
Dugh... Dugh... Dugh...
Arghhhh...
"Kakiku kenapa? Ini nggak bisa digerakkan" panik seorang laki-laki yang terduduk diatas brankar tempat tidur.
Laki-laki itu adalah Andre. Ia terbangun dari tidurnya kemudian dibantu duduk oleh perawat yang sedang memeriksa infusnya tadi. Nadia sedang tak berada disana karena sedang membeli makanan untuk sarapannya. Setelah perawat itu memberikan minum dan pergi dari ruangan Andre, laki-laki itu akan menggerakkan kakinya turun kebawah.
Namun ia mendapati bahwa kedua kakinya susah digerakkan dan tak bisa merasakan sesuatu. Hal itu membuatnya panik kemudian memukul-mukul kedua kakinya dengan sebelah tangannya. Pasalnya sebelah tangannya terasa nyeri dan masih diperban.
Kini Andre merasa takut apabila yang ada dipikirannya menjadi kenyataan. Ia terus memukul kakinya dan terus berteriak histeris.
"Arrrgggghhhh... Kakiku" serunya frustasi.
Ceklek...
Nadia yang baru saja kembali dari membeli sarapan dan membuka pintu pun terkejut dengan teriakan histeris dari Andre. Ia segera meletakkan makanan yang dibawanya keatas meja kemudian mendekat kearah brankar tempat tidur Andre. Nadia berusaha untuk menahan tangan Andre yang berusaha untuk memukul kakinya.
"Jangan dipukul, Ndre. Nanti kakinya sakit dan tanganmu luka" ucap Nadia sambil memegang tangan Andre.
"Ini kenapa, Nad? Kakiku nggak ngrasain apa-apa kalau dipukul bahkan nggak bisa digerakin" tanya Andre.
Andre menatap Nadia dengan tatapan bertanya, bahkan wajahnya terlihat sangat khawatir dan ketakutan dengan pikiran buruk yang terus menghantui otaknya. Nadia bingung harus menjawab apa tentang pertanyaan yang Andre ajukan. Ia hanya bisa memeluk laki-laki itu sambil terus mengelus punggungnya.
__ADS_1
"Tenang ya, kita tanyakan sama dokter dulu" bisik Nadia.
Andre menganggukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca, sedangkan Nadia segera melepaskan pelukannya dari laki-laki itu. Nadia memencet tombol untuk memanggil dokter dan perawat yang berada diatas brankar tempat tidur milik Andre. Walaupun ia sudah tahu mengenai kondisi kaki Andre, namun dia ingin agar dokter saja yang menjelaskannya. Ia tak ingin salah berbicara dan membuat Andre tersinggung. Nadia juga segera menghubungi kedua orangtua Andre untuk segera ke rumah sakit.
Setelah selesai menghubungi keluarga Andre, Nadia segera membantu laki-laki itu untuk berbaring diatas kasurnya. Ia mengambilkan minum dan bubur yang sudah tersedia diatas nakas. Andre memakan bubur yang disuapkan oleh Nadia dengan tenang walaupun sebenarnya dia sangat tidak menyukainya. Setelah beberapa suapan masuk kedalam mulutnya, dokter dan perawat memasuki ruangan Andre.
"Permisi, selamat pagi Tuan Andre" sapa dokter itu dengan tersenyum ramah.
Andre menjawabnya dengan anggukan kepala dan wajah datarnya saja. Sedangkan Nadia segera menyingkir dari samping Andre agar memudahkan dokter dan perawat memeriksa keadaan laki-laki itu. Tak berselang lama juga, Mama Anisa dan Papa Reza masuk ke ruangan Andre dengan nafas ngos-ngosan. Sepertinya keduanya habis lari-lari dari halaman rumah sakit ke ruangan Andre.
Saat kedua orangtua Andre sampai di ruangan itu, ternyata dokter dan perawat masih melakukan pemeriksaan kepada laki-laki itu.
"Tadi Andre panik dan sempat histeris karena kakinya nggak bisa digerakkan sampai memukul-mukulnya dengan tangan" bisik Nadia tepat ditelinga Mama Anisa.
Mama Anisa yang mendengar bisikan Nadia seketika menatap tak percaya kearah gadis itu. Hal yang ditakutkan kedua orangtua Andre selama ini adalah laki-laki itu tak menerima keadaannya yang tak sempurna. Sedangkan Papa Reza yang mendengar hal itu walaupun samar pun hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam. Setelah ini dia harus bisa menguatkan Andre agar bisa bangkit lagi.
