
"Bunda, kapan sih Arnold masuk sekolah TK?" tanya Arnold yang kini duduk didepan TV bersama dengan Nadia dan Alan.
"Emangnya kenapa, nak?" tanya Nadia.
Tak biasanya Arnold menanyakan tentang sekolah, biasanya anak itu hanya sering meminta untuk bermain di taman. Bahkan tak pernah mereka membahas tentang sekolah karena memang Arnold belum cukup umur. Bahkan ketika Arnold ditawari untuk masuk PAUD pun bocah kecil itu menolaknya.
"Arnold rindu Nilam, gimana ya kabar pacar Arnold itu? Semenjak Arnold enggak ke sekolah kakak dulu kan jadi nggak ketemu sama Nilam" ucap Arnold sambil kedua tangannya menyangga dagunya.
Nadia yang mendengar jawaban dari Arnold pun hanya bisa mengelus dadanya sabar. Anaknya ini masih kecil sudah tahu mengincar perempuan. Tak heran juga dengan tingkah Arnold seperti ini pasalnya dari dia memperlakukan dirinya pun kelihatan kalau dia sangat pintar menggombal.
"Bocil galau..." ledek Mama Anisa yang baru saja datang namun ia juga mendengar apa yang diucapkan oleh cucunya itu.
"Wajar dong, galau karena ayang. Coba kalau nenek ditinggal kakek pergi kerja ke luar kota lama sekali pasti juga kaya Arnold" ucap Arnold tak mau kalah.
Mama Anisa mencebikkan bibirnya kesal mendengar ucapan cucunya itu. Namun dirinya wajar kalau rindu dengan suaminya sendiri, kalau Arnold kan belum waktunya memikirkan seperti itu. Arnold itu masih harus memikirkan bermain dan sekolah bukan percintaan.
"Nggak papa dong kalau nenek galau atau rindu sama kakek, kan kami sudah halal" ucap Mama Anisa.
Arnold terlihat mengernyitkan dahinya heran saat mendengar ucapan dari neneknya itu. Dia seperti tengah berpikir keras untuk memahami kalimat itu. Seketika saja matanya berbinar cerah saat tahu dengan apa yang dimaksud oleh neneknya.
"Nenek dan kakek kan sudah halal, berarti sudah dapat stempel halal dari MUI dong" seru Arnold sambil bertepuk tangan.
__ADS_1
Mama Anisa dan Nadia yang mendengar hal itu hanya bisa menepuk dahinya pelan. Ternyata memang jika berbicara dengan Arnold haruslah berhati-hati. Terutama dengan kata-kata baru yang susah dicerna oleh anak seusia Arnold. Akhirnya kedua orang dewasa itu membiarkan saja Arnold memahami sendiri tentang ucapan Mama Anisa, toh nanti saat dewasa pasti anak itu akan mengerti sendiri.
***
Sedangkan di sekolah...
Anara dan Abel terlihat duduk bersama Diani serta teman-teman lainnya. Hubungan pertemanan mereka membaik bahkan orangtua Diani jauh lebih bersikap menghargai anak-anaknya. Bahkan kini mereka duduk bersama sambil bercanda ria, pasalnya selama ini memang Anara dan Abel tak mempunyai teman lainnya. Banyak teman lain yang menjauhinya karena prestasi keduanya yang membuat iri.
"Gimana kalau kita adakan belajar bersama? Nanti tempat untuk belajarnya gantian" usul Diani.
"Wah... Anara setuju" seru Anara.
"Tapi kita tanya dulu sama orangtua, dibolehin apa enggak. Soalnya kan nanti pasti mereka jemput dan antarnya pasti ke rumah yang sedang digunakan untuk belajar bersama" ucap Abel.
Dugh...
Bunyi hantaman bola basket itu mengalihkan semua atensi orang-orang yang ada disana tak terkecuali Abel dan Anara. Siswa laki-laki berkacamata bernama Dino itu sampai memegang kepalanya karena lemparan bola basket yang begitu keras. Abel dengan refleksnya langsung saja berdiri dari duduknya kemudian menolong siswa laki-laki yang sudah oleng itu.
