
Saat berada didalam perjalanan menuju kantor polisi, mereka semua melihat banyak papan videotron di jalanan yang masih menayangkan video CCTV di toko dan keributan di mall. Nenek Hulim hanya tersenyum sinis melihat mereka memfitnah keluarganya namun ternyata semua hanya bualan saja.
Bahkan sampai di pinggir jalan warga pada berhenti demi menyaksikan apa yang diputar pada papan videotron itu. Pemilik toko dan karyawan yang memang wajahnya ada di papan videotron itu hanya bisa menunduk malu didalam mobilnya.
"Makanya bu, mbak... Kalau melayani pelanggan di toko itu profesional. Jangan hanya kerjaannya mikirin gaji tiap detik dan menit saja. Kalau kaya gini, gaji tak didapat malang tak bisa dibendung" ucap sopir mobil itu menasihati.
Semuanya hanya bisa terdiam setelah mendengarkan ucapan itu. Harusnya mereka bekerja secara profesional dengan tak membeda-bedakan siapa yang masuk ke dalam toko. Kalau memang anak kecil seperti Alan dan Fikri tak boleh pegang barang, sebaiknya dicarikan orang dewasa yang mendampinginya. Namun nasi sudah menjadi bubur, mereka hanya bisa menyesalinya.
Bahkan harusnya mereka meminta maaf agar proses hukum ini tak perlu terjadi. Namun mereka malah mencari masalah dengan memfitnah keluarga Andre. Sedangkan keluarga Andre yang berada di mobil belakang pun santai-santai saja melewati perjalanan ini.
"Wah... Alan pemes lho. Tuh macuk tipi aja Alan yan anteng ni" ucap Alan sambil meletakkan kedua tangannya dikedua pipinya sambil mengedipkan matanya berulangkali.
Semua anak-anak yang memang duduk dibagian belakang pun langsung menengok kearah yang dilihat oleh Alan. Mata mereka terkejut melihat adanya Alan, Fikri, juga beberapa orang dewasa ada disana. Arnold yang juga melihatnya pun acuh saja pasalnya dia memang sudah tahu.
"Tapi kalau kita masuk TV disana berarti kita jadi pemain sinetron atau model dong? Kok kita nggak dibayar kalau memang masuk TV" tanya Fikri dengan polosnya.
Orang dewasa yang ada disana tentunya tertawa mendengar celotehan polos mereka. Darimana bisa mereka mendapatkan bayaran, justru Nenek Hulim lah yang harus bayar demi wajah semuanya bisa tampil disana. Hanya wajah pengunjung mall lah yang di blur oleh pihak penyedia iklan.
"Mungkin akan dibayar kalau sudah tampil di banyak acara lagi. Ini kan baru pertama kalinya tampil jadi masih masa percobaan" ucap Nilam menjelaskan pikirannya.
"Tapi itu ndak celu lho. Ihat macak dicana ada degan Alan angis, huh Alan kan ngin adi cupelhelo. Macak cupelhelo angis" ucap Alan dengan wajah memberengut kesal.
__ADS_1
"Cengeng..." seru Nilam, Arnold, dan Fikri secara bersamaan.
Sedangkan Anara dan Abel memilih tidur karena mereka sangat lah lelah hari ini. Mereka tak mau menimpali apa yang diucapkan yang lainnya karena tahu kalau sebenarnya itu hanyalah sebuah rekaman CCTV di mall. Bukan lah mereka yang sedang beradegan dalam sebuah sinetron.
Alan memberengut kesal mendengar orang-orang disana meledeknya dengan kata cengeng. Dia itu menangis karena terlalu kesal bukan sebab dari takut akibat ucapan pelayan itu. Kekesalan karena diledek dengan kalimat popok membuatnya tak bisa berpikir jernih.
***
Setelah hampir setengah jam berkendara, dua mobil besar yang mereka kendarai akhirnya sampai di kantor polisi. Sontak saja kedatangan mereka menjadi perhatian beberapa anggota polisi yang tengah berjaga malam. Nenek Hulim, Mama Anisa, dan Nadia turun sedangkan yang laki-laki diminta untuk menjaga anak-anak.
