
Semua orang yang ada di ruang makan mengalihkan pandangannya kearah Arnold yang menggerutu panjang pendek karena tidak diajak dalam kejutan penyambutan kepulangan bundanya.
"Apalah kita yang bagai anak yang tak dianggap, ya kan Alan? Tabahkan hatimu, nak" ucap Arnold mendramatisir sambil mengusap dadanya.
Begitu juga Alan yang tengah duduk dilantai mengikuti gaya kakaknya mengusap dada dengan raut wajah disedih-sedihkan. Semua yang masih duduk di ruang makan hanya bisa menahan tawanya melihat tingkah lucu dua bocah laki-laki itu.
"Ya... Ya... Ya..." seru Alan dengan menganggukkan kepalanya berulangkali.
"Kita pergi yuk dari sini lalu kembali bobok" ajak Arnold sambil pura-pura menguap.
Alan pun sama mengikuti gaya kakaknya yang menguap itu kemudian membalikkan badannya seperti hendak pergi. Tentu yang melihat hal itu hanya bisa melongo tak percaya dengan tingkah keduanya.
Mereka berdua berlalu pergi meninggalkan ruang makan namun tak lama kembali lagi lalu mengucapkan satu hal yang membuat semuanya tak dapat menahan tawanya lagi.
"Kenapa kalian tak mencegah kami pergi?" kesal Arnold membuat semuanya tertawa terbahak-bahak.
Hahahaha...
"Lho... Kan kalian yang mau pergi sendiri, ya kami membiarkannya dong" ucap Mama Anisa dengan sedikit menggoda.
"Harusnya dicegah dong, kalian nggak peka" ketus Arnold sambil mencebikkan bibirnya.
Andre yang melihat mood kedua anaknya sedang tidak baik pun akhirnya memilih untuk mendekati mereka. Andre segera saja meraih kedua anaknya masuk dalam gendongannya. Kedua anaknya pun langsung menyandarkan kepalanya pada bahu papanya itu.
Andre membawa mereka berdua untuk duduk di ruang makan dekat dengan Nadia. Nadia langsung mengelus punggung keduanya dengan lembut, usapan itu sepertinya membuat mereka terlena dan mengantuk. Sepertinya mereka memang mengantuk karena kurang tidur sehingga sedikit rewel. Terbukti keduanya kini sudah tertidur pulas dalam.gendongan papanya.
__ADS_1
Papa Reza mengambil Arnold dari gendongan Andre kemudian menimang-nimang bocah kecil itu karena tadi sempat sedikit terbangun saat diambil alih olehnya. Benar saja, tak berapa lama Arnold langsung kembali tertidur dengan pulasnya.
Papa Reza dan Andre langsung naik ke lantai 2 untuk meletakkan keduanya dalam kamar. Sedangkan yang lainnya memilih untuk melanjutkan makannya.
***
"Baby Alan, kenapa kita ada disini? Bukannya tadi kita lagi berdrama di ruang makan lalu digendong sama papa" tanya Arnold dengan raut bingungnya.
Alan pun sama tak kalah bingungnya, namun bayi berusia satu tahun itu hanya memperhatikan kakaknya yang kebingungan dengan raut wajah polosnya. Bahkan ia menirukan ekspresi wajah kakaknya dari bingung, cemberut, kemudian menggerutu tak jelas.
"Kenapa kamu ngelihatin abang kaya gitu? Jawab dong" kesal Arnold.
Arnold begitu kesal karena Alan hanya melihatnya saja tak mau menjawab pertanyaannya. Alan yang melihat kakaknya terlihat marah pun langsung menggaruk rambutnya yang tak gatal. Bahkan dengan santainya, ia langsung mengubah posisinya menjadi duduk seperti kakaknya. Sepertinya dia kebingungan menghadapi Arnold yang sikapnya berubah-ubah. Padahal dirinya belum bisa berbicara dengan jelas, namun kakaknya itu malah ingin dia menjawab pertanyaannya.
Ceklek...
Nadia langsung memeluk dan menciumi Alan dengan lembut, bahkan kini ia menitikkan air matanya haru. Dia begitu bahagia karena bisa memangku dan memeluk anaknya berulangkali, pasalnya saat masih di rumah sakit paha serta kakinya belum terlalu kuat untuk menahan tubuh Alan. Alan yang merasa nyaman dipelukan bundanya pun langsung merebahkan kepalanya di dada Nadia.
