
"Terimakasih bu... Terimakasih" ucap para karyawan itu dengan mata berkaca-kaca.
Sebenarnya Mama Anisa, Nenek Hulim, dan Nadia memang tak berniat untuk memenjarakan karyawan-karyawan itu. Terlebih sedari kemarin memang mereka hanya diam saja walaupun tak melakukan pembelaan sama sekali. Lagi pula mereka pasti mempunyai keluarga yang harus diberi nafkah.
Namun untuk pemilik toko dan Inge itu memang harus diberi pelajaran lebih karena mereka telah menyinggung bahkan menantang keluarga Farda apalagi sampai membuat tangis Alan. Nenek Hulim membisikkkan sesuatu kepada seorang polisi dan dia langsung menganggukkan kepalanya mengerti.
"Silahkan kalian bisa keluar kecuali yang dua ini" ucap polisi itu kemudian membuka pintu gembok.
Beberapa karyawan itu keluar kemudian mengucapkan terimakasih kepada Nenek Hulim karena sudah dibebaskan dengan mudah. Sedangkan pemilik toko itu dan Inge menganga tak percaya dengan peristiwa yang baru saja mereka lihat.
Dengan semudah itu yang lainnya bebas dan hanya melihat Nenek Hulim membisikkan sesuatu lalu semuanya bisa keluar. Mereka tak menyangka dengan kekuasaan Nenek Hulim yanh begitu mudahnya meminta menangkap dan mengeluarkan seseorang dari penjara.
"Nggak bisa gitu dong, pak. Kita juga harus keluar" ucap Inge saat melihat pintu itu digembok kembali oleh seorang anggota polisi.
Polisi itu tak menggubris sama sekali ucapan dari Inge bahkan setelah menguncinya, ia segera saja pergi dari situ. Nenek Hulim menatap sinis kearah pemilik toko itu dan Inge yang begitu kesal. Setelah polisi itu pergi keduanya segera menatap kearah Nenek Hulim dengan tatapan penuh kebencian.
"Jangan mentang-mentang anda punya kekuasaan yang lebih tinggi hingga bisa dengan seenaknya menyalahi aturan hukum seperti ini. Kami tak bersalah tapi cucu kalian itu yang ingin mengacaukan toko kami, untung ada Inge yang menegur" ucap pemilik toko itu.
Ternyata pemilik toko itu masih menyalahkan Alan dan Fikri yang berakhir membuat keributan di tokonya. Padahal Nenek Hulim mempermasalahkan tentang fitnah yang dilakukan mereka pada keluarganya juga perlakuan tidak menyenangkan. Jelas saja tak menyenangkan karena Inge sudah menegur Alan dan Fikri hingga berakhir mengejek anak kecil.
"Belum sadar juga kalian atas apa yang telah dilakukan. Kalau kaya gini mending kita adu sumo aja gimana sih buat kasih pelajaran kepada mereka?" ucap Nadia menantang keduanya.
"Ayo aja kalau nenek, mah. Walaupun tua-tua begini jangan harap saya mau mengalah" ucap Nenek Hulim yang lagsung menyingkap baju lengan panjangnya keatas.
__ADS_1
Terdengar bunyi beberapa gelang emas dan berlian beradu satu sama lain karena saat lengan baju disingkap membuat semuanya turun. Pemilik toko itu dan Inge meneguk salivanya kasar karena melihat Mama Anisa dan Nenek Hulim sudah bagaikan toko emas berjalan.
"Sombong..." seru Inge dan pemilik toko itu.
"Dih... Siapa yang sombong? Lagian kan tadi diri ini hanya ingin memperlihatkan otot biar lihat gimana nih kalau sumo kira-kira kuat apa enggak. Eh tapi kok situ fokusnya sama gelang saya? Baru lihat berlian kaya gini ya? Iri?" ucap Nenek Hulim sambil tertawa.
Pemilik toko itu dan Inge tersenyum kecut melihat apa yang dikenakan oleh Nenek Hulim. Memang benar adanya jika mereka belum pernah memiliki perhiasan emas atau berlian sampai sebanyak itu. Keduanya menghela nafas lelah karena merasa perdebatan ini takkan pernah selesai bahkan mungkin masalahnya akan terlalu berlarut-larut.
"Sudah... Sudah... buat apa kita berlama-lama disini sih, kurang kerjaan banget. Ayo kita pergi lagian bentar lagi juga kasus mereka akan diproses. Biarin aja mereka tidur disini sama kecoak-kecoak" ucap Nenek Hulim mengakhiri perdebatan.
