Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kabar Baik


__ADS_3

"Baby Alan, besok kalau sudah besar jangan suka melawan orangtua terutama bunda ya. Jangan suka juga menyakiti perempuan karena itu sama saja nyakitin hati bunda. Kasihan lho bunda udah berjuang melahirkan sampai nggak bangun-bangun sampai sekarang" ucap Arnold memperingati adiknya itu.


Baby Alan yang diajak bicara pun hanya menganggukkan kepalanya padahal dia juga tak paham apa maksud dari ucapan kakaknya. Sedangkan Anara dan Abel semakin termenung mendengar ucapan adiknya, ada rasa takut tersendiri ketika nanti mereka dewasa dan mengalami fase melahirkan itu.


"Huh... Bunda kapan sih bangunnya? Lama amat, hampir tiap minggu kita kesana tapi nggak ada perubahan" keluh Anara.


"Sabar... Kita sudah berusaha berinteraksi dengan bunda sesuai dengan apa yang disarankan oleh dokter, untuk hasilnya kita serahkan pada Tuhan" ucap Abel sambil mengelus rambut adiknya dengan lembut.


Mereka berempat kini tengah rebahan di ruang keluarga menunggu nenek dan kakeknya yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Hari ini adalah hari minggu, sesuai dengan kebiasaannya selama hampir satu tahun ini jika saat akhir pekan mereka akan berkunjung bersama ke rumah sakit.


"Astaga... Kalian sudah rapi kok malah rebahan sih? Bajunya kusut tuh" tegur Mama Anisa.


Sontak saja keempatnya langsung bangun dari posisi rebahannya sedangkan Abel langsung membantu Alan untuk bangkit. Mereka segera merapikan bajunya kembali kemudian mendekat kearah kakeknya. Mama Anisa langsung saja menggendong Alan yang sudah merentangkan kedua tangannya.


"Gemasnya sama cucu nenek yang satu ini" ucap Mama Anisa sambil mencium pipi Alan dengan lembut.


"Ayo, ma. Nanti keburu siang" ajak Papa Reza pada istrinya yang masih sibuk menciumi Alan.


"Nenek hobbynya cium-cium pipi Alan dan Arnold. Bukan mahlam" sindir Arnold.


Mama Anisa pun menghentikan kegiatannya kemudian berjalan mengikuti suami dan ketiga cucunya yang lain bahka ia menghiraukan ucapan Arnold. Sedangkan Papa Reza hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kosa kata yang keluar dari mulut cucunya itu. Setelah sampai didepan mobil, mereka segera saja masuk kedalam dengan Anara, Abel, dan Arnold duduk di kursi belakang kemudi. Setelah semuanya siap, Papa Reza mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


***

__ADS_1


Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Papa Reza tiba di parkiran sebuah rumah sakit. Mereka semua turun dengan Alan yang kini berada digendongan Papa Reza sedangkan Mama Anisa mengawasi ketiga cucunya yang saling bergandengan tangan didepannya. Mereka berjalan memasuki area rumah sakit menuju ruang ICU.


Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya mereka sampai di dekat ruang ICU. Terlihat disana sudah ada Andre yang duduk di kursi ruang tunggu sambil memainkan ponselnya.


"Papa..." seru Abel, Arnol, dan Anara bersamaan.


Andre pun langsung mengalihkan pandangannya dari ponsel kemudian melihat kearah keluarganya yang memberikan senyuman manis untuknya. Dukungan dari keluarganya inilah yang membuatnya bisa bertahan sampai detik ini. Andre segera bangkit dari duduknya kemudian merentangkan kedua tangannya dengan berjongkok.


Anara, Abel, dan Arnold langsung berlari menuju papanya dan masuk dalam pelukannya. Andre menciumi ketiga anaknya dengan sayang. Hampir satu tahun dirinya jarang pulang ke rumah dan bertemu ketiga anaknya hanya saat weekend saja, ini membuatnya merasa bersalah. Namun apa boleh buat, dia juga harus menjaga istrinya yang masih belum sadar.


