Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Pasar Malam


__ADS_3

"Maaf ya, tadi papa ketiduran jadi membuat kalian menunggu lama" ucap Andre dengan tatapan bersalahnya.


Saat tadi selesai dengan aktifitasnya di dapur, Andre memang berniat untuk membersihkan dirinya kemudian bersiap untuk pergi bersama Nadia dan ketiga anaknya. Namun saat melihat kasur dan jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah 2 siang membuat dia mengurungkan niatnya itu. Alhasil dia tertidur sampai pukul setengah 5 sore padahal niatnya ia hanya akan tidur selama 1 jam saja.


"Ata enek, papa tidul di kamal andi" ucap Arnold dengan polosnya.


Sontak saja hal itu membuat Andre ingin menjitak dahi mamanya itu yang suka seenaknya saja jika berbicara. Tanpa ingin membahas mengenai tidurnya, Andre pun segera mengajak Nadia dan ketiga anaknya untuk pergi. Mereka berenam berjalan keluar rumah mewah itu diiringi langkah antusias ketiga bocah kecil. Andre segera mengambil mobilnya dan melajukannya mendekat kearah Nadia dan ketiga anaknya.


Anara duduk disamping kursi Andre, sedangkan Nadia berada di kursi penumpang bersama Abel dan Arnold. Setelah semuanya siap, Andre segera melajukan mobilnya keluar dari halam rumah mewah Keluarga Farda.


"Hati-hati dan jangan pulang malam-malam" seru Mama Anisa.


Andre hanya menjawab ucapan mamanya itu dengan membunyikan klakson. Setekahnya Andre mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya mereka sampai juga di sebuah tempat pasar malam. Ketiga anak kecil itu sangat antusias dan tak sabaran saat sudah melihat banyaknya permainan dan jajanan yang tersedia di area pasar malam itu.


"Sebentar ya turun dari mobilnya, biar nanti dibantu sama papa" peringat Nadia.


Saat ini area pasar malam sudah sangat ramai mengingat ini sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Hal ini membuat Nadia was-was karena ketiga anak Andre ini ingin segera turun dari mobil. Andre segera turun dari mobilnya kemudian mengambil Arnold untuk digendong, sedangkan Nadia menggandeng tangan Anara dan Abel.


"Pegang tangan bunda, jangan sampai terlepas ya" ucap Nadia kepada Anara dan Abel.

__ADS_1


Keduanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan Nadia. Mereka berlima segera memasuki area pasar yang malam yang mulai ramai dan padat dengan pengunjung. Banyak sekali permainan yang disajikan disana, bahkan rata-rata dari yang menaiki permainan itu adalah anak-anak.


"Papa, naik itu" seru Anara menunjuk kearah permainan bianglala.


Andre seketika terdiam dan memperhatikan permainan itu dengan seksama untuk melihat keamanannya. Setelah tahu kalau permainan itu aman bagi anak-anaknya, akhirnya Andre membeli lima tiket untuk menaiki wahana itu. Setelah berhasil mendapatkan tiket wahana permainan itu, Andre mengajak Nadia dan ketiga anaknya mengantri untuk masuk.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya semuanya masuk kedalam sebuah wadah berbentuk kandang ayam. Kebetulan satu kandang itu bisa untuk minimal 4 orang sehingga mereka berada didalam satu wadah berlima. Saat wahana permainan itu mulai berputar, Abel begitu terlihat antusias bahkan matanya berkaca-kaca.


"Abel kira bisa cuma bisa melihat bianglala di tv, ternyata Abel bisa menaikinya juga" gumam Abel lirih.


Bahkan gadis itu sangat takjub dan memandang kearah luar kandang tanpa takut ketinggian. Sedangkan Nadia dan Andre yang mendengar hal itu tentu saja merasa miris dengan masa lalu Abel. Anara dan Arnold hanya hanya duduk dengan tenang pasalnya keduanya sangat takut melihat kebawah. Nadia segera menarik Abel ke dalam pelukannya kemudian membisikkan kata-kata penenang agar gadis itu tak mengingat masa lalunya.


