
"Kemana Bunda?" tanya Abel menuntut.
"Kak Nadia itu sudah pulang ke rumahnya. Dia takkan kembali lagi kesini karena Kak Nadia mau pulang ke kampung" ucap Andre berbohong.
"Ukan akak, api unda. Papa ohong" seru Arnold.
Andre berbohong kepada ketiga anaknya agar mereka bisa dengan segera lupa akan keberadaan Nadia. Namun apa yang terjadi? Arnold tidak percaya dengan ucapannya, bahkan kini menatap galak dirinya. Sedangkan Abel dan Anara termenung dengan mata yang berkaca-kaca. Andre menjadi serba salah jika seperti ini.
"Udah ya, besok kita cari pengasuh baru buat kalian. Sekarang kalian mandi dibantu sama nenek" ucap Andre mengalihkan pembicaraan.
Ketiganya terdiam dan tidak mau beranjak dari duduknya. Andre hanya bisa menghela nafasnya pasrah melihat hal ini. Dia mengacak rambutnya frustasi menghadapi ketiga anaknya yang sangat kritis.
"Ndak au..." seru Arnold tak terima.
"Maunya Bunda" seru Anara dan Abel.
Ditengah percakapan Andre dan ketiga anaknya. Mama Anisa datang kemudian mengejek anak laki-lakinya itu.
"Rasain... Bunda oh Bunda, dimanakah kau berada? Disini aku bisa frustasi mengurus anak tanpamu, oh Bunda" ejek Mama Anisa.
Sedangkan Papa Reza yang ada dibelakangnya hanya menahan tawanya saja melihat istrinya yang meledek anaknya dengan nada membacakan sebuah puisi. Sedangkan Andre hanya bisa tersenyum masam melihat semuanya tak ada yang berpihak kepada dirinya.
"Ayo Anara, Abel, Arnold... Nenek mandikan" ajak Mama Anisa kepada ketiga cucunya.
"Tapi bunda?" tanya Abel.
__ADS_1
"Nanti bunda kamu biar diurusin sama papa tuh" ucap Mama Anisa dengan sinis.
Akhirnya ketiga anak Andre menuruti juga ajakan Mama Anisa untuk mandi. Ketiganya segera digiring menuju kamar untuk membersihkan diri. Sedangkan Andre menundukkan kepalanya di ruang keluarga ditemani oleh Papa Reza.
"Minta maaflah sama Nadia, Ndre. Disini dia tak bersalah, memang benar semua diawali oleh orang di masa lalunya namun Nadia juga tak mengira bahwa akan terjadi seperti ini. Waktu kamu ada masalah dengan Aneta saja Nadia tak pernah menyalahkanmu, dia mendukungmu bahkan masih setia mendampingimu. Dia gadis baik dan nggak neko-neko, kau akan rugi kalau melepaskannya" nasihat Papa Reza.
"Laki-laki sejati adalah yang mau meminta maaf dan mengakui kesalahannya" lanjutnya kemudian menepuk bahu anak laki-lakinya.
Papa Reza segera berlalu dari ruang keluarga meninggalkan Andre yang masih termenung dengan nasihat yang diberikan papanya. Andre sangat menimbang-nimbang keputusan yang akan diambil untuk kebaikan semua orang yang ada disekitarnya.
***
Sedangkan disisi lain...
Kini Nadia bangun dari tidurnya saat matahari telah bersembunyi dibalik awan digantikan dengan bulan yang bersinar. Nadia benar-benar tertidur lelap seakan-akan masalahnya dengan Andre hanya sebagai angin lalu saja. Ia segera bangun kemudian membersihkan dirinya.
"Lho... Nad, kok udah di rumah? Kamu kapan pulangnya?" tanya Ibu Ratmi heran.
"Udah dari tadi siang, bu. Tapi Nadia langsung tidur" jawab Nadia kemudian duduk di kursinya.
