
Disini lah sekarang Mama Anisa, Nadia, dan Nenek Hulim berada di toko mainan bersama dengan Arnold juga Alan. Setelah mereka tadi mendapatkan ceramah panjang lebar dari dua bocah laki-laki itu, keduanya meminta orang dewasa untuk mengganti mainan yang diambilnya.
Awalnya orang dewasa saja yang ingin pergi agar tak lama berada di luar, namun keduanya kekeh untuk ikut. Bahkan mereka dengan cepatnya langsung berlari masuk mobil saat perdebatan belum usai.
"Buluan blangkat..." seru Alan yang kemudian menggandeng Arnold untuk berlari kearah mobil.
Arnold langsung membuka pintu mobil bagian belakang kemudian masuk kedalam sana. Dengan susah payah ia juga membantu Alan masuk ke dalam mobil.
"Nenek, bunda... Ayo buruan, keburu nanti mainannya habis dan tokonya tutup" seru Arnold.
Ketiga wanita itu hanya melongo tak percaya dengan kedua cucunya yang sudah gerak cepat masuk mobil. Padahal tadi mereka sedang berdebat, namun karena keduanya kekeh ikut maka ketiganya langsung saja kembali ke dalam mobil.
"Ijin sama papa dan kakek dulu. Nanti dikiranya kalian hilang lagi" ucap Mama Anisa.
"Tinggal telfon lho nenek, kenapa repot sekali ijinnya" ucap Arnold acuh tak acuh.
Alan juga menganggukkan kepalanya menyetujui apa ucapan dari kakaknya. Ketiga wanita itu sebenarnya masih berusaha untuk membuat dua bocah itu tak ikut, namun usahanya ternyata gagal. Mereka tetap mau ikut tanpa alasan apapun sehingga Nadia langsung menghubungi suaminya agar tak khawatir jika tak menemukan kedua anaknya di rumah.
***
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Mama Anisa itu sudah berhenti di halaman parkir toko mainan. Arnold meminta membeli mainan di tempat yang berada di area pinggir jalan bukan di mall. Sepertinya Arnold masih teringat dengan kejadian di toko tas kemarin.
"Kita belinya di toko yang pinggir jalan itu aja, nek. Nggak usah ke mall, biar kitanya juga dihargai saat beli walaupun hanya pembelian dalam jumlah sedikit" pesan Arnold tadi.
Nadia yang memang duduk di kursi belakang bersama kedua anaknya pun langsung mengelus kepala Arnold dengan lembut. Ia tersenyum sendu melihat anak-anaknya selalu mengalami kejadian yang membuat trauma terutama dalam bentuk bentakan dan kekerasan. Padahal dia sendiri sebagai ibu sambungnya saja belum pernah membentak anak-anaknya itu.
"Ayo turun" ajak Nenek Hulim.
__ADS_1
Nadia yang masih melamun karena memikirkan kejadian yang menimpa anaknya pun tersentak kaget. Akhirnya Nadia turun dari mobil kemudian membantu kedua anaknya. Mereka berlima masuk ke dalam toko mainan yang memang lumayan besar itu dengan disambut beberapa pelayan dengan ramah.
"Selamat siang... Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pelayan.
"Alan mau eli ainan toak-toak ecil itu" ucap Alan dengan suara tak jelas.
Pelayan disana mengerutkan dahinya heran mendengar kalimat yang tak mereka pahami. Hal ini membuat Alan kesal karena respons pelayan yang lama.
"Maksud adik saya kita mau beli mainan kecoak kecil-kecil" ucap Arnold menjadi penerjamah.
"Tuh tayak bang Anol don, aham macud Alan" kesal Alan.
Para pelayan toko mainan itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mereka menjadi salah tingkah sendiri karena tak bisa mengartikan maksud dari ucapan pembeli. Sedangkan Nadia memberi kode pada para pelayan jika ia minta maaf atas ucapan Arnold. Bagaimana pun juga Nadia merasa bersalah karena anaknya tak sopan seperti itu.
Para pelayan itu pun mengerti dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Akhirnya salah satu pelayan berjalan menuju etalase mainan yang diinginkan oleh Alan dan Arnold. Keduanya mengikuti pelayan itu kemudian menunjukkan beberapa mainan yang diinginkannya.
