Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Rasa Bersalah


__ADS_3

"Tante... Tante..." panggil seorang siswa laki-laki dari arah belakang Nadia, Anara, dan Abel.


Setelah disepakati oleh pihak sekolah jika akan diselesaikan dengan kekeluargaan saja, Nadia dan kedua anaknya berlalu pulang ke rumah. Saat ketiganya sedang berjalan menuju parkiran mobil, ternyata Fikri yang tadinya masih ada di ruang kepala sekolah mengikuti mereka.


"Ada apa, nak?" tanya Nadia dengan lembut saat Fikri sudah ada dihadapannya.


"Emm... Fikri boleh ikut tante ke rumah nggak?" tanya Fikri dengan tatapan permohonan.


Nadia terkejut dengan permintaan dari Fikri, pasalnya baru pertama kali mereka bertemu namun bocah itu sudah ingin ke rumahnya. Bahkan kini Anara dan Abel merasa jika Fikri tengah merencanakan sesuatu dengan ikut mereka pulang.


"Jangan bunda, nanti dia buat kerusuhan lagi di rumah" tolak Anara.


Mendengar jawaban dari Anara itu tentunya membuat Fikri menundukkan kepalanya. Imagenya yang nakal memang sudah tersebar di sekolah ini sehingga banyak siswa yang tak mau dekat-dekat dengannya.


"Baiklah, ikutlah dengan kami pulang. Tapi kamu udah pamit sama orang rumah belum? Takutnya nanti dicariin" ucap Nadia menyetujui permintaan Fikri.


Fikri hanya menganggukkan kepalanya pertanda sudah meminta ijin. Fikri begitu bahagia dengan persetujuan dari Nadia sedangkan Anara kesal. Ia kesal karena harus dekat dengan orang yang sudah membuatnya terluka. Sedangkan Abel memang sedari tadi lebih banyak terdiam dan Nadia menyadari itu. Setelah sampai rumah nanti, Nadia akan menanyakan dan memeriksa kondisi Abel.


Keempatnya segera masuk kedalam mobil setelah menemukan kendaraan yang dicari. Sopir segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang untuk pulang ke rumah keluarga Farda.


***


"Astaga... Cucu oma yang cantik itu kenapa pelipisnya kok diperban?" seru Mama Anisa saat melihat kedatangan cucu dan menantunya.


Mama Anisa yang sedang menjaga Arnold, Alan, dan Nilam di ruang keluarga begitu hebohnya saat melihat cucunya terluka. Bahkan Arnold dengan wajah marahnya langsung menghadap kearah kedua kakaknya yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.


"Tadi ada kecelakaan sedikit, ma" ucap Nadia menenangkan.

__ADS_1


Mama Anisa menganggukkan kepalanya mengerti kemudian meminta mereka sedang duduk. Arnold mendekat kearah kedua kakaknya tanpa mempedulikan kehadiran Fikri.


"Ini gara-gara didorong dia" adu Anara.


Arnold dan Mama Anisa langsung melihat kearah Fikri yang kini menundukkan kepala. Tatapan mata keduanya yang begitu tajam membuatnya bergidik ngeri sendiri, sedangkan Nadia langsung menarik Fikri agar duduk disampingnya.


"Ini hanya salah paham, ma" ucap Nadia mencoba menenangkan semuanya.


"Fikri minta maaf" ucap Fikri lirih.


"Dibawah ndak ada uang, kalau minta maaf ya yang tegak dong kepalanya" seru Arnold.


Fikri langsung menegakkan kepalanya kemudian menatap bersalah kearah Mama Anisa, Anara, dan Arnold. Walaupun sebenarnya rasa takut masih mendominasi namun Fikri merasa aman karena ada Nadia disana.


"Fikri minta maaf, udah nggak sengaja dorong Anara sampai pelipisnya luka" ucap Fikri dengan tegas.


Mama Anisa menganggukkan kepalanya mengerti dan memaafkan kelakuan Fikri. Lagi pula Nadia membawanya ke rumah ini yang berarti masalah di sekolah telah selesai. Sedangkan Arnold masih menatap Fikro dengan sinisnya.


Sontak saja Fikri dengan refleks memegang kedua telinganya dan menutupnya dengan segera. Ia tak bisa membayangkan jika apa yang diucapkan oleh adik dari Anara dan Abel ini akan menjadi kenyataan. Sedangkan Anara tampak sombong karena merasa dibela oleh adiknya.


