
Arnold dan Nilam terus saja melakukan aktifitas di sekolah secara bersamaan. Bahkan bocah laki-laki kecil itu enggan berjauhan dari Nilam. Beberapa anak-anak lain yang ingin berdekatan dengan Nilam pasti sudah Arnold pelototi terlebih dahulu membuat semuanya memilih menyingkir.
"Jangan dekat-dekat sama Nilam. Yang boleh dekat dengannya itu adalah aku" ucap Arnold menatap sinis kearah anak-anak lainnya.
Padahal niat mereka semua adalah ingin mengajak semuanya berteman namun disalahartikan oleh Arnold. Arnold yang galak dan selalu menatap sinis teman-temannya itu membuat mereka akhirnya mengadukan kelakukan bocah laki-laki itu kepada guru.
"Ibu guru, Arnold nggak mau temenan sama kita. Dia melototin kita terus kalau dekat-dekat dia dan Nilam" adu salah satu anak laki-laki.
"Iya benar bu guru, mata Arnold seram kalau ngelihatin kita" timpal anak yang lainnya.
Guru-guru disana memang sudah mengenal karakter Arnold sejak dulu saat kedua kakak perempuannya masih sekolah disana. Sehingga mereka tak kaget dengan sikap Arnold itu bahkan dulu pernah ada kejadian Arnold menonjok wajah teman kakaknya yang tak sengaja menyenggol Anara dan Abel sampai terjatuh. Walaupun badannya kecil, namun kekuatannya sungguh di luar batas.
"Baiklah, biar nanti ibu guru yang bicara sama Arnold ya kalau kalian mau berteman dengannya" ucap guru itu menenangkan.
Semuanya terlihat bergembira saat mendengar ucapan guru mereka. Mereka hanya ingin saling mengakrabkan diri antar sesama agar satu kelas bisa kompak. Terlebih jika nanti ada kegiatan yang berhubungan dengan berkelompok, tak mungkin juga jika Arnold akan berdua bersama Nilam terus-terusan.
***
"Ibu Nadia, boleh saya berbincang sebentar dengan anda?" tanya seorang guru mendekat ekarah bunda dari Arnold dan Alan itu.
Alan yang begitu aktif tentunya kini sedang berlarian di arena taman bermain sekolah itu bersama dengan anak-anak lainnya yang juga bosan menunggu kakak mereka bersekolah. Sedangkan Nadia saat didekati oleh seorang guru tentunya sedang mengawasi anaknya yang bermain.
__ADS_1
"Bisa bu, silahkan duduk disini. Tapi saya sambil mengawasi anak saya ya, bu" ucap Nadia sembari menggeser tubuhnya agar guru Arnold itu bisa duduk disebelahnya.
Guru Arnold itu pun duduk sambil melihat kearah Nadia berulangkali seperti ragu untuk berbicara mengenai hal ini. Ia juga bolak-balik melihat kearah Alan yang masih setia bermain bersama yang lainnya sambil tersenyum.
"Adiknya Arnold sangat aktif, mirip sekali dengan kakaknya" ucap guru itu berbasa-basi.
"Iya Bu Hamid, memang keduanya mempunyai sifat yang mirip. Kalau boleh tahu apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?" tanya Nadia to the point.
Nadia tahu ketika guru yang bernama Ibu Hamid itu terlihat berbasa-basi dengannya itu menimbulkan suatu pertanyaan dalam benaknya. Pasti guru itu ingin membicarakan tentang anaknya, Arnold namun tak enak hati dengannya dan bingung akan mulai darimana pembicaraan itu.
"Ehmm... Begini bu, saya mau minta tolong kepada anda untuk menasihati Arnold" ucap Ibu Hamid membuka pembicaraan.
Nadia mengernyitkan dahinya heran mendengar ucapan dari guru anaknya itu. Baru hari pertama anaknya sekolah namun gurunya sudah meminta dia menasihati anaknya. Padahal Arnold sedari tadi juga anteng saja bermain dengan Nilam saat jam istirahat bahkan tak terddengar jika dia berantem dengan temannya. Nadia mulai menatap intens kearah Ibu Hamid yang terlihat salah tingkah.