"Pengen bebas? Minta maaf dong, jangan gengsi dipelihara" seru Mama Anisa dan Nadia bersamaan.
Nenek Hulim memberi kode pada Nadia dan Mama Anisa untuk segera pergi dari sana. Nadia dan Mama Anisa menganggukkan kepalanya mengerti kemudian ketiganya diam-diam tersenyum menyeringai. Seakan mereka sudah punya suatu kejutan untuk dinikmati pemilik toko dan Inge. Benar saja, tak berapa lama terdengar teriakan yang membuat ketiganya menahan tawa.
Kecoak....
Tadi saat Nenek Hulim berdebat, Nadia dan Mama Anisa melemparkan beberapa kecoak mainan milik Alan juga Arnold ke dalam ruangan jeruji besi itu. Mereka kini menahan tawanya sampai di luar halaman kantor polisi. Sesampainya di tempat parkir mobil, ketiganya langsung tertawa terbahak-bahak.
Hahaha...
"Rasakan tuh mereka pasti dimarahin sama polisi karena buat keributan. Mana takutnya sama kecoak mainan lagi" ucap Mama Anisa sambil tertawa.
"Tapi habis ini siap-siap kena omelan Alan dan Arnold karena mainannya kita ambil" ucap Nadia terkekeh pelan.
__ADS_1
Nenek Hulim hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ide dari Nadia kemarin kalau tak perlu menggunakan kekerasan agar mereka merasa ketakutan. Cukup kasihkan mereka cicak atau kecoak saja pasti mereka sudah berteriak terlebih selama ini kehidupan keduanya sudah nyaman tanpa adanya gangguan hewan kecil seperti itu.
Akhirnya mereka memilih untuk meminjam mainan Alan dan Arbold. Walaupun bukan meminjam namun mengambilnya secara diam-diam. Mereka pun segera saja masuk dalam mobil meninggalkan kantor polisi untuk pulang ke rumah. Sepertinya untuk segala sesuatunya mereka akan menyerahkannya pada pengacara keluarga. Terutama untuk memberikan mereka efek jera agar bisa berubah lebih baik kedepannya.
***
"Nenek, ana oleh-olehna?" Todong Alan didepan pintu masuk rumah.
Saat mendengar suara mobil yang masuk kedalam halaman rumah, Alan segera saja berlari menuju keluar rumah. Sedangkan Arnold mengikutinya dari belakang karena bagaimana pun juga ia harus menjaga adiknya itu. Sedari tadi keduanya hanya duduk di ruang keluarga dengan mainan-mainan yang membosankannya.
"Oleh-oleh apa? Kan nenek nggak dari jalan-jalan kok minta oleh-oleh" tanya Mama Anisa.
"Nak aja ndak kacih ita oleh-oleh. Udah ambil ainan ita cekalang ndak kacih ita antina" ucap Alan sambil berkacak pinggang.
Ketiganya hanya bisa cengengesan karena ulang mereka yang mengambil kecoak mainan itu ternyata ketahuan oleh Alan. Kemungkinan besar Mbok Imah yang memberitahu mereka karena tadi ia melihat ketiganya mengambil dari kotak mainan.
"Angan nges-ngesan ya, Alan celius" lanjutnya.
Ketiganya menahan tawanya dan pura-pura menundukkan kepalanya merasa bersalah. Mereka sudah bersiap mendengar ceramah dan teguran dari Alan disertai Arnold yang hanya menyandarkan badannya di pintu rumah. Mereka tak mau jika nantinya Alan akan marah saat tak menganggap ketiganya serius mendengarkan apa yang menjadi unek-unek bocah laki-laki itu.
"Unda, nenek... Ambil balang olang anpa jin tu dosa" seru Alan dengan air liur yang keluar bisa begitu banyaknya dari mulut bocah tampan itu.
"Mereka nggak tahu dosa, dek. Soalnya kan kalau lagi berangkat pengajian pasti cuma ngerumpi sama ibu-ibu yang lain" sindir Arnold.
__ADS_1
Astaga... Ketiganya tak menyangka mendengar ucapan berupa sindiran pedas dari Arnold. Ketiganya terus menundukkan kepala merasa bersalah dengan apa yang telah mereka perbuat. Sepertinya mereka kapok mengambil mainan keduanya tanpa ijin karena akhirnya pasti ribet.