Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kondisi Andre


__ADS_3

Setengah wajah yang diperban dan setengahnya lagi dengan banyak luka goresan. Tangan yang diperban disertai selang-selang yang menempel pada dada, perut yang penuh dengan perban, serta kaki yang diberi gips. Keadaan pasien yang berada di ruang ICU itu sangat memilukan bagi siapapun yang melihatnya, terutama Mama Anisa dan Papa Reza. Karena pasien yang berada di ruang ICU itu adalah anaknya, Andre.


Dilihat dari kondisi mobil Andre yang ringsek dari depan dan belakang, memang sudah sepantasnya jika kondisi korban akan seperti ini. Kedua orangtua Andre segera menjauh dari pintu ruangan itu kemudian duduk di kursi tunggu. Keduanya terdiam dengan pikiran dan hati yang terus berperang, mereka bingung harus memberikan kabar seperti apa kepada Nadia dan ketiga cucunya. Ketiga cucunya itu pasti akan rewel jika Andre tak juga pulang hari ini.


"Bagaimana ini, pa? Apa yang harus kita ucapkan nanti saat cucu-cucu kita bertanya tentang papanya?" tanya Mama Anisa lirih.


"Nanti kita beritahu dulu Nadia agar dia juga ikut memikirkan bagaimana cara kita menghadapi ketiga anak Andre yang sangat kritis itu" ucap Papa Reza.


"Pa, kalau kita pindahkan Andre ke rumah sakit di kota kita bagaimana? Agar kita jauh lebih mudah untuk menjaganya, kita tak mungkin terus berada disini" saran Mama Anisa.


"Iya, ma. Papa juga sedang memikirkan hal itu. Papa akan konsultasi dengan dokter yang merawat Andre apakah kondisinya memungkinkan untuk kita pindahkan dan juga kita harus bertanya pada polisi tentang apa saja yang harus dilakukan agar kita bisa membawa Andre" ucap Papa Reza.


Mama Anisa menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan suaminya. Matanya sedari tadi terus melirik kearah pintu ruang ICU dengan sendu. Sebagai orangtua, dirinya begitu terpukul atas apa yang menimpa anaknya itu. Terlebih melihat kondisinya yang jauh dari kata baik.


Papa Andre segera berlalu meninggalkan istrinya untuk menemui dokter yang merawat Andre. Sedangkan Mama Anisa kembali berdiri menuju pintu ruang ICU dimana Andre dirawat disana.


"Bertahanlah, Ndre. Demi mama, papa, Nadia, dan ketiga anakmu. Mereka sangat menunggu kepulanganmu. Apa kamu nggak mau merasakan malam pertama dengan gadis yang kamu cintai? Tinggal sebulan lagi lho kamu akan menikah dengan Nadia" ucap Mama Anisa dengan terkekeh pelan namun matanya mengeluarkan air mata.

__ADS_1


***


Papa Reza kini berada di ruangan dokter khusus yang merawat Andre. Dirinya begitu gugup saat dokter tersebut sedang menunggu perawat untuk mengambilkan beberapa hasil pemeriksaan milik Andre. Dokter yang melihat Papa Reza gugup pun hanya tersenyum maklum, pasalnya ia pun kalau jadi keluarga korban pasti akan merasakan hal itu. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya perawat yang ditunggu datang dengan beberapa berkas hasil pemeriksaan.


"Hmm... Tuan Reza, saya akan menjelaskan mengenai kondisi korban atas nama Andrean Agustin Farda. Begini tuan, sebagian dari wajah Andrean mengalami kerusakan karena terkena pecahan kaca mobil yang sangat banyak. Untung saja hal itu tak mengenai matanya" ucap dokter itu dengan hati-hati.


Pembukaan yang sungguh menceloskan jantung Papa Reza. Dia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Mama Anisa nanti saat mengetahuinya.


"Silahkan dilanjutkan, dok" ucap Papa Reza menabahkan hatinya.


