Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kakek atau Paman


__ADS_3

"Jadi kakek ini kakaknya ibu?" tanya Zunai yang sedari tadi diam.


Sedari tadi ia mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Papa Reza itu. Bahkan ia menatap Papa Reza dengan mata yang berkaca-kaca. Kalau memang Papa Reza ini kakak ibunya berarti keduanya seharusnya memanggilnya dengan paman atau pakdhe. Namun keduanya seperti tak bisa percaya begitu saja oleh ucapan dari Papa Reza.


Papa Reza pun segera saja mengambil ponselnya yang ada disebelahnya. Ia membuka galery ponselnya kemudian menunjukkannya kepada Zunai dan Ega. Mata keduanya berkaca-kaca sambil mengelus layar ponsel milik Papa Reza.


"Ini ibu... Kenapa ibu ada disini sama kakek?" tanya Zunai dengan bibir bergetarnya.


"Karena ibumu adalah adik kakek. Foto ini diambil saat ibumu masuk kuliah lho" cerita Papa Reza mengenai foto yang ada di ponselnya itu.


Walaupun Zunai masih kecil saat itu ternyata ia masih ingat bagaimana wajah ibunya saat masih muda. Tentunya wajah ibunya saat sudah melahirkan dirinya dengan yang masih muda belum beristri itu sangat berbeda namun beruntung Zunai masih bisa mengenalinya. Hal ini juga bisa dilihat dari fotocopy KTP yang ada disana hampir mirip dengan wajah Dewi.


"Kakek punya fotonya ayah tidak? Kami rindu dengannya" tanya Zunai dengan tatapan penuh harap pada kakeknya itu.


"Maafkan kakek karena tak mempunyai foto ayah kamu. Bahkan kakek tak mengenal dia" ucap Papa Reza dengan penuh penyesalan.


Walaupun Papa Reza sudah melihat fotocopy milik Lukman namun tetap saja ia tak bisa mengenalinya. Pasalnya fotonya sangat buram bahkan karena terkena air menjadi sedikit luntur. Alamatnya pun masih tertera disana yang nantinya akan digunakan Papa Reza untuk mencari tahu keadaan adiknya dulu.


"Yah... Dahal Eda tangen yayah lho. Ndak pelnah Eda ihat yayah dan bu cecala lancung, badaimana cala temu meleta?" tanya Ega dengan polosnya.


Tentunya sang ayah yang sudah pergi sejak Ega masih bayi membuatnya tak pernah merasakan kasih sayang dari ayahnya itu. Terutama dari sang ibu yang meninggal saat melahirkannya. Papa Reza dan Andre langsung saja mengalihkan pandangannya dari tatapan polos itu.

__ADS_1


Tentunya hati keduanya bagai disayat sembilu mendengar ucapan itu. Kehadiran seorang ayah yang bahkan belum pernah ia rasakan karena ditinggal entah kemana sedangkan ibu yang sudah pergi untuk selama-lamanya. Keduanya bingung untuk menjelaskannya.


"Talo Eda tangen tama yayah, peluk tatek dan papa Andle. Andap meleta yayah Eda, talo tangen cama ibu mata eluk unda Nadia dan nenek" ucap Alan tiba-tiba.


"Meleta uga yayah dan bu Eda? Meleta tan yayah dan bu na talian" ucap Ega dengan penasaran.


Sontak saja Andre langsung menarik Ega masuk dalam pelukannya. Ia mencium pucuk kepala Ega berulangkali membuat bocah kecil itu begitu nyaman. Bahkan kini Ega memeluknya dengan erat seakan ingin merasakan sebuah pelukan dari seorang ayah.


"Papa ini juga ayah kamu. Bahkan bunda Nadia itu ibu kalian" ucap Andre dengan terbata-bata.


"Adi dini ya lacana di eluk cama yayah. Angat, maman" ucap Ega pelan namun masih bisa didengar oleh Andre dan Papa Reza.


Keduanya begitu sedih mendengar ucapan dari Ega itu. Tak menyangka jika ternyata mereka adalah keluarganya juga. Terlebih kini Zunai terlihat terisak dalam pelukan Papa Reza karena terharu akan adanya sosok keluarga yang menerima mereka.


