
"Terimakasih bu Gea sudah membimbing anak-anak saya sampai repot datang ke rumah segala" ucap Nadia dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Ah... Tak repot, bu. Saya malah senang kesini karena ternyata selain ada dua anak cerdas di sekolah, ada juga bocah ajaib disini" ucap Ge sambil terkekeh.
Saat ini Gea sedang diantar pulang oleh Nadia dan Alan sampai didepan halaman rumah. Sedangkan Anara dan Abel memilih untuk tak mengantar karena diminta menemani Arnold yang masih fokus dengan kertasnya. Sedangkan Alan memang selalu ikut dengannya atau Gea yang baru saja ia kenal.
Gea begitu nyaman bertemu dengan orang-orang baik disini. Bahkan belajar pun jadi menyenangkan karena tak ada tekanan dari pihak manapun. Alan yang sedari tadi berada di gandengan bundanya tersenyum begitu manis saat Gea menatap kearahnya.
"Makacih bu Dea, angan apok atang kemali ya. Mana bica uga apok olang ada Alan aling anteng dicini" ucap Alan dengan begitu percaya dirinya.
"Ganteng dari hongkong" ucap Nadia tak terima.
"Ukan... Anteng dali lahil don" ucap Alan menatap julid bundanya.
Gea terkekeh pelan mendengar perdebatan seru keduanya. Mungkin juga kalau di rumahnya ada anak kecil pasti akan ramai seperti rumah keluarga Anara dan Abel. Namun sayangnya dia adalah anak tunggal sehingga tak punya saudara untuk diajak berdebat.
"Kalau gitu saya pamit dulu, bu" ucap Gea sambil tersenyum.
"Hati-hati" ucap Nadia yang kemudian diangguki oleh Gea.
Gea segera masuk dalam mobilnya kemudian bergegas menyalakan kendaraannya. Tak berapa lama, mobil yang dikendarainya mulai melaju meninggalkan halaman rumah dengan Gea dan Nadia saling melambaikan tangannya.
"Dada bu Dea antik tayak bidadali..." teriak Alan sambil melambaikan tangannya.
Dalam mobil, Gea tertawa mendengar teriakan dari Alan itu. Sedangkan Nadia langsung menggendong anaknya agar segera masuk. Nadia masih heran darimana anaknya ini pintar sekali menggombali cewek.
__ADS_1
***
Hari terus berlalu, bahkan tiap detik, menit, dan jam telah mereka lewati. Tepat hari ini, olimpiade akan dilangsungkan. Gea kemarin datang kesini untuk memberikan perlengkapan yang harus dibawa oleh anak-anaknya sekaligus ada beberapa peraturan yang ia bacakan.
Anara dan Abel sudah dipersiapkan sejak pagi oleh Nadia. Sedangkan untuk Arnold dan Alan disiapkan oleh Andre. Hari ini Andre dan Papa Reza sengaja libur untuk mendampingi Anara juga Abel dalam olimpiade. Anara dan Abel begitu bahagia karena semua keluarganya datang untuk memberinya dukungan.
Olimpiade SAINS tingkat SD untuk level Nasional ini diikuti oleh ratusan sekolah dengan masing-masing 4 perwakilan. Hanya ada 5 siswa saja yang terpilih dan nanti akan dikirim mengikuti olimpiade dalam taraf Internasional. Olimpiade ini akan dilangsungkan selama dua hari. Hari pertama untuk babak penyisihan akan diambil 20 siswa saja dengan sistem gugur selanjutnya akan dipilih 5 untuk perwakilannya.
"Ayo sarapan dulu" ucap Nadia sambil menggandeng kedua anaknya keluar dari kamar.
"Ayo bunda" jawab keduanya dengan semangat.
Keduanya sudah mendapatkan beberapa nasihat dari Nadia untuk nanti saat mengerjakan tak perlu berpikir harus menang. Yang harus keduanya yakini adalah sudah berusaha sebaik mungkin. Nadia juga tak mau anaknya tertekan karena harus jadi juara.
Semuanya memang sudah ada di ruang makan menunggu Nadia, Anara, dan Abel yang sedang bersiap. Bahkan sarapan untuk Anara dan Abel sudah ada di piringnya karena tadi diambilkan oleh Mama Anisa. Anara dan Abel begitu terharu banyak orang yang perhatian dengan mereka.
