Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Langkah Selanjutnya


__ADS_3

Papa Nilam membawa anaknya pulang dalam keadaan tertidur, sedangkan Nenek Hulim dan Fikri memilih menginap di kediaman keluarga Farda atas permintaan sang tuan rumah. Lagi pula mereka di rumah juga hanya berdua, akan lebih baik mereka tinggal sementara waktu disini sampai permasalahan ini selesai.


"Hah... Akhirnya sampai rumah juga. Ayo langsung pada bersih-bersih dan istirahat" ucap Nenek Hulim kepada Andre dan Papa Reza.


Andre dan Papa Reza bergantian menggendong anak-anak untuk masuk kedalam kamar. Nadia dan Nenek Hulim langsung dengan sigap mengganti pakaian mereka dengan baju tidur. Setelah selesai, akhirnya Nenek Hulim memilih duduk sebentar di dapur untuk mengambil minuman. Bahkan disana juga ada Mama Anisa dan Nadia yang menemani.


Papa Reza dan Andre sendiri setelah memindahkan anak-anak ke kamarnya langsung pergi membersihkan diri. Rasanya ketiga wanita itu hari ini begitu melelahkan dengan beberapa masalah yang terus menghampiri. Mereka berupaya untuk segera menyelesaikannya agar ke depannya hanya ada bahagia yang menyapa tiap harinya.


"Apa yang akan kita lakukan esok?" tanya Mama Anisa sambil menyeruput teh hangat yang diberikan oleh Nadia.


"Tentunya membuat orang-orang sombong itu kapok" ucap Nenek Hulim sambil geleng-geleng kepala.


Mereka juga masih tak menyangka jika pemilik toko tas itu dan Inge masih bisa menatap sinis kearah ketiganya. Padahal sudah berhubungan dengan polisi namun sepertinya mereka tak takut. Namun Nenek Hulim takkan membiarkan jika mereka berdua terutama bisa bebas dengan seenaknya. Terlebih video itu tengah viral dimana-mana.


"Lihat deh ma, nek... Di media sosial ramai banget pembicaraan tentang video yang ada di papan jalanan itu" ucap Nadia sambil menyodorkan ponselnya.


Bahkan video itu begitu viral hingga masuk akun gosip, bahkan komentarnya sampai jutaan. Banyak sekali hujatan yang dilayangkan pada pihak mall, toko, dan orang-orang yang ada disana. Bahkan mereka menyayangkan pihak manajemen mall yang seakan tutup telinga akan kejadian ini.


Sungguh kekuatan media sosial itu sangatlah besar. Bahkan Nenek Hulim yang bukan salah satu penggunanya begitu takjub bahkan penasaran dengan orang-orang dibalik banyaknya akun yang memberikan komentarnya. Begitu banyak kemajuan dalam dunia teknologi terutama media sosial membuat peristiwa sekecil apapun akan menjadi besar karenanya.

__ADS_1


"Sudah, tak usah pikirkan tentang orang-orang yang mengomentarai kejadian ini terutama yang menyudutkan kita. Kita pikirkan langkah selanjutnya untuk esok hari saja" ucap Nenek Hulim.


Nenek Hulim menghentikan kegiatan Nadia dan Mama Anisa yang membaca beberapa komentar yang menganggap bahwa apa yang dilakukan keluarganya terlalu berlebihan dan lebay. Ia tak ingin jika keluarganya malah memikirkan hal itu dan mengurungkan niatnya untuk memberi pelajaran pada orang-orang yang telah mengganggu ketenangan mereka.


Akhirnya mereka bertiga menyudahi diskusinya di dapur kemudian masuk kedalam kamarnya masing-masing karena hari memang sudah sangat malam. Akan lebih baik jika badan dan otak mereka diistirahatkan demi menghadapi esok hari.


***


"Nenek au temana? Alan itut talo mau cuting" ucap Alan saat melihat Nenek Hulim sudah rapi dengan pakaian dan tas mewahnya.


Bahkan Mama Anisa dan Nadia juga sudah siap dengan pakaian khas orang kantoran sedangkan Papa Reza dan Andre malah menggunakan baju santai. Sepertinya pagi ini adalah kebalikan dari hari biasanya, yang perempuan akan pergi sedangkan yang laki-laki di rumah saja.


