Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Ingin Bertemu Papa


__ADS_3

Pukul 3 dini hari, di kamar Nadia terlihat sangat ramai dengan tangisan ketiga bocah kecil. Awalnya Anara yang terbangun terlebih dahulu dan langsung menangis saat tak ada Nadia didekat mereka. Tangisan Anara itu membangunkan Abel dan Arnold membuat keduanya ikut menangis.


"Huaaa... Bunda kemana?" tangis Anara dengan histeris.


"Unda... Unda..." panggil Arnold sambil memeluk Abel.


"Tenang ya, Bunda pasti lagi keluar sebentar. Disini kan rumahnya Bunda, jadi nggak mungkin dia ninggalin kita" ucap Abel menenangkan kedua adiknya walaupun ia sendiri juga sudah menitikkan air matanya.


Tangisan yang begitu menggelegar itu membuat sepasang suami istri yang tidur di kamar sebelahnya merasa terganggu. Keduanya segera bangun dan terduduk diatas kasur karena masih belum sadar tentang siapa yang menangis malam-malam begini. Nadia sudah berpamitan dan berpesan kepada kedua orangtuanya untuk menjaga ketiga anak Andre saat dirinya akan pergi menuju ke rumah sakit.


Saat terdengar tangisan lebih keras lagi, keduanya tersentak kemudian saling menatap. Sampai akhirnya mereka berdua sadar kalau ada tiga orang anak kecil yang menginap disini.


"Anak-anaknya Nadia..." seru keduanya secara bersamaan.


Ayah Deno dan Ibu Ratmi segera saja berlari keluar kamar untuk melihat keadaan ketiga anak kecil itu. Mereka berdua segera masuk ke kamar dan terlihatlah ketiga bocah kecil yang tengah berpelukan diatas kasur sambil menangis.


"Kalian kenapa kok menangis?" tanya Ibu Ratmi dengan lembut sambil mendekat kearah ketiganya.


Ketiganya segera saja melerai pelukannya kemudian menatap kedua orangtua Nadia dengan berderai air mata. Bukannya merasa kasihan, kedua orangtua Nadia menahan tawanya karena melihat wajah mereka yang sangat menggemaskan dengan pipi dan hidung memerah disertai mata yang mengalirkan air mata.


"Unda ana?" tanya Arnold.


"Oh... Bunda Nadia sedang pergi ke pasar untuk membeli bahan masakan" bohong Ibu Ratmi.


"Ini masih jam 3 pagi kok sudah ke pasar?" tanya Abel kritis.


"Hmm... Iya, soalnya ada tetangga yang mau hajatan jadi bundamu dimintai tolong untuk membelikan banyak sayuran dan bahan masakan lain" jawab Ibu Ratmi dengan bohong.


Ayah Deno yang mendengar jawaban dari istrinya tentu saja memujinya dalam hati karena kecerdasannya dalam membuat alasan. Ketiganya mengangguk-anggukkan kepalanya mempercayai apa ucapan dari Ibu Ratmi.

__ADS_1


"Sudah, ayo tidur lagi. Ini masih jam 3 pagi lho, biar nanti waktu di sekolah kalian nggak ngantuk" ajak Ibu Ratmi.


Ketiganya menurut kemudian memejamkan matanya agi ditemani Ibu Ratmi dan Ayah Deno yang mengelus rambut mereka. Setelah beberapa menit, akhirnya mereka bertiga tertidur dengan pulasnya membuat kedua orangtua Nadia merasa lega. Keduanya segera keluar dari kamar Nadia kemudian duduk di ruang tamu.


"Telfon Nadia sana, yah. Bilang aja anaknya nyariin, jangan lama-lama di rumah sakit sama nanti baiknya suruh bawa sayuran atau jajanan pasar. Nanti ketiga bocah itu curiga lagi kalau kita bohongin misal Nadia nggak bawa apa-apa" ucap Ibu Ratmi.


Ayah Deno menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi menuju kamarnya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Nadia. Sedangkan Ibu Ratmi akan memasak untuk sarapan pagi.


***


Pagi hari sekitar jam 5, Nadia sudah sampai di rumahnya. Ia segera membersihkan dirinya kemudian duduk sebentar di ruang tamu bersama dengan kedua orangtuanya. Mereka tengah membicarakan mengenai kelanjutan tentang rencana pernikahan Andre dan Nadia.