"Napa cih unda, nenek? Ita ndak oleh itut te alam" kesal Alan dengan mengerucutkan bibirnya.
"Didalam banyak penjahat. Kalian disini saja biar nggak kenapa-napa" ucap Nadia.
"Heleh... Baru dikatain pakai popok aja nangis apalagi kalau dipukul penjahat" ucap Arnold meledek.
Alan pun akhirnya diam dan memilih di mobil bersama dengan yang lainnya. Terlebih Arnold si abang kesayangannya juga tak masuk membuatnya memilih bermanja dengannya. Ia langsung merebahkan badannya memeluk sang abang yang duduk di kursinya.
***
"Ada keperluan apa Nyonya Hulim hingga kembali kesini lagi malam-malam begini?" tanya salah satu anggota polisi yang mengenalnya.
__ADS_1
Saat sampai sana memang hari sudah beranjak malam yaitu pukul setengah 8. Malam itu mereka laangsung mengawal dan mengantarkan orang-orang yang bermasalah dengannya. Hanya itu saja, sebelum esok hari ia akan mengurusnya dengan membawa pengacara.
"Saya hanya ingin mengantarkan calon tahanan baru disini. Ini semua bukti yang sudah saya bawa untuk menjebloskannya dalam penjara. Tapi nanti biar pengacara keluarga saya yang datang kesini mengurusnya esok pagi karena hari sudah malam. Saya membawa mereka kesini agar besok tak kabur dan saya mudah mencarinya" ucap Nenek Hulim dengan tegas.
"Baik nyonya" ucap polisi itu dengan tegas.
Akhirnya polisi itu menyuruh yang lainnnya untuk membawa pemilik toko dan karyawannya itu ke dalam ruang penjara sementara. Saat mereka digiring masuk oleh beberapa polisi, ketiganya melihat pemilik toko dan Inge menatap sinis kearah Mama Anisa dan Nenek Hulim. Sepertinya mereka berdua ini tak merasa bersalah bahkan kapok sudah terjerat masalah seperti ini.
Nenek Hulim dan Mama Anisa geram namun mereka lebih dahulu menahan emosinya. Sejujurnya keduanya sangat lelah hari ini karena harus mengurus beberapa masalah dan pekerjaan sehingga memilih untuk membiarkannya saja. Namun Nadia yang hanya bertugas menjaga anak-anak, tenaganya masih lah kuat jika harus berhadapan dengan kedua pelaku itu.
"Kenapa itu natap-natap ibu saya seperti itu? Kalau nggak ada polisi disini, udah saya colok tuh mata pakai lidi" kesal Nadia menantang kedua pelaku.
"Wah... Dia mengancam kami, pak. Kami nggak terima, besok saya akan laporkan balik" seru Inge tak terima.
"Masuk..." sentak anggota polisi itu dengan keras.
Pemilik toko itu dan Inge langsung berjalan masuk lebih cepat mengikuti yang lainnya. Yang lain sudah masuk terlebih dahulu namun ternyata kedua orang itu memilih mencari masalah dengan keluarga Andre.
"Karena ini sudah malam, alangkah lebih baiknya keluarga anda kembali ke rumah" ucap polisi itu dengan mengusir secara halus.
Nenek Hulim melotot tajam kearah polisi itu karena merasa diusir. Namun Mama Anisa dan Nadia memilih segera menggandeng wanita paruh baya itu agar tak menimbulkan keributan disana. Apalagi ini sudah malam, lebih baik segera pulang dan istirahat untuk mengumpulkan tenaga esok hari demi melawan mereka.
__ADS_1
Terlebih Nenek Hulim esok juga harus mengurus masalah anak dan menantunya. Mereka pun akhirnya berjalan kearah mobil kemudian Andre melajukan kendaraannya menuju rumah. Dalam perjalanan, didalam mobil hanya ada keheningan karena anak-anak ternyata malah tertidur setelah tadi saling adu debat dengan saudaranya.