
Semenjak tahu jika Arnold trauma saat melihat seragam sekolah dan yang menyangkut semua itu, Abel dan Anara selalu mebawa baju ganti. Jadi sebelum pulang ke rumah, keduanya selalu mengganti seragamnya dengan pakaian yang dibawanya. Mereka tak mau jika sampai adiknya ketakutan karena melihat seragam sekolah yang keduanya pakai.
"Ayo kita pulang" ajak Abel kepada Anara setelah mengganti pakaiannya.
Anara menganggukkan kepalanya kemudian mereka berjalan keluar kamar mandi sambil bergandengan tangan. Keduanya berjalan beriringan sambil berbincang seru sampai akhirnya langkah mereka terhenti saat mendengar suara keributan dari arah gudang dekat kantin. Memang keduanya tadi mengganti pakaian di kamar mandi dekat kantin lantai bawah sehingga harus melewati gudang.
Anara dan Abel saling pandang seakan sedang berkomunikasi. Mereka bimbang akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi atau membiarkan saja. Pasalnya suasana di sekolah ini sudah sepi sehingga kalau mereka terjadi sesuatu takkan ada yang menolongnya.
"Nara takut kak, mending kita pulang aja yuk" ajak Anara berbisik pada kakaknya.
"Nanti dulu, ini nanti kalau keributan itu ada yang luka kita harus membantunya dong. Mana disini sepi, kasian kan" ucap Abel kekeh dengan keputusannya.
Abel ingin membantu seseorang yang ada didalam karena sepertinya keributan itu akan menyebabkan seseorang tersakiti. Sedangkan Anara merasa ketakutan karena bisa saja malah mereka nantinya yang kena batunya jika ikut campur.
"Cepat kerjakan".
"Tidak, ku sudah tak mau jadi pesuruhmu".
Dugh... Dugh...
"Arrghhhh... Jangan pakai kekerasan dong".
Teriakan bahkan suara pukulan terdengar dari arah gudang itu membuat Abel yakin jika keributan itu menimbulkan perkelahian. Terlebih perdebatan keduanya sepertinya tentang masalah seseorang yang tak ingin disuruh-suruh.
"Ampun...." teriak orang didalam.
Sontak saja mendengar teriakan itu Anara dan Abel sampai berjengit kaget, keduanya begitu terkejut. Bahkan tanpa basa-basi Abel langsung saja membuka pintu gudang itu dengan kasar.
__ADS_1
Brakkk...
Orang yang ada didalam gudang itu sontak saja mengalihkan perhatiannya kearah yang membuka pintu. Saat pintu terbuka terlihatlah dua orang siswa sekolah ini yang mana salah satunya sudah tergeletak di lantai. Sedangkan yang satunya berada diatasnya, Anara dan Abel sampai menutup mulutnya tak percaya dengan adegan itu.
"Dino..." seru Anara dan Abel bersamaan.
Ternyata yang tergeletak di lantai itu adalah Dino, teman sekelas mereka. Namun mereka tak mengenal siapa yang telah menghajarnya itu, dari tanda di seragamnya bahwa siswa yang berada diatas tubuh Dino itu sepertinya adalah kakak kelas kelasnya.
Siswa yang berada diatas tubuh Dino itu langsung saja beranjak dari posisinya karena sepertinya ia mulai panik. Ia panik karena ada seseorang yang mengetahui aksinya padahal selama ini dia aman-aman saja. Dengan gerakan cepat, siswa laki-laki itu langsung menarik tangan Anara untuk disanderanya.
"Kalau sampai kalian melaporkan kejadian ini kepada pihak sekolah, aku jamin gadis ini akan tinggal nama saja" sentak siswa itu.
Abel ketakutan karena tiba-tiba saja bayangan dulunya ia dipukuli bahkan disiksa mulai merasuki pikirannya. Terlebih gudang ini sepi dan gelap seperti dulunya saat ia dikurung oleh neneknya. Keringat mulai bercucuran di dahi Abel bahkan wajahnya sudah pucat karena panik yang berlebih.
