
Mendengar ucapan pedagang batagor itu membuat Andre kesal bukan main pasalnya hal itu seperti sebuah ejekan yang ditujukan bagi dirinya. Andre juga tak mau dianggap kalau mempunyai adik seperti Parno, membayangkannya saja dia sudah bergidik ngeri. Awalnya ia dan Parno tak saling mengenal, bahkan baru hari ini saja mereka bertemu. Dan ini merupakan sebuah kesialan bagi dirinya karena bertemu dengan Parno ini. Sepertinya hidupnya akan semakin rumit ke depannya karena hadirnya Parno.
"Dia bukan kakak saya, tapi dia adalah orang yang merebut pacar David" seru Parno tak terima.
Sedangkan pedagang batagor yang menegur keduanya pun hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ternyata dua orang laki-laki didekatnya ini sedang terlibat cinta segitiga.
"Heh... Nama kau itu bukan David tetapi Parno. Dan saya bukan perebut pacar orang" ejek Andre.
Andre tahu kalau Parno ini tipe orang yang ingin dikenal dengan namanya yang kebarat-baratan. Terbukti saat tadi pagi Nadia menyebutnya Parno namun laki-laki itu memanggil dirinya sendiri David. Lagi pula kenapa juga Nadia ini bisa mengenal pria jadi-jadian seperti Parno ini. Sungguh meresahkan hidupnya sekali, ia tak bisa membayangkan bagaimana depresinya laki-laki ini jika Nadia beneran menikah dengannya. Membayangkannya saja membuatnya ingin tertawa sendiri.
Parno yang melihat Andre melamun sambil menahan tawanya pun sangat kesal karena dia berpikir bahwa laki-laki didepannya ini sedang menertawakan dirinya.
"Diajak bicara malah melamun dan nahan tawa. Kamu ingin menertawakan saya, ya?" tuduh Parno.
Andre yang semula melamun seketika saja sadar dari lamunannya kemudian mengubah mimik wajahnya menjadi serius. Bahkan kini matanya menatap tajam kearah Parno.
"Saya tidak mengenal anda, jadi tolong anda pergi dari sini sebelum saya tendang perut anda sampai terpental keatas genteng" ancam Andre.
Bukannya takut, Parno malah mengernyitkan dahinya heran karena tak mengerti dengan ucapan dari Andre. Andre yang melihat hal itu hanya geleng-geleng kepala saja, lalu membayar pesanan rujak dan batagor yang telah dibelinya.
Setelah selesai membayar, Andre hendak meninggalkan taman itu mengingat hari sudah mulai petang. Namun tiba-tiba saja, pergelangan tangannya dicekal erat oleh seseorang. Dia itu adalah Parno yang membuat Andre menatapnya tajam. Andre menghempaskan tangan Parno yang menyentuhnya kemudian berjalan mendekat ke hadapan laki-laki itu.
Seketika saja Parno memundurkan langkahnya saat Andre melangkahkan kakinya menuju kehadapannya. Dimata Parno, tatapan Andre kini seperti seekor harimau yang siap memangsanya hidup-hidup. Kali ini Parno mengaku kalah, apalagi dengan jarak dekat seperti ini Andre terlihat sangat sempurna, berbeda jauh dengan dirinya. Rahang tegas dan tatapan tajam serta penampilan yang begitu fashionable membuatnya merasa rendah diri.
Andre mengcengkeram erat kerah pakaian yang digunakan oleh Parno bahkan terlihat seperti mencekik lawannya. Orang-orang yang ada disana mulai memperhatikan pertengkaran keduanya. Mereka akan membantu jika apa yang dilakukan Andre sudah terlewat batas, lagi pula mereka tak ada yang mengetahui akar permasalahannya dan siapa sebenarnya yang salah. Parno pun merasa ketakutan, tak pernah dirinya di perlakukan seperti ini oleh seseorang.
__ADS_1
"Jangan pernah kau mengganggu calon istriku. Kalau kau masih mengganggunya, aku akan melakukan lebih dari ini" ancam Andre.
Andre segera menghempaskan tubuh Parno ke tanah di taman itu, kemudian berlalu pergi meninggalkan laki-laki yang terduduk kesakitan itu.