"Siapppp..." seru Anara.
Anara dan Abel langsung saja duduk di kursinya. Mereka segera menikmati sarapan pagi ini dengan begitu semangat. Bahkan Alan dan Arnold yang biasanya selalu harus ada bundanya setiap pagi, mengalah untuk kakak-kakaknya.
"Anara dan Abel diantar duluan sama papa ke sekolah soalnya kan nanti bareng sama teman juga gurunya. Kita nanti langsung ke lokasi acara" ucap Nadia.
Anara dan Abel menganggukkan kepalanya kemudian mereka semua berpamitan kepada keluarganya. Andre nanti akan di sekolah hingga mengawal keberangkatan Anara dan Abel sampai ke lokasi walaupun berbeda mobil.
"Semangat kak Abel dan kak Nara. Kalian pasti bisa" ucap Arnold yang kemudian memeluk kedua kakaknya itu.
__ADS_1
"Mangat kak Bel dan kak Nala. Talo coalna cucah, toba pikilkan bajah Alan aja. Pati anti talian lancung bica apat awab coalna" ucap Alan dengan begitu percaya dirinya.
Anara dan Abel hanya tertawa menanggapi ocehan adiknya. Mereka berdua langsung mencium pipi Alan berulangkali hingga basah dengan air liur. Sedangkan Alan sendiri hanya menghela nafasnya pasrah. Semua yang melihatnya hanya tertawa apalagi wajah pasrah Alan yang begitu lucu.
"Yan enting temua bahadia, coal Alan yan pipina bacah ya cudahlah" batin Alan dengan wajah pasrah.
***
Abel dan Anara sudah sampai di sekolah dengan diantar oleh Andre. Keduanya langsung bergabung dengan teman dan gurunya setelah berpamitan pada papanya. Sedangkan kini Andre berada dalam mobil untuk mengawasi anak-anaknya. Dua orang wali siswa yang satu sekolah dengan Anara dan Abel juga berada dalam mobilnya masing-masing.
Mata Andre terus bergerak liar kearah semua mobil yang dipersiapkan untuk akomodasi menuju tempat berlangsungnya acara. Sedang tak jauh dari tempat parkir, ada Ibu Yuni, Gea, dan 4 siswa tengah berdiskusi seru. Namun ada sedikit kejanggalan disana karena tak ada guru yang menjadi penanggungjawab olimpiade waktu itu.
"Itu bukannya dua guru yang jadi penanggungjawab olimpiade? Kok malah mengendap-endap di parkiran mobil kaya maling" gumam Andre yang tak sengaja melihat kehadiran keduanya.
Harusnya guru penanggungjawab akan ikut bersama dengan rombongan untuk diskusi. Namun ini malah ada didekat mobil dengan tingkah yang begitu mencurigakan. Andre terus mengawasi hingga keduanya berjongkok di dekat ban mobil.
Andre memang tak diberitahu mengenai keduanya yang dilepas jabatannya sebagai guru pembimbing. Selama ini yang menghubungi dia dan istrinya hanya lah Gea dan Ibu Yuni tentang olimpiade ini. Namun Andre tak mempermasalahkan siapa yang menghubunginya karena baginya sama saja.
"Eh... Kok ban mobilnya dikempesin" pekik Andre tertahan kemudian dengan cepatnya turun dari mobil.
Ia kemudian berlari menuju tempat parkir mobil yang sedikit jauh dari kendaraannya. Andre tak mengira jika dua guru itu berniat membuat peserta olimpiade gagal berangkat karena ban mobilnya kempes.
"Hei... Jangan berbuat macam-macam pada mobil itu" teriak Andre sambil berlari.
Sontak saja teriakan Andre itu mengalihkan atensi semua orang yang ada disana terutama Ibu Yuni dan Gea. Keduanya segera ikut melihat kearah mobil yang akan digunakan kemudian matanya membelalak kaget karena ban sudah kempes dengan dua orang yang masih berjongkok didekatnya. Kedua orang guru itu seakan linglung karena teriakan Andre membuatnya lupa untuk berlari.
__ADS_1