"Sebagian wajah yang rusak itu akan menimbulkan bekas yang sulit hilang, namun itu bisa dihilangkan dengan cara operasi bedah plastik. Untuk pergelangan tangan sebelah kanan mengalami patah tulang sehingga semalam kami melakukan operasi darurat dengan ijin dari pihak kepolisian. Untuk bagian kakinya yang terjepit badan mobil, mohon maaf jika saya harus mengatakan hal ini. Kemungkinan besar kaki Andrean akan mengalami kelumpuhan, untuk permanen atau tidaknya kita bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut nanti setelah beliau sadar" ucap dokter itu.


"Terimakasih dokter atas penjelasannya. Saya juga mau bertanya, apakah memungkinkan jika saya memindahkan anak saya ke rumah sakit di kota kami? Pasalnya kami tak bisa terlalu lama di kota ini karena masih ada tiga cucu yang harus kami jaga" tanya Papa Reza setelah keluar dari lamunannya.


"Bisa, tuan. Namun kami harus mempersiapkan semua peralatan yang memadai di mobil ambulance agar tidak terjadi sesuatu yang darurat ditengah jalan. Silahkan nanti Tuan Reza menandatangani surat persetujuan wali dan dari pihak kepolisian biar kami yang mengurus semuanya.Namun kemungkinan baru bisa dipindahkan nanti malam atau besok pagi" ucap dokter itu.


"Baik, dokter. Kalau begitu saya ucapkan terimakasih atas semua penjelasannya, saya permisi dulu" pamit Papa Reza.

__ADS_1


Papa Reza keluar dari ruangan dokter dengan gontai, bahkan kakinya terasa lemas tak bertenaga. Dia tak menyangka bahwa kondisi anaknya seperti ini. Berulangkali dirinya menghela nafasnya kasar, bahkan terus meraup wajahnya dan mengacak-acak rambut.


"Bertahanlah, nak. Papa akan melakukan yang terbaik untukmu walaupun harus mencari pengobatan di luar negeri agar bisa mengembalikan kondisimu seperti semula" batin Papa Reza dengan mata berkaca-kaca.


Papa Reza mengusap kasar air mata yang jatuh di pipinya, kemudian berjalan dengan langkah tegapnya bahkan raut sedihnya berubah menjadi datar. Ia takkan pernah menunjukkan kerapuhannya didepan sang istri. Dia akan menjadi kuat untuk istri, anak, dan ketiga cucunya.


***


Nadia mencoba memfokuskan diri kepada ketiga anak Andre. Ia mengurus ketiganya dengan sepenuh hati walaupun pikiran dan hatinya sedang tak bisa diajak bekerjasama. Ia mengantar mereka ke sekolah dan menunggunya bersama Arnold seperti biasa.


"Eh, Mbak Nadia... Udah dengar belum tentang kejadian kecelakaan semalam? Dari TV kok saya lihat ada nama calon suaminya Mbak Nadia menjadi korbannya" tanya salah satu ibu-ibu itu.


Memang benar, pagi ini polisi sudah merilis daftar nama korban yang terlibat kecelakaan beruntun itu. Bahkan dirilis juga daftar korban meninggal dunia, luka berat, dan luka ringan. Namun Nadia tak mau melihatnya karena ia takut apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan. Nadia tak menjawab, namun dia hanya memberikan senyumannya saja.


"Mas Andre masuk dalam daftar yang korban dengan luka berat lho, mbak. Kami turut prihatin ya" ucap ibu-ibu disana.


Deg...

__ADS_1


"Papa napa, unda? Uka? Apana yan uka?" tanya Arnod tiba-tiba.


Ternyata bocah laki-laki kecil itu mendengarkan apa yang diucapkan oleh ibu-ibu disana. Nadia begitu tersentak kaget namun ia berusaha untuk menyikapinya dengan santai walaupun hatinya sebenarnya menangis karena mendengar ucapan itu.


__ADS_2