Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Hari Olimpiade


__ADS_3

Hari ini adalah olimpiade hari kedua. Anara dan Abel masuk dalam 20 besar yang lolos untuk melakukan test kembali hari ini. Semalam Ibu Yuni menghubungi Nadia untuk menyiapkan Anara dan Abel agar bisa berangkat langsung ke tempat acara. Keluarga pun menyanggupinya karena tak ingin kejadian tak mengenakkan kemarin kembali terjadi kalau harus ke sekolah dulu.


"Unda, Alan macih antuk ini. Kak Nala dan Kak Bel kok testna ndak celecai-celecai cih?" tanya Alan dengan mata tertutupnya.


Pukul 6 pagi anak-anak sudah dibangunkan kecuali Alan yang memang susah untuk bangun. Terlebih semalam ia begadang dengan Ega membuatnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia yang sudah mengantuk harus menemani dua anak kecil yang masih sibuk bercerita seru itu. Untuk Ega dan Zunai sendiri sudah terbiasa bangun pada pagi hari jadi tak susah untuk keduanya ia bangunkan.


Bahkan mereka sudah rapi dengan baju baru yang melekat pada tubuh keduanya. Walaupun sebenarnya itu adalah baju milik Alan dan Anara namun pakaian itu masihlah baru. Sama sekali Alan dan Anara belum pernah memakainya sama sekali.


"Adek Ega dan Kak Zunai nanti turunnya bareng sama yang lainnya ya" pesan Nadia saat keduanya tengah menunggu di kamar Anara.


Pasalnya akan sangat berbahaya jika keduanya nanti turun tangga hanya berdua. Nadia tak memperbolehkannya karena takut terpeleset jika tak ada yang mengawasi. Lagi pula ia sudah berpesan pada Andre untuk nanti turun tangganya mampir ke kamar Anara terlebih dahulu.


"Hari ini terakhir, nak. Kalau Alan nggak bangun-bangun, nanti yang dukung mereka siapa? Ayo dong bangun, kasihan mereka nggak ada yang nyemangatin" bujuk Nadia dengan menggunakan nama kedua anak gadisnya.


"Unda tu dimana cih? Olang temalin Alan atang dan ukung caja tayak olang ndak belguna. Cia-cia Alan patek tacamata dan awa cepanduk talo ndak oleh teliak-teliak" kesal Alan yang kini langsung mendudukkan dirinya diatas ranjang.


Nadia terkekeh pelan mendengar keluhan dari anaknya itu. Namun memang acara ini serius bukan cerdas cermat yang bisa ada supporter yang ramai-ramai. Akhirnya Nadia langsung menggendong Alan kemudian memandikannya. Bahkan Alan sedari tadi diam saat dimandikan dengan bibir mengerucut.


"Alan, jangan menampilkan wajah cemberut gitu dong. Kasihan nanti Kak Nara dan Kak Abel yang mau mengikuti olimpiade. Dikiranya kamu nggak ikhlas menemani mereka lho" ucap Nadia mencoba untuk mengajak bernegosiasi.


"Nih... Cenyum nih cenyum... Alan itlas" ucap Alan dengan menarik kedua sudut bibirnya dengan tangan membuatnya terlihat tersenyum melengkung walaupun terpaksa.


Nadia terkekeh pelan melihat tingkah Alan yang selalu menghiburnya ini. Dulunya Arnold yang seperti ini namun semenjak bertambah usia, bocah kecil itu terlihat lebih berpikir dewasa. Apalagi saat adiknya sudah rewel, ia lah yang akan menenangkan bocah kecil itu. Walaupun saat sakit pasti Arnold akan bertingkah layaknya anak kecil biasa.

__ADS_1


"Ayo pakai baju" ajak Nadia yang sudah selesai membalut seluruh tubuh Alan dengan handuk sehingga hanya terlihat kepalanya saja.


Alan menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari kamar mandi. Segera Nadia memakaikan perlengkapan anaknya itu bahkan menaburi wajahnya dengan bedak. Rambutnya ia sisir rapi membuat Alan memberengut kemudian ia acak-acak segera.


"Ndak telen anti, unda. Dini aja, tlus ni macak aki-aki patek dedak" ucap Alan menggerutu.