"Kamu nggak papa?" tanya Abel menatap siswa yang sudah berhasil ia sandarkan duduk di tembok itu.
Dino hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian Anara datang dengan menyodorkan sebotol air mineral kepada Dino. Dino segera mengambilnya kemudian meminumnya untuk menetralkan rasa pusing di kepalanya. Abel pun menjauh dari Dino kemudian mendekat kearah Aldi dan teman-temannya yang tertawa karena berhasil mengerjai laki-laki berkacamata itu.
__ADS_1
"Kamu jahat banget sih sama Dino, nggak boleh kaya gitu sama temannya" seru Abel tak terima.
"Biarinlah, orang miskin kaya dia emang nggak pantas sekolah disini. Jadi kalau aku lempar pakai bola basket ya udah lah ya itu cara biar dia nggak betah sekolah disini" kesal Aldi karena ada yang membela Dino.
Aldi tergolong anak korban broken home yang tingkah lakunya sungguh membuat semua guru disini geleng-geleng kepala. Akibat perceraian kedua orangtuanya membuatnya sering mencari masalah agar ia merasa diperhatikan. Mata Abel berkaca-kaca melihat Aldi tampak tak merasa bersalah sama sekali.
"Kamu nggak diajarin menghargai oranglain ya sama orangtuamu sampai membully siswa beasiswa kaya gitu" timpal Diani yang juga sudah kesal melihat tingkah Aldi setiap harinya.
"Enggak, orangtuaku mana ada yang peduli sama tindakanku. Lagian kalau mereka datang dan marah-marah karena tindakanku ini, aku akan sangat bahagia" ucap Aldi dengan tersenyum miris.
Abel bisa melihat jika dalam tatapan mata Aldi tersirat kesedihan saat mengucapkan hal itu. Bahkan Aldi langsung mengalihkan pandangannya kearah lain saat Abel menatap intens matanya. Abel menarik kedua tangan Aldi dengan lembut.
"Aldi, jika kamu merasa sendirian karena kedua orangtuamu berpisah itu hal yang wajar. Aku juga merasakannya, bahkan setelah perpisahan keduanya aku sama sekali tak merasakan apa itu kasih sayang. Tapi aku selalu berdo'a sama Tuhan biar suatu saat nanti bisa dikasih waktu untuk berkumpul bersama dengan sebuah keluarga yang sesungguhnya. Pada akhirnya Tuhan mengabulkan do'aku, buktinya sekarang aku bahagia dengan keluargaku walaupun kedua orangtua kandungku tak bersama lagi. Jadi perpisahan kedua orangtua tidak bisa menjadi alasan untuk kamu membully oranglain, kamu nggak mau kan dijauhi sama teman-teman karena nakal?" ucap Abel.
Aldi yang mendengar ucapan Abel pun dengan cepat menggelengkan kepalanya bahkan saat ia memandang wajah temannya itu terlihat kalau matanya berkaca-kaca. Selama ini dirinya ingin diperhatikan dengan cara membuat masalah. Bukannya diperhatikan, kedua orangtuanya malah menganggapnya sebagai anak nakal dan malas mengurusnya.
"Minta maaf ya sama Dino, kita temenan semua. Bisa main dan belajar bersama, jadi kamu nggak perlu sedih lagi. Buktikan sama kedua orangtuamu kalau kamu akan berprestasi walaupun tidak didampingi mereka. Siapa tahu dengan prestasi, mereka akan bangga dan melihatmu" lanjutnya menyemangati Aldi.
Aldi menganggukkan kepalanya kemudian berjalan mendekat kearah Dino. Aldi langsung memeluk Dino dengan erat sambil terus menggumamkan kata maaf.
"Maafin Aldi ya Dino. Aldi suka nakalin Dino, besok-besok kita main sama-sama ya" ucap Aldi dengan tulus.
__ADS_1
Dino menganggukkan kepalanya tanda sudah memaafkan Aldi. Bahkan mereka bersalaman kemudian saling membalas pelukan dengan erat. Akhirnya mereka semua memilih untuk bermain bersama untuk menyambut pertemanan yang baru saja terjalin. Semua bercanda tawa bersama bahkan saling berbagi makanan untuk menghabiskan waktu istirahat.