Kedua orangtuanya hanya menganggukkan kepalanya mengerti tanpa bertanya lebih lanjut kemudian mereka melakukan makan malam dengan keadaan hening. Setelah acara makan malam selesai, kedua orangtua Nadia segera masuk kedalam kamar sedangkan gadis itu memilih untuk duduk di teras rumah kontrakan.
Nadia memandang langit malam yang gelap gulita tanpa adanya bintang dan bulan yang menyinari. Malam ini bintang dan bulan itu tertutup oleh awan mendung tebal karena sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Sepertinya langit tahu akan suasana hati Nadia malam ini yang juga sedang diselimuti mendung.
"Huft... Gagal nikah lagi deh" gerutu Nadia.
__ADS_1
"Biar dia aja kali ya yang bilang sama ayah dan ibu tentang pembatalan pernikahan ini" lanjutnya.
Walaupun Nadia terlihat sendu namun dia seperti ini karena memikirkan bagaimana reaksi kedua orangtuanya saat dirinya gagal menikah. Dia tak ingin meihat kedua orangtuanya malu dan sedih apalagi lamaran kemarin dihadiri oleh banyak orang. Lagi pula perasaannya pada Andre masih 30% saja, sedangkan sisanya untuk ketiga anak kecil itu.
"Huaaa... Kangen sama bocil-bocil" seru Nadia tiba-tiba.
Baru beberapa jam tak bertemu dengan ketiga bocah kecil itu, Nadia sudah merasa rindu kepada mereka. Apalagi kini mereka tak tahu lagi kapan bisa bertemu. Karena tak bisa menemukan jawaban yang tepat tentang apa yang akan dilakukannya, akhirnya Nadia memilih merenung sambil menatap langit malam.
Saat sedang asyik-asyiknya melamun, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti didepan rumah kontrakan Nadia. Nadia yang melihat mobil itu merasa mengenali siapa pemiliknya. Pemiliknya adalah Andre. Andre keluar dari mobilnya disaat Nadia masih terpaku dengan kedatangan laki-laki itu.
Saat tersadar dengan apa yangd dilihatnya, Nadia segera berdiri kemudian akan berlalu masuk kedalam rumah. Namun dengan sigap Andre mencekal pergelangan tangan gadis itu agar tak memasuki rumah. Nadia memberontak agar dilepaskan cekalannya itu, namun Andre menggenggamnya sangat erat.
"Lepas" ucap Nadia dengan penuh penekanan.
"Enggak" ucap Andre tak mau kalah.
Andre menatap tajam kearah Nadia dan ditatap tak kalah tajamnya oleh gadis itu. Keduanya tak ada yang mau mengalah, berperang melalui sebuah tatapan. Setelah beberapa menit saling menatap dingin, akhirnya Andre memilih mengalah. Dia kesini dengan tujuan tertentu bukan untuk berperang dingin dengan Nadia.
Andre melepaskan pegangannya pada lengan tangan Nadia, kemudian menatap gadis itu dengan tatapan lembut. Sedangkan Nadia yang melihat tatapan Andre yang melembut pun mengalihkan pandangannya, ia tak mau dengan mudah luluh dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki itu. Setelahnya Andre menarik tangan gadis itu untuk duduk di kursi teras secara berdampingan.
Mereka berdua dilanda keheningan dengan saling menatap kearah langit malam. Namun tak berapa lama, Andre memecahkan keheningan itu dengan mengucapkan sesuatu yang membuat Nadia mengernyit heran.
"Kembalilah ke rumahku" ucap Andre.
"Untuk apa?" tanya Nadia.
__ADS_1
"Untuk mengasuh dan menjaga ketiga anakku" jawab Andre.
Nadia sangat heran dengan Andre, ke rumahnya hanya ingin dirinya kembali untuk mengasuh dan menjaga ketiga anaknya padahal laki-laki itu sama sekali belum minta maaf atas kejadian siang tadi. Nadia sampai berpikir apakah Andre tak merasa bersalah sama sekali sudah merendahkan harga dirinya sebagai perempuan. Dia juga masih bertanya-tanya tentang kelanjutan hubungannya dengan Andre akan seperti apa.