
Setelah Andre membukakan pintu untuknya dan mengambil Alan dari pangkuannya, Nadia segera meluruskan kakinya sebentar kemudian turun dari mobil itu. Mungkin warga sekitar yang melihat Andre dan ketiga anaknya biasa saja karena tak terlalu kenal bahkan mungkin tidak ingat karena sudah satu tahun yang lalu terakhir bertemu.
Namun saat Nadia turun dari mobil, semua warga langsung mengenalinya. Warga yang melihat kedatangan Nadia pun begitu antusias bahkan langsung mendekat kearah mereka.
"Ya ampun, neng Nadia makin glowing aja nih udah setahun lebih nggak ketemu" seru salah seorang penjual sayur yang biasanya lewat depan rumahnya.
"Wah... Jelas dong, pindah ke kota makanya mang biar glowing kaya Nadia" gurau Nadia membuat semua yang ada disana terkekeh pelan.
Walaupun Nadia tahu kalau tetangganya ada yang tak suka karena kehadirannya kembali ke kampung ini, namun ia berusaha tak peduli. Toh kedatangannya kesini untuk menjenguk kedua orangtuanya sekaligus mengajak anak-anaknya liburan. Sikapnya dulu yang tomboy dan pemberani membuat semua orang segan bahkan memandang rendah dirinya. Walaupun begitu, kini ia berubah lebih feminim sedikit walaupun akan menjadi garang jika ada yang mengganggu keluarganya.
Sedangkan kini Andre dan keempat anaknya hanya memperhatikan interaksi Nadia dengan beberapa tetangganya. Walaupun ia sebenarnya risih karena melihat ada beberapa remaja dan ibu-ibu yang terus menatap intens kearahnya.
"Kami masuk dulu ya bu, pak" pamit Nadia kepada semuanya.
Mereka smeua mengangguk sambil terus melihat kearah Nadia dan keluarga kecilnya. Nadia kini berlalu pergi dari hadapan mereka sambil menggandeng Arnold sedangkan Alan masih tertidur dalam gendongan papanya. Anara dan Abel pun langsung menyusul kedua orangtuanya memasuki halaman rumah. Setelah melihat keluarga kecil itu berlalu, para warga segera saja membubarkan diri.
Tok... Tok... Tok...
Ceklek...
Tak berapa lama mereka menunggu, akhirnya pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita paruh baya. Sosok wanita paruh baya itu begitu terkejut dengan kehadiran anaknya yang dulu saat mereka pergi tengah diambang kematian. Wanita paruh baya itu adalah Ibu Ratmi, ibu Nadia yang tampak begitu shock. Bahkan kini Ibu Ratmi langsung mengucek matanya berulang kali untuk memastikan penglihatannya.
__ADS_1
"Ini beneran Nadia bu" ucap Nadia sambil tersenyum dengan mata berkaca-kacanya.
Bukannya memeluk Nadia, mata Ibu Ratmi langsung memandang kearah Andre dan empat anaknya. Terlihat sekali perubahan raut wajahnya dari terkejut dan tatapan tak percaya menjadi sinis. Bahkan ia terlihat tak suka dengan kehadiran Andre dan juga keempat cucunya.
"Ngapain kalian kesini? Kami tidak menerima pembangkang disini" ketus Ibu Ratmi.
"Ibu apa-apaan sih ngomong kaya gitu sama suamiku. Ingat, disini ada anak-anakku jangan bicara aneh-aneh" kesal Nadia.
Nadia takkan pernah membiarkan ibunya mengucapkan kalimat-kalimat pedas dihadapan keempat anaknya. Ia tak ingin jika kondisi psikis mereka terganggu akibat ucapan ibunya yang suka seenaknya itu. Bahkan kini Ibu Ratmi tengah memandang tajam kearah Nadia karena telah berani melawannya.
"Oh... Jadi kamu sekarang belain suamimu yang egois ini? Juga ketiga anak tirimu itu" ketus Ibu Ratmi.
"Jelas dong Nadia belain mereka. Mereka suamiku dan anak-anakku yang bahkan masih mempertahanku walaupun semua orang telah menyerah dengan kondisiku. Tidak seperti kedua orangtua kandungku yang bahkan menginginkan kematianku" ucap Nadia dengan kalimat pedas.
