
Andre hanya bisa geleng-geleng kepala saat Parno dengan percaya dirinya mengambil mainan karet gelang yang telah dirangkai menjadi tali itu dan memainkannya dengan lincahnya. Parno seakan-akan menunjukkan bahwa dirinya sangat ahli dalam permainan itu. Andre saja ketika kedua anaknya, Anara dan Abel memainkan hal itu dirinya sering mengomeli dan tak mengijinkannya karena khawatir kedua anaknya terjatuh. Namun kini dirinya malah terjebak permainan seperti ini dengan Parno.
Andre berulang kali menghela nafasnya kasar, butuh kesabaran ekstra demi menghadapi manusia sejenis Parno ini. Tadi ia berpikir bahwa Parno akan mengajaknya bertanding tinju atau gulat, namun ia dijatuhkan oleh ekspektasinya yang terlalu tinggi. Ternyata dia diajak bertanding lompat tali yang biasanya dimainkan oleh anak-anak. Bisa saja setelah lompat tali ini, mereka akan bertanding bola bekel. Membayangkannya saja sudah membuatnya mendengus kesal.
"Aku tak mau bertanding permainan seperti ini. Lebih baik kita tinju atau silat saja" saran Andre.
Parno yang mendengar itu menggelengkan kepalanya ribut. Enak saja Andre mengajaknya bertanding hal seperti itu, sudah dipastikan kalau dirinya akan kalah jika melakukan tinju atau gulat. Dirinya saja tak pernah berlatih beladiri atau olahraga seperti itu selama ini.
"Tidak. Kalau kau tak ingin bertanding lompat tali, maka aku anggap kamu kalah" ucap Parno sambil menatap Andre tajam.
Andre menarik nafsnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan. Parno ini memang benar-benar menguji kesabarannya. Akhirnya Andre menyetujui untuk bertanding lompat tali dengan dua bodyguard yang berjaga membawa talinya kemudian dirinya dan Parno yang akan melompat pada setiap tahapnya.
Parno dan Andre bertanding dengan sengit apalagi Andre harus berusaha keras demi memenangkan pertandingan itu. Dirinya sudah lupa kalau tak pernah memainkan permainan ini. Walaupun setiap Parno mendapatkan gilirannya, Andre selalu tertawa dengan gaya lentur lemah gemulai dari tubuh laki-laki itu saat melompat kearah tali.
Kegiatan keduanya menarik perhatian para tetangga yang tak sengaja lewat didepan rumah Parno, terutama ibu-ibu dan para kaum hawa. Mereka memekik histeris saat melihat Andre yang akan melompat kearah tali tersebut, terlebih saat laki-laki itu menghapus keringat yang menetes di dahinya.
"Huaaaa... Itu siapa? Ganteng banget"
"Ototnya itu lho, menggoda iman"
"Sini bang aku elapin keringatnya"
__ADS_1
Parno yang melihat banyak tetangganya lebih mendukung kearah Andre pun kesal bukan main sehingga waktu di tahap akhir pertandingan, dia terjatuh saat melompati tali itu membuat lawannya memenangkan pertandingan. Semua orang yang ada disana bertepuk tangan dengan serunya saat melihat jagoannya memenangkan pertandingan.
"Ini semua gara-gara kalian, jadi David kalah" seru Parno tak terima sambil menyalahkan ibu-ibu dan para kaum hawa yang menonton.
"Udahlah Parno, lagi pula kamu itu takkan pernah bisa menang jika melawan aku" ucap Andre dengan nada sombongnya.
Parno mendengus kesal mendengar nada sombong Andre kemudian berlalu pergi dengan berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Sedangkan Andre hanya tertawa terbahak-bahak melihat wajah Parno yang menangis dan berlaku seperti anak kecil. Hari ini Parno telah membuatnya banyak tertawa sampai kram perutnya.
"Mas, hati-hati lho nanti kalau Parno ngadu sama bapak dan ibunya. Anda bisa dimarahin karena udah buat anaknya nangis" seru salah seorang ibu-ibu disana.
Andre yang mendengar hal itu hanya menganggukkan kepalanya kemudian menyuruh bodyguard Parno untuk mengambilkan jasnya yang masih ada di ruang tamu. Salah satu bodyguard pun masuk, sedangkan dirinya berjalan kearah mobilnya untuk istirahat sebentar disana. Para penonton dadakan itu akhirnya membubarkan diri setelah apa yang mereka tonton telah selesai.