Sedangkan kini Alan sudah memberontak di gendongan Papa Reza saat melihat ketiga kakaknya dipeluk oleh papanya. Papa Reza yang mengerti kode dari Alan pun segera mendekat kearah Andre dan ketiga cucunya kemudian menurunkan Alan disana. Andre pun melepaskan pelukannya pada ketiga anaknya kemudian meraih Alan masuk dalam gendongannya.


"Ughhhh... Anak papa yang paling gembul ini" ucap Andre sambil menciumi perut Alan.


"Lihatlah pa... Kalau waktu itu kita menyerah, akan bisa dipastikan kalau senyum mereka takkan seperti ini. Nadia adalah magnet untuk mereka berkumpul dan saling mendukung dalam keadaan apapun" ucap Mama Anisa.


"Iya, ma. Keputusan kita untuk mempertahankan Nadia di dunia ini adalah sebuah keputusan yang tepat" ucap Papa Reza sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


***


Saat mereka tengah duduk santai di ruang tunggu, semuanya dikejutkan dengan dokter dan perawat yang berlarian masuk dalam ruang ICU. Sontak saja mereka yang menunggu langsung saja bergerak mendekat kearah pintu ruang ICU. Bahkan Andre langsung menghentikan jalan perawat yang terlihat tergesa-gesa.


"Ini ada apa, sus? Ada apa dengan istri saya?" tanya Andre dengan panik.

__ADS_1


"Tuan mohon tenang dulu ya. Kami tadi mendapat panggilan darurat dari alat pendeteksi yang ada di tubuh pasien. Kami minta do'anya agar dokter dan tim medis lainnya bisa melakukan tindakan terbaik untuk pasien. Permisi" ucap perawat itu kemudian masuk kedalam ruang ICU.


Jawaban dari perawat tadi bukannya melegakan Andre dan yang lainnya, justru malah membuat mereka ikut khawatir. Terlebih keempat bocah kecil yang langsung terdiam seperti merasakan tengah ada sesuatu yang janggal.


"Kita berdo'a untuk bunda ya biar tak terjadi sesuatu yang buruk" ucap Andre menyembunyikan kekhawatirannya didepan keempat anaknya.


Keempat bocah kecil itu mengangguk kemudian terdiam untuk berdo'a dalam hati masing-masing. Begitupun dengan Andre, Mama Anisa, dan Papa Reza.


"Bunda, ayo bangun. Arnold udah bisa bicara lancar lho walaupun masih sedikit cadel" batin Arnold.


"Bunda, kami kangen. Cepat bangun ya biar bisa main sama-sama lagi" batin Abel.


"Aku mohon sayang, bertahanlah untuk aku dan anak-anak. Kami semua menunggumu" batin Andre dengan menatap pintu ruang ICU.


***


Tak berapa lama, dokter keluar dengan wajah penuh kelegaan. Terlihat sekali kalau dokter itu tersenyum seakan terbebas dari semua beban yang selama ini memikulnya. Andre segera saja berjalan mendekat kearah dokter itu diikuti keluarganya yang lain.


"Apa yang terjadi dengan istri saya, dok?" tanya Andre dengan raut paniknya.


"Bapak tenang saja karena saya punya kabar baik untuk anda dan keluarga. Pasien sudah sadar dari tidur panjangnya" ucap dokter itu dengan mata berkaca-kaca.


Selama satu tahun lebih menemani pasien yang koma tentunya menjadi tanggungjawab sendiri baginya. Dan hari ini, pasien yang telah diusahakannya akhirnya membuka matanya setelah sekian lama.

__ADS_1


Andre dan yang lainnya tentu terkejut dengan berita ini sampai tak bisa berkata-kata lagi. Hanya air mata yang bisa menggambarkan apa yang ada di hati mereka. Bukan air mata kesedihan, namun kebahagiaan. Cahaya mereka kini telah kembali.


__ADS_2