
"Sebenarnya apa yang terjadi, yah?" Tanya Ibu Ica sambil melepaskan pelukannya.
Argio terdiam membeku mendengar ucapan sang istri. Otak dan raganya seakan tak sinkron akibat peristiwa yang begitu mendadak ini. Kemarin mereka berada diatas angin, namun dengan secepat kilat langsung dijatuhkan ke dasar jurang.
Argio menatap istrinya yang sudah bercucuran air mata itu dengan tak tega. Ada sakit di hatinya yang tak bisa dijelaskan saat melihat orang yang dicintai kita harus merasakan penderitaan lagi. Sudah lama mereka merasakan kenyamanan pada titik ini namun sekarang harus berada di titik terendahnya.
"Nyonya Hulim ada di kota ini. Semua fasilitas yang diberikannya kini diambil kembali olehnya. Ayah diberhentikan sementara karena Nyonya Hulim tahu mengenai kebohongan kita yang memanipulasi kasus anak kita. Ia juga tahu kalau ayah menggunakan fasilitas perusahaannya tanpa sepengetahuannya" jelas Argio.
Mendengar hal itu tentunya Ibu Ica langsung memeluk suaminya kemudian menangis dengan histeris. Ia tak menyangka karena ulah anaknua membuat semua berantakan. Namun mereka harus menerima semua ini dengan ikhlas agar Nenek Hulim tak menambah hukuman.
"Ayo bu, kita cari kontrakan sambil mikir tentang kasus Ica. Mungkin ini teguran Tuhan agar kita tak serakah dan semena-mena pada oranglain" ucap Argio bijak.
Ibu Ica menganggukkan kepalanya kemudian membawa satu koper besar yang ada disana. Argi membawa dua koper berisi baju dan barang miliknya juga sang anak. Setelah dirasa siap, mereka segera saja berjalan keluar dari halaman rumah itu.
***
"Nek, ending andeng angan papana kak Ilam aja. Kacian lho tu ndak unya andengan. Macak candal aja una andengan, enek endak sih" seru Alan meledek.
Sore ini mereka memutuskan untuk sekedar mencari hiburan di sebuah pusat perbelanjaan atau mall. Semuanya ikut termasuk Nilam dan papanya juga Nenek Hulim dan Fikri. Mereka semua begitu senang dapat berkumpul seperti ini walaupun kakaknya Nilam belum bisa bergabung. Kakak Nilam sedang bermain dengan teman-teman satu kompleknya sedangkan Mama Vivi pergi arisan.
Papa Nilam itu berjalan sendirian sambil mengawasi anak-anak di belakang. Sedangkan Mama Anisa dan Nadia sama-sama menggandeng suaminya. Sedangkan Abel dan Anara, Arnold dengan Nilam, Fikri bersama Alan saling bergandengan. Jelas hanya Nenek Hulim dan Papa Nilam saja yang berjalan sendiri.
Nenek Hulim dan Papa Nilam yang diledek pun hanya bisa geleng-geleng kepala karena tingkah jahil Alan itu. Mereka masih bisa jalan sendiri walaupun Nenek Hulim harus pelan-pelan.
"Kaya ada yang ngomong? Tapi kok nggak keliatan wujudnya ya?" Ucap Nenek Hulim ingin mengerjai Alan.
Bahkan Nenek Hulim langsung berpura-pura mengedarkan pandangannya kearah seluruh mallm. Hal ini membuat Alan mencebikkan bibirnya kesal karena dipikirnya ia seperti setan yang sama sekali tak terlihat.
"Kak Ikli, liat kan talo ada Alan yan anis dicini?" Tanya Alan kepada Fikri.
__ADS_1
Fikri melihat kearah Nenek Hulim yang memberi kode kepadanya. Dengan berakting menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kemudian mengusap lengannya.
"Iya nih nek, ndak ada wujudnya tapi kaya ada orang ngomong" ucap Fikri.
Alan yang mendengar itu membulatkan matanya, ia menatap tak percaya ke arah Fikri yang masih berakting. Hampir semuanya menahan tawa karena melihat wajah Alan yang cemberut itu.
"Talo ujudna ndak ada, tlus yan kak Ikli andeng ni angan capa? Angan itut-itutan enek, cecat" Kesal Alan.
"Tangannya hantu" celetuk Arnold.
Alan menatap julid kearah kakaknya itu, bahkan tak mau menggubrisnya. Hal ini demi ketenangan hati dan pikiran karena melawan ucapan Arnold sama saja membuatnya emosi. Terlebih Arnold itu sangat pintar membalas ucapan seseorang.