"Keluarga ibu. Budhe Ana nama panggilannya" jawab Zunai dengan sedikit sesenggukan.


Papa Reza terlihat terdiam mendengar jawaban dari Zunai itu. Dengan segera Papa Reza membuka ponselnya kemudian menunjukkannya kepada Zunai. Beruntung semua file fotonya masih terback up diponselnya kini hingga bisa menjadi sesuatu yang berguna seperti ini.


"Budhe Ananda maksud kamu? Seperti yang di foto ini" tanya Papa Reza sambil menunjukkan sebuah foto.


Zunia menganggukkan kepalanya dengan yakin sedangkan Papa Reza begitu shock. Itu adalah saudara jauh dari papanya sendiri yang dulu dititipkan Dewi kepadanya. Waktu kejadian Dewi menghilang, mereka dengan kekeh menghentikan penyelidikan karena kemungkinan adiknya sudah meninggal. Namun kini faktanya adalah saudara papanya itu yang menyembunyikan Dewi darinya.

__ADS_1


Papa Reza sudah tak bisa berkata-kata lagi bahkan kini kedua tangannya mengepal dengan erat. Ia tak menyangka jika mereka sendiri yang ingin menjauhkan Dewi darinya. Padahal hubungan mereka dulunya baik-baik saja dan semuanya tahu alamat juga nomor ponselnya kalau memang berniat memberi tahu jika Dewi telah ditemukan.


"Zunai, main dulu sama yang lainnya ya. Kakek mau ke kamar mandi dulu" ucap Papa Reza yang kemudian diangguki oleh Zunai.


Zunai segera turun dari pangkuan Papa Reza begitu juga dengan Ega. Andre menyusul papanya karena ia tahu pasti ada sesuatu yang membuat Papa Reza pergi. Sedangkan anak-anak yang lainnya sangat kebingungan dengan tingkah keduanya.


"Inusna di apus bulu tu, Eda" ucap Alan kemudian menyerahkan tisue.


Tentunya Ega langsung saja melaksanakan apa yang diperintah oleh Alan itu. Namun ada yang aneh karena tadi kan dia tidak menangis dan tak pilek jadi tak mungkin ada ingus yang keluar sari hidungnya. Ia menatap Alan yang sedang menahan tawanya itu membuatnya paham kalau sedang dikerjai oleh abangnya itu.


"Wooo... Bang Alan nih tukana teljain Eda, akal" gerutu Ega membuat Alan langsung saja merebahkan tubuhnya diatas karpet.


Saking kesalnya, Ega langsung saja meletakkan kepalanya itu pada perut Alan membuat bocah itu merasa geli. Apalagi posisinya kini baju Alan tengah disingkap keatas membuatnya langsung terkena rambut Ega.


"Eda, angan tidulan dicitu. Deli, tayak ada bulu-buluna nancap di pelut" ucap Alan sambil terkekeh.


Ega pun langsung saja memindahkan kepalanya pada paha Arnold. Arnold tersenyum melihat kemanjaan Ega itu. Ia langsung mengelus lembut rambut Ega sedangkan Zunai segera dipeluk oleh Anara dan Abel.


"Kakak, berarti kita harus panggil beliau itu kakek atau paman?" tanya Zunai pada Anara dan Abel.


"Panggil kakek saja" ucap Anara dan Abel bersamaan.

__ADS_1


Lagi pula Papa Reza memang sudah cocok jadi kakek-kakek daripada dipanggil paman atau om. Zunai pun menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum begitu manisnya. Ia bahagia mendapatkan keluarga yang tak disangka masih ada hubungan darah dengannya. Semoga saja kemelut masalah keluarga Papa Reza di masa lalu bisa terungkap agar Zunai dan Ega bisa hidup tenang.


Terlebih keduanya saat ini telah menjadi korban kejamnya kehidupan. Takkan dibiarkan oleh Papa Reza jika nanti ada orang-orang yang menyakiti Zunai, Ega, dan Dewi bisa hidup dengan nyamannya.


__ADS_2