Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kedatangan Fikri


__ADS_3

Fikri dan Nenek Hulim datang ke rumah keluarga Farda untuk bersilaturahmi sekaligus bocah kecil itu ingin menemui kedua adiknya. Saat mereka dipersilahkan masuk oleh Mbok Imah, keduanya disuguhkan wajah-wajah tegang dari penghuni rumah. Ingin bertanya dengan Mbok Imah, namun wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya pertanda tak tahu apa yang terjadi.


"Bunda Nadia, Om Andre, Nenek..." seru Fikri dengan langkah cerianya.


Awalnya ia ragu untuk memanggil mereka, namun seakan tahu jika suasana sedang tak baik maka Fikri memutuskan untuk berseru. Setidaknya dengan kehadiran Fikri, mereka akan lebih santai dalam berbincang. Semua orang yang ada di ruang keluarga mengalihkan perhatiannya kearah suara Fikri. Fikri yang dilihat oleh semua orang disana pun langsung bersembunyi di belakang neneknya. Ia sungguh malu diperhatikan secara intens seperti itu.


Para orang dewasa yang ada disana langsung menetralkan raut wajahnya masing-masing. Justru mereka tersenyum melihat kedatangan Fikri dan Nenek Hulim. Nenek Hulim pun dengan segera menggandeng tangan Fikri untuk segera duduk di sofa ruang keluarga.


"Kami kesini karena Fikri sudah kangen dengan adik-adiknya. Sekalian saya mau mengucapkan terimakasih kepada keluarga ini karena sudah menolong cucu saya" ucap Nenek Hulim mengatakan tujuannya.


"Sama-sama, bu. Lagi pula sesama manusia kan memang harus saling tolong menolong. Kalau nggak mau nolongin antar sesama berarti bukan manusia" ucap Mama Anisa sambil terkekeh pelan.


Semua yang ada disana tertawa mendengar guyonan yang dilayangkan oleh Mama Anisa. Terlebih suasana yang tadinya begitu tegang seketika mencair. Fikri juga sudah tak malu-malu lagi karena ternyata mereka semua begitu terbuka atas kedatangannya. Terutama Papa Reza dan Papa Nilam yang tatapannya tajam itu baru saja ia temui hari ini.


"Fikri mau ketemu sama Arnold dan Alan ya? Arnold dan Alan nya ada di kamar atas karena si gembul satu itu sedang demam" ucap Nadia.

__ADS_1


Fikri dan Nenek Hulim terkejut mendengar pernyataan Nadia yang mengatakan jika Arnold sedang demam. Terlihat sekali kalau keduanya begitu khawatir mendengar ucapan dari Nadia itu. Mbok Imah diminta Nadia untuk mengantarkan Fikri ke kamar anak-anak sedangkan Nenek Hulim memilih berada di ruang keluarga.


"Kalau boleh tahu, kalian tad kok mukanya tegang semua itu kenapa? Mungkin nenek bisa bantu kalian untuk menyelesaikan sesuatu jika itu memang bisa saya lakukan. Terlebih saya ingin membalas budi apa yang sudah kalian lakukan pada cucuku" ucap Nenek Hulim setelah melihat Fikri naik keatas tangga.


Nadia dan Andre saling memandang bahkan langsung melihat kearah orangtuanya untuk memberikan kode satu sama lain. Namun mereka tak ingin banyak orang mengetahui hal ini karena bisa-bisa nanti masalahnya bertambah meluas. Terlebih mereka juga belum terlalu kenal dengan Nenek Hulim bahkan bagaimana perangainya.


"Kalian tak perlu khawatir kalau aku akan menusuk kalian dari belakang atau membuat masalah ini jadi tambah rumit. Disini nenek memang berniat membantu jika memang saya bisa melakukannya. Bahkan saya berani mempertaruhkan nyawa saya jika memang saya berkhianat di belakang kalian" lanjutnya dengan tegas.


Melihat ada keraguan di mata keluarga Nadia, membuat Nenek Hulim langsung menjelaskan maksud dari ucapannya itu. Ia tak ingin jika maksudnya ini disalahartikan oleh mereka semua. Sedangkan Nadia dan yang lainnya merasa tak enak telah mencurigai maksud baik dari Nenek Hulim.