Pasalnya keduanya meminta para pelayan untuk mengambil mainan yang begitu banyak. Bahkan kini sudah ada dua keranjang berisi full mainan yang diminta kedua bocah laki-laki itu. Nadia, Mama Anisa, dan Nenek Hulim tentunya terkejut dengan apa yang diminta mereka.
"Ini hukuman karena bunda dan nenek suka seenaknya sendiri mengambil barang orang. Lagi pula ini mainan nggak cuma buat kita kok" ucap Arnold dengan santai.
Lagi-lagi ketiganya hanya bisa menekuk wajahnya karena kedua bocah kecil itu selalu mengaitkannya dengan mainan yang diambil mereka. Mereka pun sebenarnya masih bingung dengan maksud mainan itu bukan hanya untuk keduanya namun lebih memilih diam saja. Toh nanti juga akan diberitahu oleh keduanya yang terpenting bukan untuk dirusak.
Setelah hampir satu jam memilih mainan, mereka pun akhirnya menyudahi acara memilih mainannya. Mama Anisa, Nenek Hulim, dan Nadia tentunya hanya duduk saja karena sudah terlalu lelah mengikuti keduanya. Biarlah mereka memilih dengan sesuka hati asalkan barang itu memang berguna.
Namun alangkah terkejutnya saat ketiganya melihat Arnold dan Alan datang dengan wajah berkeringatnya. Bahkan di belakangnya diikuti oleh tiga pelayan toko yang mendorong troli masing-masing. Isi troli begitu penuh dengan mainan membuat mereka shock, sepertinya kedua anak itu memborong seluruh isi dari toko itu.
"Astaga... Kalian beli apaan ini? Kok banyak sekali" ucap Mama Anisa sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Ainan don nek. Tan ini toto ainan ukan toto angunan" ucap Alan sewot.
"Tapi kok banyak banget gini?" ucap Mama Anisa begitu shock.
"Ita itu halus belbagi lejeki engan yan ual, nek. Talo ita bolong, meleka asti bica akan dan epat ulangna" ucap Alan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Mama Anisa mengelus dadanya sabar karena Alan sangat pintar menjawab pertanyaan yang diajukannya. Banyak alasan dan cerdik sekali kedua bocah kecil itu menjawab ucapan dari para orang dewasa. Walaupun ucapannya terdengar bijak, tentunya para pelayan toko malah menahan tawanya karena wajah Alan yang begitu menggemaskan.
"Dah bayal, nek. Angan anyak plotes" ucap Alan menyuruh neneknya itu.
"Besok lain kali kalau nggak usah ambil mainannya mereka. Baru ambil sekali tapi harus ganti berkali lipat" kesal Mama Anisa.
Nadia dan Nenek Hulim tertawa melihat kekesalan dari Mama Anisa. Dengan menampilkan wajah kesalnya Mama Anisa berdiri dari duduknya kemudian berjalan kearah kasir. Petugas kasir dibantu oleh beberapa karyawan lain mulai menghitung semua total mainan yang telah diambil oleh Alan dan Arnold.
"Angan campe telewat ya kak" ucap Alan memperingati.
"Siap bos" ucap kasir itu dengan semangat.
Para karyawan toko itu begitu bersemangat karena akan mendapatkan omset harian yang melebihi biasanya. Pasti pemilik toko ini akan sangat bahagia karena ada yang memborong barang ditempatnya. Setelah hampir setengah jam menghitung dan mengemas semua mainan, akhirnya selesai juga mereka melakukannya.
"Totalnya 25 juta, nyonya" ucap kasir itu.
Beruntung mereka membeli mainan di toko biasa bukan yang di mall. Kalau di mall pasti sudah kenapa biaya lain-lain bahkan mungkin harganya mahal karena pasti bermerk. Mama Anisa menyerahkan sebuah kartu ATM kemudian transaksi dengan cepat selesai.
"Terimakasih sudah borong mainan di tempat kami" ucap semua karyawan toko disana dengan senyuman ramahnya.
"Cama-cama" jawab Arnold dan Alan bersamaan.
__ADS_1