Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Rencana


__ADS_3

"Jadi apa yang akan kita lakukan untuk membuat kejutan yang berbeda di hari anniversary kedua orangtuamu itu?" tanya Mama Anisa tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan.


"Harusnya kalau nenek sudah setuju bukannya itu artinya udah tahu mau buat apa dong, masa tanya Arnold yang masih kecil sih" protes Arnold.


Mama Anisa hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Padahal tadi dia menyetujui penawaran Andre itu karena berpikir bahwa Arnold sudah mempunyai ide yang cemerlang. Namun pada faktanya malah Arnold juga mengandalkan ide darinya. Hal ini membuatnya kesal terlebih Arnold seperti menyalahkan dirinya karena belum mendapatkan ide apa-apa.


"Ya mikir dong, biasanya kan kamu yang paling pintar kalau cari ide unik" ucap Mama Anisa mendesak cucunya.


"Arnold lagi banyak yang dipikirin, nanti deh kalau ada waktu aku sempil-sempilin buat mikir masalah itu" ucap Arnold dengan gaya sombongnya.


Mama Anisa hanya bisa berdecih pelan karena ucapan Arnold yang seperti banyak gaya itu. Bahkan ia sudah seperti sedang memikirkan fungsi negara padahal otak anak kecil kebanyakan juga mikirnya hanya tentang bermain dan makan. Namun cucunya itu memang berbeda membuatnya tak bisa menilai apa yang ada dipikirannya.


Setelahnya tak ada pembicaraan apapun didalam mobil. Mama Anisa lebih memilih fokus pada kemudi dan jalanan, sedangkan Arnold terdiam dengan beberapa masalah yang harus dipikirkannya.


***


Arnold dan Mama Anisa sudah sampai di rumahnya sejak satu jam yang lalu. Bahkan kini Arnold sudah bergabung dengan ketiga saudaranya bermain di belakang rumah. Sedangkan Nadia sedang istirahat karena badannya sedikit kelelahan tadi.


"Sttt.... Stttt...." lirih Arnold memberi kode pada ketiga saudaranya.


"Ada apa?" tanya Abel dan Anara dengan sedikit berteriak.


"Jangan keras-keras" kesal Arnold dengan mencebikkan bibirnya.


Akhirnya ketiga bersaudara itu langsung terdiam bahkan menutup mulutnya dengan rapat. Sedangkan Arnold mengawasi sekitar rumah karena khawatir akan ada orang yang mendengar pembicaraan keempatnya. Ketiganya akhirnya mengikuti Arnold untuk duduk dibawah pohon mangga.

__ADS_1


"Besok lusa hari anniversarynya papa dan bunda. Papa mau kasih kejutan untuk bunda dengan acara romantis, kita nggak boleh ganggu" ucap Arnold sambil menghela nafasnya.


Dia seakan masih berat harus melepaskan sang bunda ada acara dengan papanya. Ia malah ingin jika sang papa digantikan oleh dirinya saja. Ketiga saudaranya tampak tertunduk lesu karena tak diijinkan ikut acara kedua orangtuanya.


"Ish... Mereka kok pelit sih, harusnya kita juga diajak dong" gerutu Anara.


"Bukannya pelit tahu, tapi mereka ingin merayakannya berdua. Kaya orang pacaran itu lho yang selalu ingin berdua" ucap Arnold sok tahu.


"Kalau berdua terus nanti yang ketiganya setan. Kalau kita ikut mama dan papa acara itu, berarti kita?" tanya Anara menyahuti ucapan adiknya.


"SETAN... TAN" teriak mereka berempat bersamaan.


Sontak saja mereka berempat bergidik ngeri kemudian melihat kearah sekitar. Gara-gara diskusi yang begitu aneh malah membuat mereka paranoid sendiri. Bahkan mereka berempat langsung saja mendekatkan diri ke tubuh masing-masing saudaranya untuk mencari perlindungan.


"Arnold dan Alan cowok jadi nggak boleh takut sama setan" ledek Anara.


Padahal pada kenyataannya adalah Arnold lah yang sedari tadi memeluk Alan karena ketakutan. Bahkan bocah laki-laki itu juga yang terus melihat kearah sekelilingnya karena waspada. Bahkan kini Arnold langsung saja agak menjauh dari dua kakaknya dan memilih duduk agak jauh.