"Huhuhuhu... Punggung Parno sakit" gumam Parno kesakitan sambil menangis.
Sedangkan para pedagang yang melihatnya hanya bisa meringis pelan melihat bagaimana Andre menjatuhkan Parno dengan tidak manusiawinya. Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala terlebih saat melihat Parno yang tadi terus menantang Andre namun pada faktanya dia adalah seorang laki-laki yang cengeng.
Tak ada yang berniat membantu Parno berdiri sampai kedua orangtuanya tiba-tiba menyusul dirinya ke taman. Dengan raut wajah paniknya, orangtua Parno segera berlari kearah anaknya yang masih terduduk di tanah.
"Ya Allah... Ini kenapa bajunya kusut dan duduk ditanah kaya gini? Itu kursi kan banyak" ucap Ibu Dyah.
Sedangkan Bapak Aden segera saja membantu anaknya itu berdiri dan memapahnya untuk berjalan. Mereka berjalan pulang ke rumah sambil terus menanyakan tentang kejadian yang baru saja terjadi.
"Udahlah, nak. Lebih baik cari gadis lain saja. Itu lho calon mertuanya saja menyeramkan kaya gitu, kamu dan keluarga kita itu bukan tandingannya. Tadi ibu sampai bergidik ngeri ngelihat tatapan tajamnya saat di rumah sakit" nasihat Ibu Dyah.
"Nggak mau, pokoknya David cuma mau sama Nadia titik" kukuh Parno.
Parno melepaskan papahan dari ayahnya kemudian ia berlari untuk pulang ke rumahnya mengingat rumah yang ia tinggali memang di dekat taman itu. Sedangkan kedua orangtua Parno hanya menghela nafasnya pasrah melihat sikap keras kepala anaknya itu. Mereka sudah pasrah dan bersiap untuk kemungkinan terburuknya saat cinta anaknya berakhir mengenaskan nantinya.
***
Andre pulang dengan keadaan emosi, bahkan dia sampai membanting pintu mobilnya dengan keras membuat beberapa orang yang ada disana berjengit kaget. Disana sedang ada Mama Anisa, Anara, dan Abel yang tengah mengantarkan Nadia yang akan pulang ke rumahnya.
"Ada apa sih, Ndre? Pulang-pulang kok banting pintu mobil" tegur Mama Anisa.
__ADS_1
"Lebih baik mama bawa Anara dan Abel masuk kedalam. Andre ada urusan sama Nadia" perintah Andre sambil melirik tajam kearah Nadia.
Mama Anisa yang mendapatkan perintah itu segera saja mengambil pesanannya ditangan Andre kemudian membawa kedua cucunya masuk ke rumah. Sedangkan Nadia yang mendapatkan lirikan tajam itu hanya mengedikkan bahunya acuh seraya menunggu apa yang akan dibicarakan Andre padanya. Setelah mama dan kedua anaknya masuk, Andre segera mengalihkan pandangannya kearah Nadia.
"Gara-gara kau, si Parno itu terus meneror saya saat bertemu" kesal Andre.
"Kau harus bertanggungjawab" lanjutnya.
"Ya maaf, aku kan nggak tahu kalau Parno ada di kota ini" ucap Nadia dengan menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.
Andre yang melihat Nadia menundukkan kepalanya pun hanya bisa menampilkan senyuman misteriusnya. Di otaknya sudah tersusun rencana yang bisa membuat Nadia tak bisa berkutik lagi.
"Pokoknya kamu harus tanggungjawab" ucap Andre.
"Iya, tanggungjawab dalam bentuk apa? Duit? Nadia nggak punya" ketus Nadia.
Nadia yang kesal dengan ucapan Andre yang bertele-tele pun akhirnya berbicara ketus pada laki-laki itu.
"Saya nggak butuh duit. Duit saya sudah banyak bahkan sampai tujuh turunan sepuluh tanjakan pun nggak akan habis" ucap Andre dengan nada sombongnya.
Nadia hanya berdecih sinis saat mendengar ucapan Andre yang begitu menyombongkan dirinya.
"Menikahlah dengan saya sebagai bentuk rasa tanggungjawabmu" ucap Andre.
"APA?" seru Nadia.
__ADS_1