Bahkan kini tangannya mengusap wajahnya untuk menghilangkan bedak bayi yang menempel. Nadia hanya menghela nafasnya pasrah saja. Biarlah terserah anaknya itu yang penting mash kelihatan rapi. Alan pun mengambil topi dan memakainya dalam kondisi terbalik. Ia juga mengambil kacamata hitamnya kemudian memakainya.


"Talon bedboy dan peboy" ucap Alan berseru kemudian keluar dari kamarnya dengan langkah tegak.


Nadia yang ditinggalkan begitu saja pun akhirnya mengikuti bocah kecil itu. Apalagi harus turun tangga sedangkan yang lainnya pasti sudah berada dibawah sedari tadi. Nadia pun segera saja menggandeng tangan Alan yang begitu bersemangat untuk turun tangga bersamanya.


***


"Mamat padi..." seru Alan saat memasuki ruang makan.


Alan begitu bahagia melihat semua orang sudah berkumpul di ruang makan sambil menunggu dirinya yang baru saja datang. Alan menyunggingkan senyuman manisnya pada Ega membuat adik barunya itu juga balik tersenyum. Mereka yang melihat adegan itu gemas sendiri, keduanya saling menyayangi walaupun baru saja bertemu.


"Tok delap ya? Unda, lampuna yalatan don" titah Alan memberi perintah pada Nadia.


"Hei... Bocil, kau itu pakai kacamata hitam makanya jadi gelap semua" ucap Mama Anisa dengan sinis.


Semuanya tertawa mendengar seruan Mama Anisa yang kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Alan itu. Sedangkan Alan sendiri hanya menganggukkan kepalanya kemudian melepas kacamatanya dengan santai.

__ADS_1


"Oh... Alan yupa talo patek tacamata. Tu tila mati ampu" ucap Alan yang kemudian makan makanan yang yang disuapi oleh Nadia.


Akhirnya semua makan dengan tenang bahkan Ega dan Alan terlihat begitu akrab. Arnold pun juga ikut menimbrung walaupun hanya sekilas saja jika ditanya oleh adiknya itu. Zunai bahkan juga makan dengan lahap karena disuapi oleh Mama Anisa.


***


Dua mobil keluar dari rumah milik Keluarga Farda. Andre satu mobil dengan Nadia, Anara, Abel, dan Zunai sedangkan Papa Reza membawa istri dan ketiga bocah laki-laki. Mobil melaju dengan kecepatan sedang walaupun jalanan masih lumayan sepi. Tak berapa lama, mereka sudah sampai di lokasi acara olimpiade.


Terlihat Gea dan Ibu Yuni sudah duduk menunggu kehadiran Anara juga Abel didekat parkiran. Mereka semua keluar kemudian mendekat kearah Gea dan Ibu Yuni.


"Saya bawa Anara dan Abel langsung masuk ya bu, pak" ucap Ibu Yuni meminta ijin.


"Wawa jaja. Api angan campe lecet ya bu" peringat Alan.


Ibu Yuni tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mengerti. Sedari tadi bahkan Ibu Yuni dan Gea menahan tawanya yang melihat tampilan trendy dari Alan itu. Setelah mereka pergi, akhirnya semua masuk juga ke area untuk pendukung peserta olimpiade. Seperti biasa, Alan malah jalan-jalan dengan mengajak Ega. Andre harus ekstra dalam menjaga mereka agar tak hilang.


"Papa... Beli tilok don" seru Alan sambil menengadahkan kedua tangannya meminta uang.


"Baru juga sampai, udah minta jajan aja" ucap Andre menggerutu.


Walaupun menggerutu, namun Andre tetap menyerahkan selembar uang 20 ribuan untuk diberikan pada Alan. Alan langsung menggandeng Ega kemudian diikuti oleh Andre dibelakangnya.


"Bang, tilok celibu caja" ucap Alan pada penjual cilok.

__ADS_1


"Lho itu kan uangnya 20 ribu kok belinya cuma seribu?" tanya Andre bingung dengan anaknya itu.


Pasalnya mereka kini jadi pusat perhatian ibu-ibu lainnya yang juga membeli makanan ringan itu. Mereka semua membeli paling tidak 3 ribu karena sudah ada tulisannya di gerobak kalau ada minimal pembelian. Tentunya mereka menahan tawanya melihat tingkah anaknya itu.


__ADS_2