"Sabar, bunda. Mereka orangtua bunda, nanti kalau durhaka bisa dikutuk jadi batu lho. Tapi kalau orangtuanya yang durhaka, anggap aja anaknya bisa mengutuknya jadi katak" ucap Arnold sambil mengelus lengan Nadia.
Sontak saja Nadia tertawa mendengar ucapan Arnold, sedangkan Andre hanya bisa menahan tawanya. Disaat menegangkan seperti ini malah mengeluarkan candaannya. Ibu Ratmi yang mendengar hal itu langsung memelototkan matanya kearah Arnold namun bocah cilik itu tentu tak mau kalah. Arnold menatap tajam kearah Ibu Ratmi dengan berkacak pinggang.
"Arnold nggak takut sama siapapun soalnya yang aku lakukan ini demi kebenaran. Kalau memang kita tak bisa tinggal disini, lebih baik ke hotel saja. Toh uang papa nggak akan habis kalau cuma bayar hotel beberapa hari" ucap Arnold dengan nada sombongnya.
"Nggak perlu ke hotel, nak. Kita nginap di tempat Bu RT aja, biar nanti semua tetangga tahu kalau ada orangtua yang menelantarkan anaknya saat diambang kematian" timpal Nadia dengan menyeringai sinis.
__ADS_1
Sekarang Ibu Ratmi kini bagaikan mati kutu, dia tak bisa menimpali ucapan kedua orang itu. Jika nanti semua warga disini tahu kalau dirinya menelantarkan Nadia saat sakit, bisa-bisa ia akan dinyinyiri orang sekampung. Ia masih tak menyangka jika Arnold mempunyai sifat yang mirip dengan Nadia yaitu sama-sama pintar bersilat lidah.
Akhirnya dengan terpaksa, Ibu Ratmi mempersilahkan semuanya untuk masuk kedalam rumahnya. Terlihat juga disana ada Ayah Deno yang baru saja keluar kamar dengan masih menenteng handuk. Sepertinya laki-laki paruh baya itu baru saja selesai mandi dan akan menjemur handuk di belakang rumah.
"Tadi kayanya ayah dengar ada ribut-ribut diluar, ada tamu kah bu?" tanya Ayah Deno yang belum menyadari kehadiran kami.
Tak lama dia menegakkan badannya kemudian menatap dengan tatapan tak percaya kehadiran kami. Bahkan handuk yang dipegangnya terlepas dari tangannya karena begitu terkejut.
"Bu, lihat belakangmu. Ada hantu, sepertinya ibu ada yang ngikutin" seru Ayah Deno saat melihat adanya sang anak.
"Orang bunda Nadia cantik gini kok dibilang hantu sih. Mata kakek rabun kali ya" ucap Arnold tak terima.
Mendengar seruan dari seorang yang amat ia kenali itu pun akhirnya membuat Ayah Deno tersadar. Ternyata apa yang menjadi halusinasinya tentang anaknya itu hanya karena keterkejutannya saja. Bahkan kini matanya menatap tak percaya kearah anaknya yang ternyata masih hidup.
"Kakekmu itu sama kaya nenekmu, yang do'ain bunda mati. Makanya mereka kira kalau bunda udah jadi hantu" kesal Nadia.
Nadia mengajak Andre dan anak-anaknya segera duduk di kursi ruang tamu menghiraukan ibu dan ayahnya yang masih menatapnya tak percaya. Bahkan Nadia langsung membuka beberapa air minum gelas untuk diberikan pada suami dan anak-anaknya.
"Anggap saja rumah sendiri" celetuk Arnold yang bahkan kini rebahan diatas kursi panjang.
"Benar, nggak usah sungkan-sungkan. Mari kita makan dan minum sampai habis lalu tidur" timpal Nadia sambil terkekeh.
__ADS_1
Nadia tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi kesal kedua orangtuanya harus menghadapi dua orang yang begitu pintar membalas ucapan mereka. Bahkan kini sudah bertindak seperti seorang raja yang tanpa permisi mengganggu ketenangan mereka.