Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Tanpa Nadia


__ADS_3

Satu tahun kemudian...


Hubungan kekeluargaan antara Andre dengan keluarga istrinya renggang setelah kejadian di rumah sakit waktu itu. Adanya salah paham dalam berkomunikasi dan mengambil keputusan membuat hubungan mereka sedikit memburuk. Kejadian satu tahun lalu itu kini membekas dalam ingatan Andre saat dirinya hampir saja kehilangan sang istri karena orangtua Nadia. Kini matanya memandang lurus pemandangan kota dari kaca besar ruangannya sambil menerawang kejadian satu tahun yang lalu.


Saat itu Nadia mengalami kejang-kejang secara berlebihan bahkan dokter sudah menyuntikkan obat penenang untuk meredakannya. Namun jika obat itu terus menerus disuntikkan pada tubuh Nadia, pasti juga akan berakibat buruk pada sel-sel tubuh pasien yang masih aktif. Dokter menyarankan untuk membuka semua laat-alat medis penyokong kehidupan istrinya itu. Keluarga Nadia sudah ikhlas jika alat-alat yang berada di tubuh anaknya akan dilepas agar ia tak merasakan kesakitan lebih lama lagi.


“Kami sudah ikhlas jika alat-alat itu dilepas dari tubuh anak saya. Saya tak ingin melihat anak perempuanku tersiksa lebih lama karena keegoisan kita yang menginginkannya tetap disini” ucap Ayah Deno memutuskan.


Terlihat sekali kalau Ayah Deno sudah pasrah dengan keadaan anaknya. Ia juga tak menginginkan anaknya tersiksa lebih lama lagi karena akhir-akhir ini Nadia sudah sering kejang-kejang dan hilang detak jantung.


“Ayah apa-apaan sih? Nggak, pokoknya alat-alat itu nggak boleh dilepas dari badan Nadia. Aku ngggak mau kehilangan orang yang aku cintai. Bahkan Baby Alan juga belum pernah merasakan pelukan ibunya” teriak Andre begitu keras menolak keputusan ayah mertuanya itu.


Andre dan Papa Reza begitu terkejut dengan keputusan yang diambil oleh Ayah Deno. Mereka tak menyangka kalau orangtua Nadia bisa mengambil keputusan yang sangat menyakitkan bagi semua orang. Andre dan Papa


Reza tetap bersikeras mempertahankan Nadia walaupun puluhan tahun lamanya tidak terbangun dari tidur panjangnya itu.


"Maafkan aku sayang yang harus menahanmu disini, aku dan anak-anak belum siap kehilanganmu. Entah nanti kamu akan bangun berapa tahun lagi, aku akan tetap menunggumu dan menerima apapun kondisimu" batin Andre sambil melihat kearah pintu ruang ICU.


Walaupun resiko fungsi dan kondisi tubuh Nadia nanti tak sama lagi dengan saat sebelum kejadian itu, Andre akan terus menerima istrinya itu. Ia terus mencoba membantu istrinya nanti untuk kembali seperti semula.


Kejadian inilah yang membuat kini kedua orangtua Nadia sudah tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi sejak satu tahun yang lalu. Hal ini juga membuat keluarga Andre sedikit kecewa dengan mereka yang seakan lepas

__ADS_1


tangan. Bahkan kini saat pagi, yang menunggu Nadia di rumah sakit adalah perawat karena semua keluarganya sibuk dengan pekerjaan. Andre dan Papa Reza harus mengurus perusahaan, sedangkan Mama Anisa mengurusi keempat cucunya.


***


Alan menjadi magnet ketiga kakaknya dengan tingkahnya yang begitu lucu. Di usianya yang sudah menginjak satu tahun, bayi itu sedang aktif-aktifnya untuk merangkak dan mengacak-acak mainannya. Bahkan Mama Anisa sudah mengajarinya untuk memegang sendok berisi makanan sendiri walaupun selalu berakhir dengan tumpah. Pertumbuhannya yang sangat cepat terutama tubuhnya yang gempal pada bagian paha, tangan, dan pipi membuatnya jadi sasaran ciuman Mama Anisa.