Setelah jasnya dibawakan oleh bodyguard, dia segera menyalakan mobilnya kemudian melajukannya keluar dari rumah Parno. Para bodyguard juga tak ada yang mencegah dirinya, pasalnya majikannya saja sudah masuk kamar dengan menangis.
Andre melajukan mobilnya menuju ke perusahaan tepat menjelang makan siang. Penampilannya kini sudah tidak fresh lagi karena banyaknya keringat yang mengucur di dahi dan badannya. Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya sampailah dirinya di perusahaannya. Ia segera memarkirkan mobilnya di parkir khusus kemudian turun dari mobil dengan jas yang sudah menempel dibadannya.
Ia berjalan masuk ke dalam perusahaan dengan langkah tegas nan berwibawanya membuat karyawan perempuan disana memandang Andre dengan penuh minat. Bahkan keringat yang masih bercucuran itu membuat daya tarik Andre semakin menguat. Andre tetap berjalan dengan menampilkan wajah datarnya tanpa mempeddulikan bisikan-bisikan dari para karyawannya. Ia segera memasuki lift yang akan mengantarnya ke lantai paling atas gedung perusahaannya.
Ting...
Pintu lift terbuka, Andre segera berjalan menuju ke ruangannya. Dia mengernyit heran saat didepan ruangannya tak ada sekretarisnya yang duduk disana. Tanpa mempedulikan hal itu, Ia segera masuk kedalam ruangannya dan saat membuka pintu, matanya membelalak kaget.
__ADS_1
Ceklek...
"Halo... Sayang?" sapa seseorang yang berada didalam ruang CEO.
"Bagaimana kau bisa masuk kedalam ruanganku, Aneta?" tanya Andre dengan nada datar.
Yang berada di ruangan CEO itu adalah Aneta. Aneta kembali mendatangi Andre sampai laki-laki itu mau menuruti permintaannya. Ini juga merupakan ide dari Lian dan mertuanya yang memarahinya saat tadi ia pulang dari rumah Andre tanpa membawa kabar baik.
"Oh jelas aku bisa masuk kesini dong. Tinggal sogok saja sekretarismu yang genit itu, semuanya beres" ucap Aneta dengan bangga.
Aneta bisa masuk ke ruangan CEO karena memberikan sogokan kepada sekretaris Andre yang teramat matre. Walaupun Andre sudah memberikan peringatan keras bagi sekretaris dan asisten pribadinya untuk mengusir Aneta jika perempuan itu datang, namun tetap saja sekretarisnya itu akan membiarkannya masuk apabila ada uang sogokan. Sepertinya Andre harus mengganti sekretaris yang lebih berkompeten dan profesional.
"Ada apa lagi kau datang kemari? Kalau kau kemari masih membahas tentang pencabutan laporan kepolisian, jawabanku masih sama yaitu tidak akan pernah aku mencabut laporanku" ucap Andre penuh penekanan.
"Ayolah, Ndre. Kau tak kasihan kepadaku? Aku bisa frustasi dan depresi kalau sampai di penjara. Aku janji akan berubah dan kita bisa mengasuh anak-anak bersama. Aku mohon" mohon Aneta sambil menangkupkan kedua tangannya didepan dadanya.
Andre terdiam mendengar ucapan dari Aneta namun dirinya sama sekali tak terpengaruh dengan omongan dusta dari perepuan itu. Ia tetap pada keputusannya untuk membawa kasus ini ke meja hijau.
"Silahkan kau keluar dari sini, sampai jumpa di pengadilan" putusAndre sambil menunjuk kearah pintu keluar.
Aneta yang mendengar ucapan itu hanya menghela nafasnya lesu. Karena Aneta tak juga mau keluar dan tetap duduk di kursinya, Andre mendekat kearah perempuan itu kemudian menarik tangannya agar berdiri. Namun siapa sangka, Aneta juga balik menarik tangan Andre dan laki-laki itu jatuh ke pelukan Aneta. Setelah beberapa menit terdiam dalam posisi itu, Andre dan Aneta tersadar dengan posisi yang terlalu intim ini. Saat Andre akan menegakkan tubuhnya, tiba-tiba saja...
__ADS_1
Ceklek...
Mendengar ada yang membuka pintu ruangannya, Andre menolehkan kepalanya dan matanya membelalak kaget melihat siapa yang datang. Segera saja Andre bangkit dari pelukan Aneta dan mendorong wanita itu sampai wanita itu terjungkal ke bawah bersamaan dengan kursinya.