"Bukan begitu maksud kami, nek. Nenek kan sekarang lagi fokus dengan permasalahan Fikri dan kedua orangtuanya. Kami tak ingin membebani nenek dengan masalah kami, begitu" elak Nadia tak enak hati.


Akhirnya Nadia menjelaskan permasalahan yang ada di keluarganya setelah mendapatkan persetujuan dari sang suami dan kedua mertuanya. Dimulai dari Arnold yang trauma akibat kekerasan yang dialami di sekolah hingga pelakunya yang sangat susah di proses hukum. Bahkan kasusnya hanya sampai penyidikan terus walaupun sudah berjalan hampir satu bulan lebih. Hal ini yang membuat kebingungan, bahkan sudah melakukan memviralkan kasus ini namun tetap saja jalan di tempat padahal bukti sudah lengkap.


"Siapa nama pelakunya?" tanya Nenek Hulim penasaran.

__ADS_1


"Namanya Ica dan Dinda kalau tidak salah" jawab Nadia.


"Lengkapnya?" tanyanya.


Mereka tak langsung menjawab karena memang tak hafal dengan nama lengkap pelakunya. Andre bergegas membuka ponselnya karena disana ada data-data mengenai pelaku dan juga orangtuanya. Setelah mendapatkannya, Andre memberikan ponsel itu kepada Nenek Hulim. Saat membaca apa yang ada didalam ponsel milik Andre, wajahnya begitu terkejut bahkan menatap tak percaya.


"Ini beneran nama orangtua pelaku itu Argio Yusafa?" tanya Nenek Hulim dengan tangan yang mengusap dadanya lembut.


"Benar, nek. Itu ayah dari Ica, salah satu pelakunya. Bahkan kemarin dia yang meminta kami untuk tak melanjutkan perkara ini dengan memberikan uang ganti biaya rumah sakit. Namun sampai sekarang juga tak ada biaya ganti itu" ucap Andre menjelaskan.


Nenek Hulim menatap tak percaya dengan ucapan dari Andre bahkan pandangannya mengarah ke semua orang yang ada disana dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit keraguan, kasihan, dan rasa bersalah pada mata tua itu saat melihat kearah semua orang yang menatapnya penasaran.


"Maafkan nenek. Argio Yusafa itu adalah orang kepercayaan nenek di bisnis tambang yang ada di kota sebelah. Bahkan kemarin ia meminta tolong nenek untuk membacking keluarganya terutama anaknya yang sedang terjerat kasus pencemaran nama baik. Nenek yang memang mempunyai kenalan di petinggi intansi berwajib dan pengadilan tentu membantunya karena mereka membuat cerita yang berbeda dengan versi kalian. Yang jelas menurutnya adalah kalian lah yang bersalah" ucap Nenek Hulim dengan berderai air mata.


Sungguh Nenek Hulim masih tidak percaya jika orang kepercayaannya berbohong padanya. Padahal selama ini ia begitu percaya padanya untuk mengurus bisnis pertambangan yang dulunya dikelola oleh almarhum suaminya. Bahkan anaknya saja tak tahu kalau ia mempunyai bisnis itu. Sehingga Nenek Hulim yang kasihan pun akhirnya mau membantunya dengan mengerahkan beberapa orang penting.

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari Nenek Hulim, semua yang ada disana terkejut bahkan menatap tak percaya. Ternyata memang benar dugaan mereka jika ada orang hebat dibalik proses kasus yang sangat lama ini. Terlebih hal ini melibatkan orang-orang penting yang tak bisa diusik sama sekali oleh orang luar. Ditambah Nenek Hulim ternyata orang kaya yang mungkin kekuasaannya melebihi keluarga Andre. Pantas saja kasus yang mereka laporkan ini berjalan di tempat saja.


Keluarga Andre tentunya bingung harus berbuat apa sekarang. Sepertinya jika mereka melawan juga takkan bisa menembus sampai akhir jika yang dilawan saja backingan di belakangnya adalah orang-orang penting. Suasana di dalam ruang keluarga itu begitu hening karena masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi setelah mengetahui fakta ini.


__ADS_2