Namun Alan sedikit lega karena kakaknya yang sedari tadi diam akhirnya mau mengeluarkan suaranya juga. Para orang dewasa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat drama dan perdebatan yang tersaji didepannya ini.
Semua akhirnya berjalan menuju sebuah wahana permainan anak. Keenam anak itu dibebaskan untuk bermain disana asalkan harus hati-hati. Sedangkan orang dewasa akan menunggu dan mengawasi mereka yang sedang bermain.
***
Sudah hampir dua jam mereka bermain, kini jam menunjukkan pukul 6 malam. Andre segera saja meminta anak-anaknya untuk menyudahi acara bermainnya. Anak-anak pun langsung pergi meninggalkan area bermain menuju ke tempat para orang dewasa menunggu.
"Mau makan apa?" Tanya Nadia kepada semua anak-anak.
"Ayam goreng" seru semua anak-anak.
Baiklah... Nadia hanya akan membebaskan mereka untuk makan apa pun hari ini tanpa sayur. Padahal sebelumnya jika di rumah ia selalu membiasakan anak-anaknya untuk makan sayur dan buah agar daya tahan tubuh mereka baik. Namun tak apa lah jika sesekali makan ayam goreng di luar biar mereka juga tak bosan.
Akhirnya mereka berjalan mencari tempat makan yang menjual ayam goreng kesukaan anak-anak. Tak berapa lama berjalan, mereka menemukan sebuah restorant cepat saji yang menjualnya. Setelah memesannya, mereka segera duduk kemudian menikmati suasana makan malam dengan kehangatan sebuah keluarga.
"Telnata nanak lho akanan yam goleng taya ini. Becok-becok agi ya unda" ucap Alan kepada sang bunda yang sedang menyuapinya.
__ADS_1
"Ndak boleh terlalu banyak makan makanan kaya gini, nak. Lebih baik juga makan makanan rumahan, lengkap ada sayurnya juga. Bikin badan sehat lagi ucap Nadia memberitahu.
"Talo ndak oleh anyak akan ini ntal lestolantna angklut lho unda. Tan kacian kalyawanna" ucap Alan membela diri.
Nadia sudah tak bisa menjawab lagi ucapan dari Alan. Ia memilih untuk tak menjawabnya sambil terus sibuk memakan makanannya dan menyuapi Alan. Alan masih terus menatap penasaran kearah sang bunda yang diam saja.
"Wawas ya talo ecok Alan dah ede, talo atu tau awabanna ndak akal aku kacih tau unda" gerutu Alan.
Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala mengetahui bagaimana pemikiran dari anaknya itu. Pasti Alan tengah berpikir kalau Nadia tak bisa menjawab ucapan bocah itu karena tak tahu jawabannya. Biarlah nanti Alan mengetahui sendiri bagaimana efeknya jika makan-makanan cepat saji yang berlebihan.
Semua akhirnya makan dengan tenang. Setelah beberapa menit semua sudah menyelesaikan makannya, mereka pun memilih untuk belanja. Mama Anisa dan Nenek Hulim lah yang kali ini sangat bersemangat untuk menghabiskan uang yang ada di ATM.
"Nek, angan bolos-bolos. Bolos tu emannya cetan" peringat Alan.
Nenek Hulim dan Mama Anisa yang sudah bersiap memasuki sebuah toko tas branded pun langsung menghentikan jalannya. Keduanya menatap Alan julid.
"Uang-uangnya kami, kok situ repot" seru Nenek Hulim dan Mama Anisa secara bersamaan.
Alan kesal karena kedua neneknya itu susah dinasihati. Akhirnya Alan mengikuti kedua neneknya masuk ke toko itu bersama dengan yang lainnya. Dengan sigapnya, Alan juga memilih beberapa tas anak-anak yang dipajang disana. Hampir semuanya memilih kecuali yang laki-laki dewasa memilih untuk menyingkir.
"Wah... Ini tasnya lucu" seru Nilam sambil menunjuk sebuah tas bergambar tokoh kartun kesukaannya, minnie mouse.
"Ambil saja. Nanti biar nenek dan papa yang bayar" ucap Arnold.
"Biacana bang yan bayal tok cekalang inta bayalin papa to nek?" Tanya Alan menatap penasaran.
"Suka-suka abang dong" ucap Arnold acuh tak acuh.
Alan yang diacuhkan seperti itu langsung berkeliling bersama Fikri karena kedua kakak perempuannya mengikuti para wanita dewasa. Alan berjalan menuju sebuah tas yang menarik perhatiannya sehingga ia ingin memilikinya. Saat ia hendak memegang tas itu, tiba-tiba saja...
__ADS_1
"Hei... Jangan..."