata dipercayai oleh ketiga bocah kecil itu.
"Jadi ayo kita semangatin papa" seru Nadia mengalihkan pembicaraan.
Keenamnya segera berjalan menuju ke ruang rawat inap Andre dengan langkah ceria. Bahkan Nadia ikut melompat-lompat kecil bersama ketiganya. Orangtua Andre hanya tertawa kecil melihat tingkah Nadia yang bisa menyesuaikan keadaan.
Setelah beberapa menit berjalan, mereka akhirnya sampai didepan ruang rawat Andre. Ketiga bocah kecil itu langsung saja bersembunyi dibelakang tubuh Nadia karena sepertinya mereka masih ketakutan.
"Tidak apa-apa, Bunda akan melindungi kalian kalau papa ngamuk" ucap Nadia menenangkan.
Nadia berjalan lebih dahulu kemudian diikuti oleh ketiga anak kecil itu, setelahnya ada Mama Anisa dan Papa Reza. Nadia menampilkan senyuman manisnya kearah Andre yang tengah berbaring dan menatap kearah pintu yang terbuka. Andre yang melihat ketiga anaknya bersembunyi dibelakang Nadia pun paham bahwa mereka masih takut dengannya.
"Ayo samperin papa tuh. Nanti papa sedih lho kalau kalian sembunyi terus" ucap Nadia.
__ADS_1
Arnold dengan percaya dirinya keluar dari tempat persembunyiannya kemudian berjalan dengan wajah angkuhnya menuju kearah Andre. Arnold seakan-akan tengah menjadi tameng untuk kedua kakak perempuannya agar tak terkena marah dan bentakan dari Andre.
"Alau papa mau malah-malah atau entak-entak, angan cama akak Nala dan Abel. Malahin aja Anol, bial Anol malahin alik papana" ucap Arnold dengan menantang.
Andre, Nadia, Mama Anisa, dan Papa Reza hanya bisa menahan tawanya saat Arnold terlihat bertingkah seperti orang dewasa yang sedang melindungi kedua kakaknya. Anara dan Abel yang dibela oleh Arnold pun segera menampakkan dirinya kemudian berjalan mendekat kearah adik laki-lakinya itu.
"Kalian duduklah disini dulu, jangan marah-marah nanti cepat tua lho" ucap Nadia.
Nadia segera membantu mereka duduk di kursi brankar tempat tidur Andre. Setelah ketiganya duduk, Andre segera menatap ketiganya dengan tatapan lembutnya.
"Maafin papa ya tadi udah marah dan bentak kalian. Papa masih shock karena kondisi papa yang nggak bisa jalan dan main kejar-kejaran lagi sama kalian" ucap Andre dengan tatapan bersalahnya.
Arnold, Anara, dan Abel masih terdiam sambil menatap kearah Andre. Ketiganya terlihat sangat polos bahkan seperti tak paham dengan maksud ucapan dari papanya itu.
"Papa nggak dimaafin ya? Kok pada diam saja" lanjutnya dengan wajah dibuat sedih.
Arnold, Anara, dan Abel serentak melihat kearah Nadia untuk meminta persetujuan, sedangkan gadis itu hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepala dan tersenyum.
"Ita maapin papa, api papa anji alau ndak oleh agi malah-malah dan entak-entak. Alau entak-entak agi anti Anol endang antatnya" ucap Arnold dengan nada mengancam.
Anara dan Abel menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang diucapkan oleh Arnold. Andre yang melihat hal itu langsung mengangkat jari kelingkingnya untuk melakukan pinky promise.
"Janji" ucapnya kemudian menyodorkan kelingkingnya dihadapan ketiganya.
__ADS_1
Dibantu Nadia, ketiganya menautkan jari kelingkingnya kearah milik Andre. Pemandangan itu sangat mengharukan bagi Nadia, Papa Reza, dan Mama Anisa. Mereka hanya berharap kalau tak ada lagi pertengkaran antara anak dan ayah itu.