Ketiga kakaknya sampai kuwalahan mengikuti kemanapun bayi itu merangkak dan membereskan mainan yang dilemparnya. Ocehan khas bayi yang membuat mereka selalu tertawa di kala masa-masa tak ada kedua orangtuanya menjadi pemandangan yang sangat mengharukan. Bahkan tak jarang Mama Anisa menyembunyikan tangisannya dari keempat cucunya saat melihat mereka tak didampingi orangtua yang lengkap.


Arnold juga sudah lancar dalam berbicara walaupun terkadang jika berbicara dengan Alan masih suka tercampur-campur. Anara dan Abel kini telah memasuki SD kelas 1 di sebuah sekolah internasional sesuai permintaan


Andre. Yang berbeda adalah Arnold tak lagi menunggu kedua kakaknya di sekolah, ia akan menghabiskan waktunya di rumah bersama Alan.


Sedangkan Mama Anisa hanya memperhatikan tingkah kedua cucunya itu sembari terkekeh geli. Pemandangan pagi yang selalu ia rekam melalui kamera ponselnya untuk diberikan kepada menantunya saat nanti terbangun. Mama Anisa ingin Nadia tahu bagaimana perkembangan anaknya selama ini saat tanpa kehadiran dirinya.


Bukannya menuruti perintah Arnold untuk tak merangkak, Alan malah kini berada di bawah kolong meja sehingga kakaknya itu tak bisa mengkutinya. Arnold terus menggerutu dan mengerucutkan bibirnya melihat tingkah adiknya yang kini malah terlhat tertawa senang karena kakaknya tak bisa mengejarnya.


Hahahaha...


"Tawa telus... Tawa telus... Ndak tahu apa kalau abang udah capek" gerutu Arnold.


"Dulu kamu juga begitu kan, mbul" ledek Mama Anisa.

__ADS_1


Karena sudah lelah, Arnold memilih merebahkan badannya diatas karpet ruang keluarga menghiraukan ledekan dari neneknya. Kedua kakaknya masih ada di sekolah sehingga yang ada di rumah hanyalah dia, Mama Anisa, dan Mbok Imah untuk menjaga Alan. Alan yang melihat Arnold sudah tak mengejarnya pun memilih keluar dari kolong meja kemudian mendekat kearah kakaknya itu. Bahkan Alan langsung merebahkan badannya disamping Arnold dan memeluknya dari samping.


Mama Anisa yang melihat hal itu tentunya sangat terharu. Walaupun Alan sering membuat kerepotan ketiga kakaknya, namun terbukti jika mereka saling menyayangi. Alan yang terkesan usil seperti Arnold pun punya rasa peduli dan kasih sayang amat besar untuk ketiga saudaranya.


"Assalamu'alaikum..." teriak Anara dan Abel bersamaan.


"Wa'alaikumsalam..." jawab Mama Anisa dan Arnold, sedangkan Alan hanya berucap tak jelas.


Ternyata saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang yang artinya Anara dan Abel sudah pulang dari sekolahnya. Mereka dijemput oleh sopir perusahaan yang diutus oleh Andre, pasalnya lak-laki itu belum bisa mempercayai orang baru untuk bekerja dirumahnya. Kedua gadis kecil itu langsung saja menuju kearah ruang keluarga dan mencium punggung tangan Mama Anisa.


"Langsung ganti baju dan makan siang dulu ya" titah Mama Anisa.


Keduanya langsung saja menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi dari ruang keluarga. Ajaran Nadia yang selalu mewajibkan anak-anaknya ganti baju terlebih dahulu sebelum bermain menjadi kebiasaan mereka setelah pulang sekolah. Bahkan sebelum mendekat pada adiknya, mereka harus membersihkan diri terlebih dahulu seperti anjuran dari Mama Anisa.


Sedangkan Alan dan Arnold hanay diam saja sembari berpelukan erat. Keduanya malah memejamkan matanya setelah melihat kedua kakaknya berlalu pergi. Mama Anisa yang melihat tingkah keduanya yang sangat mirip itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia yakin jika Alan kelak ketika besar, sifatnya akan sama dengan kakaknya itu.


************


Tolong jangan spam like ya teman-teman, soalnya ngaruh banget nih sama level karya yang terjun bebas...


Masa iya like cuma selang 4-5detik setiap babnya,,,,

__ADS_1


__ADS_2