Arnold yang melihat adiknya berada didalam pelukan bundanya pun merasa iri. Dengan wajah cemberutnya, Arnold merangkak diatas kasurnya kemudian merentangkan kedua tangannya. Andre yang melihat hal itu tentunya langsung menggendong anaknya itu lalu menciuminya hingga terdengar pekikan kesal dari Arnold.
"Mau dipeluk sama bunda" pekik Arnold sambil mencoba menjauhkan wajah papanya dengan tangan mungilnya.
"Sabar ya, kan nggak mungkin bunda memangku dua orang. Kaki bunda masih sakit soalnya" ucap Andre memberi pengertian.
Ia paham dengan apa yang terjadi pada anak laki-lakinya ini. Ia iri dengan kedekatan adik dan bundanya serta menginginkan perhatian lebih. Pasalnya baru bersama selama satu tahun lebih kemudian berikutnya harus melewati hari tanpa sang bunda, saat Nadia kembali malah harus berbagi kasih sayang dengan adiknya. Arnold pun akhirnya memilih mengalah karena adiknya pasti juga menginginkan kasih sayang dari seorang ibu.
__ADS_1
Setelah melihat Alan tertidur dipangkuan istrinya, Andre segera saja meletakkan Arnold di kasur kemudian mengangkat anak bungsunya itu untuk ditidurkan. Kemudian Arnold naik keatas pangkuan Nadia dan memeluknya dengan erat.
"Abang, terimakasih sudah menjadi anak yang baik selama bunda tertidur. Bunda bangga sama abang" ucap Nadia pada Arnold yang berada dipangkuannya.
"Woooo... Jelas, Arnold kan anak baik. Bahkan yang selalu jagain Baby Alan itu abang lho" ucap Arnold dengan percaya dirinya.
"Mana ada seperti itu? Bukannya kamu selalu marah-marah kalau Alan enggak nurut" ucap Anara tak terima dengan ucapan adiknya itu.
"Weeee... Arnold nggak kaya gitu ya, buktinya adek selalu nempel di ketiak aku kalau tidur. Itu artinya adek nyaman sama aku karena aku nggak pernah marahin dia" sanggah Arnold.
Anara dan Arnold terus berdebat mengenai masalah Baby Alan yang selalu menempel pada Arnold. Memang benar kalau adiknya itu selalu menempel di ketiak kakaknya, namun itu mungkin karena mereka sama-sama laki-laki jadi merasa nyaman. Padahal Arnold itu selalu marah-marah kalau Alan tak menuruti ucapannya.
"Mungkin karena ketiak Arnold bau makanan makanya Alan mau nempel sama kamu" ucap Abel dengan asal.
Arnold hanya mencebikkan bibirnya kesal karena kedua kakaknya itu selalu tak terima saat Alan dekat dengannya. Bahkan kini Andre dan Nadia hanya terkekeh pelan mendengar perdebatan ketiganya. Sungguh suasana seperti inilah yang sangat dirindukan oleh Nadia dan Andre kala masih di rumah sakit.
Nadia memandang suaminya dengan penuh cinta begitupun dengan Andre, bahkan keduanya saling melemparkan senyum manisnya karena merasa sangat lega telah melewati segala cobaan dalam kehidupan rumah tangganya. Ketiga anaknya yang melihat pemandangan orangtuanya yang sedang tatap-tatapan pun langsung saja menggoda keduanya.
Cieeeee.... Cieeee....
"Senyummu sangat manis hingga ku terpesona, wahai bidadari pujaanku" ucap Arnold bak membacakan sebuah puisi.
Tentunya hal ini membuat keduanya salah tingkah bahkan pipi mereka langsung memerah malu. Kini Nadia langsung saja memeluk Arnold untuk menyembunyikan wajahnya sedangkan Andre memalingkan mukanya.
***************************
__ADS_1
Terimakasih atas koreksinya mengenai tentang "saudara kandung" pada part sebelumnya. Memang benar kalau dalam agama Islam walaupun "satu ayah beda ibu" akan dianggap "saudara kandung", namun coba lihat dalam pandangan medis kalau "satu ayah dan satu ibu" itu baru bisa dikatakan "saudara kandung" sedangkan "beda ibu satu ayah" tetap akan dikatakan saudara tiri.
Mungkin pandangan orang beda-beda ya, untuk menghindari perbedaan pendapat maka aku putuskan untuk menggantinya dengan "saudara seayah" dan akan aku revisi bulan depan karena cerita ini ikut dalam misi. Terimakasih semua atas pendapatnya....