"Hah baiklah... Jadi gimana rencananya? Apa kita kasih hadiah untuk mereka sebagai hari anniversary nya atau biarkan saja?" tanya Anara.


"Aku dan nenek diminta untuk menyiapkan kejutan buat bunda. Papa yang kasih uangnya" ucap Arnold memberitahu rencananya.


"Terus rencananya uang itu buat kalian bikin apa? Makan malam di restorant mahal gitu" tanya Abel penasaran.


Bahkan kini kedua saudaranya yang lain juga menatap Arnold dengan tatapan penuh penasaran. Mereka bertiga juga ingin ikut membantu menyiapkan segala hal mengenai perayaan anniversary kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Kita siapkan hadiah saja untuk mereka. Untuk semua persiapan kejutannya biar jadi urusan aku dan nenek" jawab Arnold memutuskan.


Tentunya ketiganya itu merasa kecewa karena tak diikutsertakan dalam acara orangtuanya. Namun dengan menyiapkan hadiah untuk mereka saja pasti sudah sangat sibuk jika ditambah dengan mempersiapkan acara pasti akan sangat lelah.


Akhirnya ketiganya menyetujui keputusan dari Arnold. Akhirnya Arnold terdiam sambil menyandarkan tubuhnya ke batang pohon mangga sambil menutup matanya. Ia kini tengah memikirkan sebuah kejutan yang sangat berbeda untuk orangtuanya nanti. Sedangkan ketiga saudaranya sedang berdiskusi untuk memberikan hadiah apa yang berkesan.


***


"Nenek udah beli barang-barang dan siapkan tempat untuk acara besok?" tanya Arnold memastikan.


Kini Arnold dan Mama Anisa tengah berada didalam kamar. Keduanya sedang berdiskusi mengenai semua yang harus disiapkan keesokan harinya. Arnold sudah mengutarakan idenya dengan mengadakan acara makan romantis dihiasi bunga dan lilin yang indah. Bahkan makanan yang disiapkan juga yang enak-enak.


"Nenek udah pesan bunga sesuai keinginan kamu bahkan lilinnya juga. Tapi nenek nggak yakin deh sama ide kamu itu, ini kok kesannya kaya horor ya bukan romantis" ucap Mama Anisa sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Udah deh nenek percaya aja sama ide Arnold. Pasti pesta kejutan ini akan membuat bunda dan papa tercengang dan terharu karena baru pertama kalinya mereka melihat sesuatu yang unik ini" ucap Arnold meyakinkan.


Mama Anisa pun hanya menganggukkan kepalanya pasrah dengan ucapan cucunya itu, walaupun akhirnya nanti konsekuensinya mungkin saja Andre akan mengamuk padanya. Bahkan kini beberapa persiapan sudah dilakukannya berdua bersama Arnold dengan mengandalkan peralatan seadanya.


"Ini itu termasuk pengiritan, nenek. Buat acara kaya gini nggak usah boros-boros kan akhirnya juga bakalan dibongkar juga" lanjutnya.


Mama Anisa membenarkan ucapan cucunya, pasalnya nanti sisa uang yang diberikan Andre akan digunakan untuk jalan-jalan. Arnold takkan membiarkan uang itu habis untuk acara itu melainkan ia ingin pergi jalan-jalan bersama saudaranya juga. Terlebih itu adalah konsekuensinya dari menyuruh Arnold agar mempengaruhi saudaranya supaya tak mengganggu acara kedua orangtuanya.


"Jadi udah deal semua ya ini?" tanya Mama Anisa meyakinkan.


"Deal" seru Arnold yakin.

__ADS_1


Mama Anisa menganggukkan kepalanya kemudian mencatat semua keperluan yang sudah selesai dikerjakan pada ponselnya. Setelah acara diskusi itu selesai, keduanya keluar kamar kemudian mencari sesuatu yang bisa membantu melancarkan acara esok. Bahkan mereka harus susah payah mengalihkan perhatian Nadia agar tak curiga.


Hal ini harus mencari bantuan dari Anara, Abel, dan Alan agar mereka juga mempunyai pekerjaan.


__ADS_2