"Ma, Nadia titip mereka sebentar ya" ucap Nadia meminta ijin pada Mama Anisa.


"Dan Fikri, kamu disini main sama adik-adiknya ya" lanjutnya.


Mama Anisa yang mengerti kalau Nadia sedang ingin menyelesaikan sesuatu pun segera mengijinkan menantunya untuk pergi. Nadia menggandeng tangan Abel untuk mengikutinya naik keatas tangga untuk masuk kedalam kamar meninggalkan semuanya.


***

__ADS_1


"Abel kenapa?" tanya Nadia dengan lembut.


Setelah sampai di kamarnya, Nadia mendudukkan anaknya di kasur. Nadia langsung menghadapkan Abel yang wajahnya terlihat sangat lesu. Nadia memeluk anaknya itu dengan erat sambil mengelus punggungnya dengan lembut. Tak lama terdengarlah isakan yang keluar dari bibir Abel membuat Nadia membiarkan gadis cilik itu meluapkan segala sesak yang ada di dadanya.


"Bunda, Abel merasa bersalah sama Anara. Gara-gara Abel yang kepo membuat Anara kini malah terluka hiks" ucap Abel sambil menangis.


"Tadi Abel sempat ketakutan saat melihat gudang yang gelap itu membuat trauma ku sedikit kambuh tapi Abel berusaha untuk tetap sadar. Sadar kalau ada Anara yang harus Abel selamatkan" lanjutnya.


Abel meluapkan segala rasa bersalahnya karena dirinya yang terlalu penasaran dengan masalah oranglain malah membuat Anara terluka. Abel tak bisa membayangkan jika saat dirinya pergi mencari pertolongan itu, Fikri akan melukai saudaranya dengan lebih parah. Pikirannya saat itu kosong terlebih ada tekanan berat pada otaknya.


Ia ingin mencari cara untuk menyelamatkan saudaranya dengan tangannya sendiri namun dia tak percaya pada kemampuannya. Yang hanya ia pikirkan saat itu adalah mencari cara agar bisa segera pergi dari gudang itu. Memikirkan bagaimana nasib Anara dan Dino benar-benar membuat pikirannya campur aduk.


"Abel dengarin bunda" ucap Nadia setelah memastikan anaknya sudah lebih tenang.


Nadia melepaskan pelukannya kemudian memegang kedua bahu anak perempuannya. Terlihat sekali jika wajah Abel sangatlah kacau dengan muka yang basah dengan air mata. Bahkan matanya memerah dan sembab karena menangis terlalu lama.


"Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk menolong Anara. Tapi perlu bunda ingatin, kalau kamu tak seharusnya terlalu banyak ikut campur urusan oranglain terlebih yang membahayakan kamu. Biarkan oranglain menyelesaikan masalahnya sendiri. Kalau bisa dalam kondisi seperti itu, bukan kamu yang masuk dalam gudang itu namun dengan segera harus mencari orang dewasa untuk membantu" lanjutnya.


Nadia memaklumi jika anaknya ini mempunyai rasa penasaran yang sangat tinggi namun juga harus mengerti tentang keadaan. Keadaan yang membahayakan dia dan juga saudaranya itu yang nantinya dikhawatirkan oleh Nadia jika Abel terlalu ikut campur urusan oranglain.


"Iya bunda, Abel mengerti. Maafkan Abel ya bunda sudah membuat Anara terluka" ucap Abel yang kemudian memeluk Nadia lebih erat.


"Nggak papa, yang penting kalian berdua selamat. Tetaplah jadi orang baik, tapi jangan lupa dengan keselamatan kamu dan orang-orang terdekatmu" ucap Nadia.


Abel menganggukkan kepalanya kemudian Nadia memeluk balik erat anaknya itu dengan sayagng. Nadia begitu menyayangi anaknya hingga tak mau ada satupun yang terluka. Ia percaya jika nanti Abel seiring waktu akan melupakan rasa traumanya sendiri tanpa perlu ia paksakan. Sedangkan Abel berusaha untuk menghilangkan traumanya karena dukungan keluarganya.


****************************

__ADS_1


Hari ini cuma update 2 part aja ya, soalnya mau nyelesaiin ceritaku yang lainnya...


__ADS_2