
Nadia telah menghubungi kedua orangtua Andre dan menjelaskan mengenai kejadian pagi ini tentang ketiga bocah kecil itu. Setelah mempertimbangkan baik dan buruknya, akhirnya Mama Anisa dan Papa Reza memutuskan untuk mengijinkan ketiga cucunya dibawa ke rumah sakit. Mereka berpikir dengan hadirnya Anara, Abel, dan Arnold diharapkan bisa membuat Andre lebih cepat bangun dari komanya.
Nadia membantu ibunya untuk menyiapkan pakaian ketiga anak Andre. Setelah selesai dimandikan, ketiganya langsung saja mendekat kearah Nadia untuk memakai baju. Setelah semuanya rapi, akhirnya keempatnya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Anara dan Abel tidak berangkat sekolah karena kedua gadis itu tak mau jika belum bertemu papanya. Akhirnya Nadia hanya pasrah saja karena mungkin mereka sudah terlalu rindu dengan papanya.
Keempatnya menaiki taksi yang sudah dipesan oleh Nadia. Didalam taksi itu sedari tadi Nadia selalu menghembuskan nafasnya. Entah dia harus bagaimana menyikapi keadaan ini karena nanti di rumah sakit pasti akan ada pemandangan memilukan.
"Bunda, papa nanti pasti senang kan kalau kita jenguk?" tanya Abel tiba-tiba membuat Nadia tersadar dari lamunannya.
"Pasti dong. Papa pasti senang dan semangat lagi untuk sembuh karena anak-anaknya datang. Nanti kalian jangan nangis ya, biar papa nggak sedih" pesan Nadia.
"Ndaklah, Anol ndak kan angis. Anol kan aki-aki, ndak oleh angis" ucap Arnold dengan percaya dirinya.
Nadia yang mendengar ucapan Arnold pun terkekeh pelan melihat gaya sok dewasa cucu bungsu keluarga Farda itu. Sedangkan Anara dan Abel menganggukkan kepalanya yakin kalau mereka takkan menangis jika bertemu dengan papanya. Walaupun tak tahu nanti ekspresi ketiganya ketika sampai dan melihat keadaan papanya yang terbaring lemah itu.
Setelah beberapa menit didalam perjalanan menggunakan taksi, keempatnya segera turun karena sudah sampai ke tempat tujuan. Nadia segera membayar sesuai tarif kemudian menggendong Arnold untuk memasuki lobby rumah sakit. Sedangkan Anara dan Abel berjalan sambil bergandengan tangan didepan Nadia. Setelah melewati beberapa ruangan, akhirnya mereka melihat Mama Anisa dan Papa Reza yang tengah sarapan di kursi tunggu depan ruang ICU.
"Nenek... Kakek..." seru Anara.
Anara segera menarik tangan Abel untuk berlari mendekat kearah Mama Anisa dan Papa Reza. Sedangkan orang yang dipanggil segera saja mengalihkan pandangan kearah suara panggilan itu. Keduanya tersenyum melihat ketiga cucunya datang ke rumah sakit dengan wajah cerianya.
Keduanya segera meletakkan kembali makanannya di kursi kemudian menyambut cucu-cucunya dengan pelukan. Nadia dan Arnold pun segera menyusul kedua gadis kecil itu dan langsung berhambur ke pelukan kedua orangtua itu.
"Kenapa tidak makan di ruang tunggu yang sudah kita pesan saja, ma?" tanya Nadia.
__ADS_1
"Nggak papa, enakan disini. Dekat sama Andre" jawab Mama Anisa.
Nadia sangat tahu bagaimana perasaan Mama Anisa kini yang selalu ingin didekat anaknya, bahkan matanya terlihat sendu dan terlihat sekali kalau ia tengah memaksakaan untuk tersenyum.Akhirnya ketiga bocah kecil itu ikut duduk disana bersama nenek dan kakeknya sambil disuapi makanan, padahal tadi sebelum berangkat mereka sudah sarapan.
"Papa dimana?" tanya Anara setelah selesai dengan makanannya.
"Papa ada didalam istirahat" jawab Papa Reza sambil menunjuk kearah ruangan dengan sebuah pintu tertutup rapat.