"Begini tuan dan nyonya, kedua kaki pasien kami nyatakan lumpuh sementara" ucap dokter itu.
Deg...
Jantung Andre bergemuruh bahkan kini pandangannya terlihat kosong. Pancaran tatapan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter itu, sedangkan Nadia dan Mama Anisa hanya bisa memalingkan wajahnya karena tak sanggup melihat raut muka Andre.
"Enggak... Nggak mungkin. Dokter bohong, kedua kakiku pasti bisa buat jalan. Dasar dokter pembohong, saya akan tuntut anda karena memberikan informasi bohong" teriak Andre.
__ADS_1
"Papa, Andre nggak mungkin lumpuh kan? Kalau kaki Andre lumpuh nanti gimana bisa mau main kejar-kejaran sama anak-anak. Pa, jangan diam aja dong" sentaknya dengan frustasi.
Papa Reza mendekat kearah anaknya yang tengah duduk bersandar itu. Pria paruh baya itu segera memeluk anaknya kemudian memeluknya dengan erat.
"Ini semua benar, Ndre. Kedua kaki kamu memang lumpuh, tapi hanya sementara. Dengan minum obat dan terapi rutin, kamu pasti bisa berjalan dengan normal kembali" ucap Papa Reza menjelaskan.
"Nggak... Andre nggak mungkin lumpuh. Bagaimana dengan anak-anak kalau minta ditemani main? Gimana dengan Nadia yang bakalan ninggalin Andre, pa? Nadia nggak mungkin mau menerimaku sebagai suaminya jika aku lumpuh... Arrghhhhh..." teriak Andre dengan memberontak dipelukan Papa Reza.
Nadia yang mendengar hal itu langsung saja mendekat kearah Andre dengan berlinang air mata. Ia tak tahan dengan teriakan Andre yang begitu memilukan.
"Aku nggak akan pernah ninggalin kamu, Ndre. Mau bagaimanapun keadaanmu, aku akan tetap menerimanya. Aku akan mendampingi kamu sampai sehat seperti semula hiks" ucap Nadia sambil menangis.
"Bohong... Kamu nggak akan pernah menerima pria lumpuh sepertiku" sentak Andre.
"Pergi kalian semua, aku malu tidak punya fisik yang sempurna lagi" serunya.
Tanpa mempedulikan pemberontakan Andre, Papa Reza tetap memeluk anaknya itu dengan erat. Ia menyembunyikan kelemahan dan tangisnya dibalik punggung anaknya yang tengah menangis histeris. Sedangkan Nadia segera menjauh dari brankar kemudian memeluk Mama Anisa yang juga menangis histeris. Mama Anisa sangat shock melihat reaksi Andre yang sangat terpukul seperti itu.
Dokter dan perawat disana segera memberikan obat penenang saat Andre sudah mulai akan mencabut infusnya. Papa Reza benar-benar kuwalahan menghadapi Andre yang terus mendorong tubuhnya dengan satu tangan.
"Pergi sialan... Jangan suntik itu" sentaknya saat melihat dokter akan menyuntikan sebuat cairan kedalam tubuhnya.
Tanpa menghiraukan hal itu, beberapa perawat ikut memegangi Andre dan alhasil suntikan obat penenang itu bisa masuk kedalam tubuh laki-laki itu. Tak berapa lama, Andre perlahan mulai tenang dan tertidur dengan damai. Papa Reza segera membenahi posisi tidur anaknya kemudian menyelimutinya. Sejenak ia melihat anaknya yang tertidur pulas itu dengan tatapan sendu. Ia tak menyangka anaknya akan sehancur ini.
__ADS_1
"Saya sarankan untuk keluarga terus mendampingi pasien agar dia bisa keluar dari rasa takutnya" saran dokter itu.
Papa Reza menganggukkan kepalanya kemudian dokter dan perawat itu pamit undur diri. Mama Anisa segera memeluk Papa Reza dan menangis dipelukan suaminya itu. Sedangkan Nadia hanya bisa menenangkan dirinya agar dia tak ikut larut dalam kesedihan ini. Ia harus kuat demi Andre dan ketiga anaknya.