Dino sudah tak bergerak lagi diatas lantai membuat Abel dikuasai ketakutan bahkan melihat saudaranya dipegang erat oleh siswa itu. Bahkan Anara menatapnya dengan tatapan permohonan untuk segera ditolong.
Bahkan Anara sudah memberontak agar dilepaskan namun siswa itu tak mau melepaskannya. Panggilannya kepada sang kakak juga diabaikan membuatnya takut terlebih melihat wajah Abel yang ketakutan.
"Abel kuat, ada Nara dan Dino yang harus kamu selamatkan. Lawan traumamu, buktikan kalau kamu bukan perempuan yang lemah" batin Abel mencoba mensugesti dirinya agar berani melawan.
Saat Abel hendak mendekat kearah Anara, tiba-tiba saja ia mendengar suara seseorang sedang mengunci pintu dekat gudang. Abel langsung saja berlari keluar gudang kemudian berteriak meminta tolong karena ia yakin jika itu adalah penjaga sekolah ini.
"Tolong... Tolong... Pak, tolong adik dan teman saya" teriak Abel.
Dua penjaga sekolah yang tengah mengunci dan memeriksa semua ruangan pun langsung berlari kearah Abel yang panik.
"Ada apa, dek? Kenapa belum pulang jam segini?" tanya salah satu penjaga sekolah itu.
__ADS_1
"Tolong adik dan teman saya di gudang" seru Abel tanpa menjawab pertanyaan penjaga sekolah itu.
Keduanya mengangguk kemudian berlari kearah gudang bersama dengan Abel. Saat akan sampai ke gudang, tiba-tiba saja siswa yang menjadi pelaku itu juga keluar dari pintu.
"Pak, tangkap dia. Dia yang sudah memukuli Dino" teriak Abel.
Dengan sigap salah satu penjaga sekolah itu menangkap siswa itu kemudian tangannya dikunci ke belakang. Walaupun mereka tak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi, namun terlihatSedangkan penjaga satunya langsung masuk kedalam gudang bersama Abel. Terlihat disana Dino yang masih belum sadar dari pingsannya dan Anara sedang memegang pelipisnya yang berdarah.
"Astaga... Anara..." seru Abel kemudian memeluk saudaranya itu.
"Ayo kita bawa keduanya keluar" ajak penjaga sekolah itu.
Abel menganggukkan kepalanya kemudian memapah adiknya yang memeluknya dari samping. Sedangkan penjaga sekolah itu menggendong Dino untuk dibawa ke rumah sakit. Ternyata penjaga sekolah yang satunya sudah membawa siswa itu ke ruang kepala sekolah dan meminta Anara juga Abel segera kesana.
Kedua penjaga sekolah langsung membawa Dino ke rumah sakit dengan ijin dari guru yang masih ada disana. Bahkan ada satu guru yang menemani sedangkan yang lainnya memilih untuk membawa Abel dan Anara yang masih ketakutan itu ke ruang kepala sekolah.
"Biar ibu obati luka di pelipis kamu, nak" ucap salah satu guru membawa kotak obat.
Setelah sampai di ruang kepala sekolah, siswa laki-laki itu masih duduk disana dengan kepala menunduk. Sedangkan Abel dan Anara memilih duduk menjauh dari siswa itu karena sejak tadi kedua bersaudara itu masih shock dengan kejadian yang baru saja menimpa.
"Bu, tolong kasih tahu sopir yang menjemput kami untuk membawa bunda atau papa ke sekolah" ucap Abel dengan tatapan permohonan.
Salah satu guru langsung keluar dari ruang kepala sekolah untuk melaksanakan apa yang diminta oleh Abel. Anara sudah diobati pelipisnya yang terluka itu dengan posisi masih memeluk kakaknya. Baru kali ini Anara berada di posisi yang menegangkan membuatnya ketakutan saat ini.
***
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Nadia yang baru saja masuk kedalam ruang kepala sekolah.
__ADS_1
Nadia yang mendapatkan telepon dari sopir yang biasa mengantar jemput Anara tentunya kaget karena anaknya sekarang sedang berurusan dengan kepala sekolah. Tentunya wanita itu langsung pergi menemui anaknya dengan menitipkan Arnold dan Nilam kepada Mbok Imah.