
"Baik pa, aku akan segera berangkat untuk melaksanakan operasi itu. Andre minta tolong papa untuk mengurus semua administrasi dan juga segala pengurusan tentang berkas-berkas yang harus dilengkapi untuk keberangkatanku ke luar negeri" putus Andre.
Andre memutuskan untuk segera melakukan keberangkatan ke luar negeri demi operasi bedah plastik yang akan dilakukannya. Terlebih kondisi kakinya yang sudah mulai membaik membuatnya takkan lagi mengulur-ulur waktu. Dia juga ingin segera menikahi kekasihnya itu agar posisinya bertambah kuat dalam hal hak asuh anak.
"Kamu akan ditemani mama disana karena papa harus menghandle pekerjaanmu disini. Untuk kamu Nad, minta tolong untuk fokus mengurus ketiga cucuku. Ajaklah mereka tinggal denganmu atau kamu yang tinggal disini untuk menemani mereka karena tak mungkin papa akan terus berada di rumah" ucap Papa Reza.
Nadia menganggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang diperintahkan oleh Papa Reza. Kemungkinan besar dia akan membawa ketiga anak Andre untuk tinggal di rumahnya. Ia merasa tak enak jika harus tinggal di rumah mewah milik Keluarga Farda. Pasalnya dia belum resmi menjadi istri Andre sehingga terlihat tak etis jika tinggal disana.
Papa Reza juga mengungkapkan kalau Andre akan berada disana paling lama 2 bulan. Setelah menjalani operasi, tentunya akan masuk masa recovery dan juga pemeriksaan apakah operasi itu berhasil atau perlu perawatan lain.
Mama Anisa dan Papa Reza pun memasuki kamar setelah berbincang panjang lebar dengan Andre dan Nadia. Papa Reza juga akan mulai mengurus semua berkas-berkas untuk kepergian Andre. Hari ini dirinya dan istrinya ingin istirahat terlebih dahulu untuk menenangkan pikiran dan hati.
***
"Kamu jangan macam-macam ya kalau aku lagi nggak di Indonesia" pesan Andre kepada Nadia setelah kedua orangtuanya masuk ke kamarnya.
"Macam-macam gimana? Aku kan kemana-mana nanti sama anak-anak, mana mungkin aku bisa macam-macam" ucap Nadia dengan acuh tak acuh.
Andre terdiam sebentar, benar juga ucapan kekasihnya itu. Nadia takkan bisa macam-macam kalau sudah berada didekat ketiga anaknya. Terlebih Arnold yang sangat posesif pada Nadia membuat perempuan itu takkan bisa bergerak leluasa.
"Ya bisa aja, kalau Arnold dan yang lainnya lagi tidur. Kamu keluar jalan-jalan sendirian lalu ketemu sama bebeb Parno itu" ucap Andre denga sedikit menggoda.
Mendengar Andre yang membahas tentang Parno membuat Nadia mendelikkan matanya kesal. Ia masih kesal dengan kejadian Parno menghina Andre waktu itu. Bahkan setelah kejadian itu, Parno tak pernah lagi kelihatan di tempat biasanya dia nongkrong.
__ADS_1
"Jangan-jangan malahan kamu yang akan main belakang. Di luar negeri kan banyak bule cantik dan seksi, apalagi kamu yang udah jadi ganteng lagi nanti setelah operasi" tuduh Nadia dengan tatapan menyelidik kearah laki-laki itu.
Andre gelagapan dengan pernyataan dari Nadia itu, niat awalnya hanya menggoda kekasihnya itu namun malah kini perempuan itu bisa membalikkan keadaan. Dirinya tak mungkin berpaling dari kekasihnya itu pasalnya yang menemani dia dengan tulus hanyala Nadia. Dia tak mungkin menyia-nyiakan perempuan baik hati seperti Nadia.
"Nggak akan pernah, demi Arnold kejengkang di kasur. Aku nggak akan pernah macam-macam dibelakangmu" ucap Andre dengan membawa-bawa nama anaknya.
"Kamu do'ain Arnold kejengkang di kasur? Tega kamu mas" ucap Nadia mendramatisir dengan wajah yang memelas.