Yang mendengar jawaban Mama Anisa hanya bisa geleng-geleng kepala. Sungguh hal ini malah menimbulkan pertanyaan besar dalam kepala Alan yang rasa ingin tahunya begitu tinggi itu. Sedangkan Arnold, Anara, dan Abel hanya bisa menatap aneh sang nenek yang menjawab seperti itu. Mereka sudah paham dengan yang dimaksud video mengenai semuanya yang masuk dalam papan dijalanan itu.


"Wah... Talo ditu Alan itut, coalna wang ajina mau Alan uat ajan pelmen taki" ucap Alan dengan semangat.


Bahkan kini sesudah sarapan pagi, Alan langsung menggandeng tangan Nadia agar segera menggantikannya baju. Baju yang ia gunakan kurang cocok untuk bepergian membuatnya meminta untuk ganti pakaian. Namun Nadia bingung bagaimana harus menjelaskannya bahwa mereka itu bukanlah mau pergi ke tempat seperti yang Mama Anisa ucapkan. Mereka akan ke kantor polisi yang tak mungkin jika Alan ikut kesana.


"Mama aneh-aneh aja deh. Kasihan kan Nadia jadi bingung itu gimana buat alasannya agar Alan nggak ikut" ucap Papa Reza menyudutkan istrinya.

__ADS_1


Mama Anisa hanya menampilkan senyum kikuknya saja akhirnya Andre membujuk Alan untuk ikut mengantar Anara, Abel, dan Fikri ke sekolah. Walaupun harus banyak drama, akhirnya Alan mau menurut juga begitu pula dengan Arnold. Alan dan Arnold berikut Papa Reza dan Andre pergi ke sekolah mengantar ketiga kakaknya dengan mobil.


Sedangkan kini Nadia, Mama Anisa, dan Nenek Hulim segera saja memasuki mobil yang lain kemudian segera ke kantor polisi. Bahkan mereka sudah siap dengan segudang rencana yang akan mereka lakukan demi orang-orang sombong itu meminta maaf pada ketiganya.


***


Hampir satu jam Mama Anisa mengendarai mobilnya sendiri, mobil yang dikendarainya akhirnya memasuki pelataran halaman parkir kantor polisi. Dengan menggunakan kacamata hitam dan tas branded yang dijinjing di sebelah tangannya, keduanya turun dengan gaya slow motion bagaikan ibu-ibu pejabat. Ketiganya turun dari mobil kemudian berdiri bersisian dengan menatap lurus kedepan. Bahkan tak ada senyuman ramah yang biasa mereka tampilkan selama ini.


"Saya mau bertemu dengan si Hasan sama istrinya" ucap Nenek Hulim dengan angkuh.


Mereka ke bagian informasi untuk mendaftarkan diri sebagai tamu. Ternyata untuk pertama kalinya, Nenek Hulim akan menemui anak dan menantunya atau kedua orangtua Fikri di penjara. Mama Anisa dan Nadia tentunya akan ikut kemana pun Nenek Hulim akan pergi karena mereka ingin menjaga wanita paruh baya itu.


Setelah mendaftarkan diri, mereka disuruh untuk menunggu sebentar di sebuah ruangan. Ketiganya sama sekali tak membuka kacamata hitamnya seakan ingin menunjukkan identitasnya sebagai seorang sosialitan jam now. Tak berapa lama menunggu, Hasan dan istrinya datang dengan masih menggunakan baju tahanan.


Keduanya sontak terkejut melihat kedatangan Nenek Hulim yang menatap mereka dengan sinis. Bahkan kini keduanya masih berdiri dengan Nenek Hulim yang memperhatikan penampilan mereka dari atas ke bawah. Setelahnya Nenek Hulim menampilkan senyum sinisnya.


"Wah... Jadi ini penampilan terbaru kalian. Pasti mahal nih setelan bajunya" ucap Nenek Hulim mengejek.


Terlihat sekali kalau keduanya menahan amarahnya karena merasa diejek dan diinjak-injak oleh Nenek Hulim. Bahkan kedua tangannya sudah mengepal erat seakan ingin memukul wanita paruh baya didepannya ini. Namun Nadia dan Mama Anisa terus mengawasi pergerakan mereka membuat keduanya tak bisa berkutik.

__ADS_1


__ADS_2