"Begini bu, tadi teman sekelasnya Arnold mengadu kepada saya. Arnold diajak berteman tak mau bahkan selalu memelototi mereka saat mendekat kearahnya dan Nilam. Jadi saya minta bantuannya kepada ibu agar menasihati Arnold supaya lebih berbaur dengan teman-temannya yang lain" ucap Ibu Hamid hati-hati.
Nadia terlihat terdiam bahkan berpikir mengenai hal itu. Sedari dulu memang Arnold akan susah berbaur dengan orang baru jika bukan anak itu sendiri yang mengajaknya berkenalan dan berdekatan. Contoh saja Ando yang bisa langsung akrab dengan Arnold tentunya karena rasa nyaman dalam berteman. Kalau ia belum mau berteman pasti ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
"Baiklah, nanti saya akan coba bicara dengan Arnold. Tapi saya minta sama ibu atau yang lainnya untuk jangan memaksa bocah itu. Saya tak mau anak saya tidak nyaman bersekolah disini karena dipaksa berteman dengan yang lainnya" ucap Nadia dengan tegas.
Ibu Hamid yang mendengarnya hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah. Ia juga tak bisa memaksa anak orang untuk berteman dengan siapapun pasalnya itu nanti akan mempengaruhi kesehatan mentalnya. Bahkan saja anak itu tertekan membuatnya tak mau bergabung dengan yang lainnya.
__ADS_1
Ibu Hamid pun segera saja pergi berlalu setelah berpamitan dengan Nadia. Nadia hanya menganggukkan kepalanya kemudian mengalihkan perhatiannya kembali pada anak bungsunya. Namun dalam pikirannya ia selalu memikirkan tentang ucapan Ibu Hamid, bagaimanapun juga Nadia harus berpikir cara memberitahu Arnold tanpa menimbulkan kesan paksaan.
***
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 11 siang yang artinya waktu sekolah Arnold telah usai. Sudah hampir 10 menit Nadia dan Alan menunggu di tempat khusus disana namun Arnold yang ditunggu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Ada rasa sedikit khawatir pada anaknya itu namun ia menepisnya. Pasalnya ini masih di lingkungan sekolah tak mungkin jika Arnold dalam bahaya.
"Bang ana? Napa lama mamat" gerutu Alan.
"Sabar ya, nak. Mungkin abang baru ngobrol sama temannya" jawab Nadia memberi pengertian.
Nadia langsung saja memangku anaknya yang sudah terlihat bosan menunggu Arnold yang lama. Ia menyembunyikan wajah anaknya di dadanya agar tak terkena sinar matahari terlalu lama. Tak berapa lama, Nilam berlari terengah-engah kearahnya sambil berderai air mata.
"Bunda.... Arnold huhu" ucap Nilam sambil menangis.
"Arnold kenapa, nak?" tanya Nadia sedikit panik.
Pasalnya Nilam datang dengan wajah yang sudah basah dengan air mata. Hal ini membuat Nadia panik bahkan khawatir karena tak melihat Arnold disana. Sekitarnya sudah lumayan sepi dari ibu-ibu yang menunggu anaknya, hanya terlihat sekitar 3 orang saja disana.
Tanpa menjawab pertanyaan Nadia, Nilam langsung saja meraih tangan bunda dari Arnold itu. Nilam menarik tangan wanita itu kemudian mengajaknya pergi melihat Arnold dengan isakan tangis terus keluar dari bibir kecil anak itu. Nadia dengan pikiran yang bercabangnya mengikuti Nilam dengan menggendong Alan. Alan pun juga begitu panik karena tak melihat sang abang tersayangnya.
Saat sudah berjalan sekitar beberapa menit, terlihatlah Nilam membawanya kearah kelas Arnold. Disana terdengar suara ramai-ramai anak menangis dan juga bentakan dari orang dewasa membuat pikiran Nadia bertambah kalut. Terlebih saat dia, Nilam, dan Alan sudah berada didekat pintu sangat terdengar jelas suara Arnold seperti sedang meminta ampun.
__ADS_1
"Astaga... Arnold...."