"Abel cantik, mulai sekarang kalau mau minta sesuatu langsung bilang sama Bunda, Papa, Kakek, dan Nenek ya. Jangan sungkan oke" ucap Nadia.


"Iya, Bunda" jawab Abel lirih kemudian memeluk erat tubuh Nadia.


Andre yang melihat hal itu hanya bisa mengepalkan telapak tangannya, ia merasa hukuman penjara untuk Aneta dan keluarga suaminya itu belum membuatnya merasa puas. Hukuman untuk mereka akan ditentukan dua minggu lagi dan Andre akan datang kesana untuk memastikan bahwa semuanya akan dihukum seadil-adilnya.


Akhirnya setelah beberapa menit diatas ketinggian, bianglala itupun turun ke bawah dan semuanya akhirnya keluar dari wadah tersebut. Setelahnya mereka menaiki komedi putar, kereta mini, capit boneka, dan pancingan dengan magnet dicoba oleh ketiga anak itu dengan riang gembira.

__ADS_1


"Ayo kita makan malam dulu" ajak Nadia.


Andre pun menganggukkan kepalanya kemudian mengajak anak-anaknya untuk segera mencari makan malam. Awalnya ketiga bocah itu menolak, namun Nadia terus membujuknya karena ini sudah memasuki waktu makan malam. Akhirnya Nadia menunjukkan sebuah tempat lesehan yang lumayan ramai pembeli untuk mereka singgahi. Tempat lesehan pinggir jalan itu pun berada tak jauh dari area pasar malam.


"Kamu yakin mau makan disini? Memangnya ini bersih?" bisik Andre pada Nadia.


Andre melihat kearah sekitar area penjual yang memang terlihat bersih namun tetap saja dia meragukan kehigienisan dari makanan tersebut. Pasalnya Andre belum pernah makanan ditempat seperti ini.


"Tenang saja, ini bersih kok. Kamu pasti ketagihan kalau makan disini, rasanya melebihi restorant bintang 5" bisik Nadia.


"Mana ada? Di restorant ada chef terkenal yang memasaknya bahkan mereka harus belajar dulu demi memasak jadi mana mungkin ada yang ngalahin rasa dari masakan disana" ucap Andre tak percaya.


"Udah deh, jangan bawel. Buruan cari tempat duduk sebelum penuh" ucap Nadia.


Nadia segera membawa Anara dan Abel ke tempat yang sedikit pojok agar tak menyita perhatian banyak orang. Begitupun dengan Andre dan Arnold yang mengikuti para wanita. Mereka berlima duduk kemudian memesan beberapa makanan yang menurutnya enak karena Andre hanya menjawab terserah saat ditanya.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya makanan yang dipesan datang juga. Nadia memesan ayam bakar, lele goreng, nila bakar, terong goreng, dan kol goreng serta sambal bawang. Benar-benar makanan sejuta umat yang sangat memanjakan lidah bagi kaum seperti Nadia.


Dengan ragu-ragu Andre mencicipi apa yang ada disana, saat sebuah daging nila bakar masuk kedalam mulutnya seketika saja wajahnya berbinar cerah. Ia segera memakan dengan lahap nila bakar, terong goreng, dan sambalnya tanpa mempedulikan ketiga anaknya.

__ADS_1


"Ita uga lapal" seru Arnold dengan kesal


Seketika saja Andre menghentikan acara makannya kemudian memandang wajah ketiga anaknya yang tampak kesal. Sedangkan Nadia hanya bisa menahan tawanya melihat kelakuan Andre. Akhirnya Andre dan Nadia menyuapi ketiga bocah kecil itu secara bergantian sampai semua makanan yang dipesan habis. Mereka menghabiskan malam itu dengan tawa canda dan tak ada kesedihan didalamnya. Andre dan Nadia hanya bisa berharap kalau kebersamaan mereka takkan pernah berakhir sampai disini saja.


__ADS_2