Hahahaha...
Bukannya takut atau panik, Andre malah tertawa saat melihat ekspresi yang dipasang oleh kekasihnya itu. Dia sangat terhibur dengan akting Nadia itu yang seperti adegan sebuah sinetron. Dan dia tentunya akan sangat merindukan moment-moment kebersamaan dengan Nadia ini saat berada di luar negeri nanti.
Nadia yang melihat Andre tertawa lepas pun ikut tersenyum lembut. Dirinya bahagia bisa membuat kekasihnya itu tertawa hanya dengan hal-hal yang sederhana. Dengan memberanikan diri, Andre memegang tangan kekasihnya itu kemudian menatapnya dengan lembut.
Saat Nadia akan membalas ucapan Andre, tiba-tiba ada suara yang menginterupsi dari arah belakang tubuh keduanya. Keduanya sontak saja mengalihkan pandangan mereka membuat sang empu hanya cengengesan karena berhasil merusak moment keduanya.
"Dombal.." seru seseorang tiba-tiba, yang tak lain adalah Arnold.
Arnold, Anara, dan Abel memang sedari tadi sudah bangun kemudian langsung mencari kedua orangtuanya. Saat mereka turun tangga dibantu oleh Mbok Imah, ketiganya melihat adanya Nadia dan papanya sedang duduk berdua di ruang keluarga. Segera saja mereka mendekat kearah kedua orangtuanya itu dan mendengar gombalan dari papanya.
"Dasar bocah kecil ganggu aja orang mau mesra-mesraan" batin Andre kesal.
Ketiganya segera saja duduk di dekat kedua orangtuanya kecuali Arnold yang langsung naik keatas pangkuan Nadia. Melihat hal itu, Andre langsung saja memelototkan matanya tajam kearah anak laki-lakinya itu. Sedangkan yang ditatap pun hanya memeletkan wajahnya seakan mengejek papanya.
__ADS_1
Wlekkk...
Nadia yang melihat hal itu tak dapat menyembunyikan tawanya karena Andre selalu saja kalah jika berhadapan dengan Arnold. Sedangkan Anara dan Abel hanya terkikik geli karena juga sudah merasa berhasil mengganggu moment manis itu.
Andre segera saja mengangkat tubuh Arnold untuk ia dudukkan dipangkuannya. Ia segera menciumi pipi Arnold bertubi-tubi membuat bocah kecil itu memberontak dan terus saja menjambak rambut papanya.
"Epas..." seru Arnold.
Andre tak mau melepaskan bocah kecil itu sehingga membuat Arnold kesal bukan main. Walaupun sudah memberontak namun Andre tetap kekeh mempertahankan Arnold di pangkuannya. Nadia yang melihat wajah Arnold sudah memerah pun langsung saja melerai keduanya.
"Sudah... Sudah... Lepaskan Arnold, Ndre. Kasihan pipinya udah memerah itu" lerai Nadia.
Andre pun menuruti ucapan Nadia kemudian melepaskan Arnold untuk dipangku kekasihnya. Arnold memberengut kesal sambil tangannya terus menghapus jejak ciuman dari papanya itu sampai wajahnya memerah karena terlalu keras digosok.
"Jangan digosok terus, nak" tegur Nadia dengan memegang tangan Arnold.
"Anol ndak cuka di ium-ium ma papa" ucap Arnold kesal.
"Baiklah kalau begitu, biar bunda saja yang cium Arnold" seru Nadia.
Nadia segera menciumi pipi Arnold membuat bocah laki-laki itu tertawa penuh kemenangan. Bahkan dengan santainya ia mengejek papanya karena berhasil mendapatkan ciuman dari bundanya. Anara dan Abel pun bergabung untuk menciumi pipi Arnold.
Semuanya tertawa karena bocah laki-laki itu dengan senang hati menyodorkan pipinya agar dicium oleh Bunda dan kedua kakaknya. Sedangkan Andre hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak laki-lakinya itu.
__ADS_1
"Uhuuuuu... Anol anteng, apat iuman dali ewek-ewek" ucap Arnold genit.