"Kok kita nggak masuk? Papa udah makan belum?" tanya Abel dengan polosnya.
Ketiga orang dewasa disana hatinya mencelos mendengar pertanyaan dari Abel itu. Mereka belum mengerti apa-apa tentang kondisi koma dan harus menunggu entah sampai kapan pasien akan terbangun, namun harus dihadapkan dengan kondisi seperti ini.
"Udah dong, papa udah sarapan" ucap Nadia dengan menahan tangisnya.
"Kita mau bertemu papa" ucap Abel dan diangguki kedua saudaranya.
"Kita lihat papa dari pintu kaca itu saja ya, soalnya papa lagi istirahat. Sama dokter nggak boleh diganggu dulu" ucap Nadia.
Ketiganya berpikir dengan serius sambil saling menatap, kemudian secara bersamaaan mereka menganggukkan kepalanya. Mama Anisa hanya terkekeh pelan melihat tingkah lucu ketiga cucunya itu.
Nadia segera menggendong Anara kemudian mendekatkannya kearah pintu kaca itu. Melihat papanya terbaring lemah dengan banyaknya alat yang menempel pada tubuhnya membuatnya menitikkan air matanya.
"Bunda, itu pasti sakit kan ya papa ditempeli selang banyak sekali" ucap Anara.
__ADS_1
"Enggak dong, kan itu untuk kesembuhan papa" ucap Nadia.
"Sekarang Anara berdo'a ya untuk kesembuhan papa" lanjutnya.
"Ya Allah, sembuhkanlah papa biar bisa temani kami main dan jalan-jalan lagi. Anara nggak akan nakal lagi kok kalau papa nanti udah sembuh" ucap Anara lirih.
Nadia, Mama Anisa, dan Papa Reza memalingkan wajahnya kearah lain karena tak sanggup melihat wajah Anara yang sudah sembab dengan air mata. Bahkan dengan mendengar harapan dari Anara pun hati mereka terasa dicubit. Setelah Nadia menjauhkan Anara dari pintu itu, kini giliran Papa Reza yang menggendong Abel untuk didekatkan disana. Tak ada kata terucap dari mulut Abel, dia hanya mengelus kaca yang ada di pintu itu berulang kali seperti sedang memegang kepala papanya.
"Ya Allah, Abel baru saja bertemu dengan papa. Jangan jauhkan Abel dari papa lagi ya, nanti aku nangis. Papa harus sembuh biar bisa segera menikah dengan bunda lalu kita kumpul sama-sama lagi. Cepat sembuh papa, Abel dan yang lainnya menyayangimu sangat" batin Abel didalam hati.
"Udah kakek" ucap Abel kepada Papa Reza yang menggendongnya.
Walaupun tanpa mengucapkan apapun, namun mereka semua tahu kalau Abel sangat sedih melihat papanya yang hanya bisa tidur diatas kasur rumah sakit. Kini giliran Arnold yang digendong Mama Anisa mendekat kearah pintu.
"Papa, napa tidul mulu atas kasul. Yo ain bola cama alan-alan ke mall. Papa ndak acik, tidul telus" gerutu Arnold.
Walaupun nadanya seperti mengomel namun dapat mereka melihat kalau Arnold tengah menyembunyikan kesedihannya. Namun melihat tingkah Arnold seperti itu jelas membuatnya terkekeh pelan.
"Dah nek" lanjutnya.
"Arnold nggak mau berdo'a agar papa epat sembuh?" tanya Mama Anisa.
"Ndak, anti uga cembuh cendili. Papa kan uma tidul, ndak cakit" ucap Arnold dengan cuek.
__ADS_1
"Baiklah" pasrah Mama Anisa.
Orang-orang dewasa itu dibuat frustasi oleh ucapan Arnold yang terlihat tak peduli, padahal matanya saja sudah berkaca-kaca ingin menangis. Ketiganya segera menghambur ke pelukan Nadia, namun mereka menahan tangisnya agar tak pecah sesuai janji tadi dirumah. Mereka tak mau membuat papanya sedih jika menangis, itulah yang ada dibenak ketiganya.