"Yah, Bu... Kayanya rencana pernikahan kita harus diundur karena kesehatan Andre. Jadi minta tolong untuk diurus ke pihak catering kemarin yang sudah di booking kira-kira bisa diundur atau tidak" ucap Nadia.


Kedua orangtua Nadia seketika terkejut dengan ucapan Nadia, pasalnya gadis itu belum menjelaskan tentang kondisi Andre.


"Memangnya Andre mengalami luka parah atau bagaimana, Nad? Kok pakai diundur segala" tanya Ayah deno heran.


"Yang benar, Nad? Andre lumpuh kakinya?" seru Ibu Ratmi.


Nadia menganggukkan kepalanya kemudian kedua orangtua Nadia hanya menutup mulutnya dengan tangan karena benar-benar tak percaya dengan hal ini. Calon menantunya mengalami kecelakaan sampai kondisinya begitu serius.


"Papa yumpuh akinya?" tanya Arnold dengan nada cadelnya dari arah pintu kamar Nadia.


Nadia dan kedua orangtuanya membeku ditempat duduknya. Ketiganya tak menyangka kalau anak-anak Andre sudah bangun dari tidurnya. Mereka tak berani melihat kearah ketiga anak kecil yang masih berdiri didepan pintu kamar Nadia. Mereka menyadari kecerobohannya saat membicarakan hal sensitif seperti ini di rumah.


"Papa lumpuh kakinya, bunda? Papa nggak bisa jalan lagi?" tanya Abel yang sudah mengerti.


"Bunda jawab, nggak boleh bohong" seru Anara dengan menuntut.

__ADS_1


Ketiga anak kecil itu berjalan mendekat kearah Nadia dengan mata berkaca-kaca. Ketiganya kemudian menatap Nadia dengan sendu, sedangkan gadis itu hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tak tega melihat wajah sendu ketiga bocah kecil itu.


"Bunda, jawab dong. Jangan diam aja" ucap Anara dengan menggoyang-goyangkan pergelangan tangan Nadia.


Tak kalah dari Anara, maka Abel dan Arnold pun terus menggoyangkan tangan dan bahu Nadia. Mereka mendesak Nadia untuk berbicara jujur, sedangkan kedua orangtua gadis itu sudah menahan tangisnya melihat pemandangan itu.


"Iya, nak. Papa lagi sakit, kakinya luka jadi untuk sementara nggak bisa jalan dulu. Kita harus beri semangat dan do'a yang banyak agar papa bisa cepat sembuh" ucap Nadia dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar ucapan Nadia, ketiganya seketika menangis begitu keras sambil memeluk Nadia. Nadia pun membalas pelukan ketiga bocah kecil itu kemudian menangis bersama. Pemandangan yang begitu memilukan, keempatnya benar-benar terpukul dengan keadaan Andre.


"Bunda, mau ketemu papa" seru Anara.


"Iya, kita ingin bertemu papa dan bisa memberikan semangat secara langsung" ucap Abel dengan menangis.


"Papa huhuhuhu" seru Arnold dengan menangis histeris.


"Nanti ya, papa lagi istirahat. Nggak boleh diganggu dulu" ucap Nadia dengan suara seraknya.


"No... Ita mau papa cekalang" kesal Arnold.


Nadia bingung dengan situasi seperti ini. Gadis itu menatap kedua orangtuanya untuk membantunya dalam menenangkan ketiga anak Andre. Kedua orangtua Nadia yang masih terpaku dengan kesedihan pun akhirnya mendekat kearah ketiga bocah kecil yang terus merengek pada anaknya itu.


"Iya... Kita ketemu papa habis ini ya. Tapi mandi dulu, kalian bau lho belum mandi" goda Ibu Ratmi.


Ketiganya seketika menghentikan tangisan dan rengekannya kemudian terdiam saling menatap satu sama lain. Ketiganya langsung saja berlari kearah kamar mandi untuk dimandikan.


"Bunda, mandiin" seru Anara dari dalam kamar mandi.


Nadia dan kedua orangtuanya hanya menggelengkan kepalanya melihat perubahan wajah dan tingkah dari ketiga bocah kecil itu.

__ADS_1


"Biar ibu yang mandikan mereka. Kamu hubungi kedua orangtua Andre dulu untuk mengabari hal ini" ucap Ibu Ratmi.


Ibu Ratmi segera berlalu kearah kamar mandi, sedangkan Nadia langsung saja menghubungi kedua orangtua Andre tentang kejadian ini.


__ADS_2