Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kegiatan Pagi Hari


__ADS_3

Nadia membuka pintu kamar milik Andre setelah memastikan bahwa pakaiannya telah rapi dan layak untuk keluar. Mendengar suara tangisan Arnold yang memilukan membuatnya sedikit meringis ngilu, bahkan bocah kecil itu sampai terbatuk-batuk.


Ceklek...


Nadia segera berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Arnold yang sudah terduduk di lantai depan pintu kamar dengan wajah yang basah karena air mata. Nadia segera memeluk Arnold membuat tangan bocah itu bergelayut manja di leher bundanya. Nadia berdiri dengan menggendong Arnold sambil mengusap lembut punggungnya.


"Udah ya nangisnya, bunda udah ada disini lho" ucap Nadia dengan lembut berusaha menenangkan Arnold.


"Unda ohong, ndak cayang cama Anol agi. Cuka inggal-inggalin Anold di kamal cendilian" ucap Arnold menyalahkan Nadia.


"Maaf ya, adek. Soalnya tadi bunda lagi bantuin papa sebentar" ucap Nadia memberi alasan.


"Papanya ohong. Papa bica akuin cemua cendili, tu anya alacan aja bial unda tidul cama papa" ucap Arnold menyalahkan Andre.


Nadia hanya meringis pelan saat mendengar Arnold menyalahkan papanya. Sepertinya dia telah salah memberikan alasan mengapa bisa sampai di kamar suaminya itu. Akibat dirinya salah memberi alasan membuat Arnold semakin menuduh ini adalah kesalahan Andre.


"Jangan nyalahin papa ya, dek. Ayo masuk ke kamar, kita istirahat. Ini sudah malam lho" ucap Nadia mengalihkan pembicaraan.


Arnold hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, bahkan dia menyandarkan kepalanya pada bahu Nadia. Sepertinya Arnold memang sudah mengantuk, alhasil menjadi rewel seperti ini. Nadia pun berjalan meenuju kamar anak-anaknya. Dia merebahkan Arnold disamping kedua kakaknya yang masih terlelap dalam mimpinya.


"Unda angan agi-agi kelual dali kamal ini cebelum Anol angun" peringat Arnold sebelum memejamkan matanya.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang adek bobok ya" ucap Nadia.


Nadia hanya pasrah saja mendengar peringatan dari Arnold itu. Daripada nanti bocah itu ngambek, lebih baik untuk sekarang fokusnya memang ke Arnold terlebih dahulu. Urusan papanya biar nanti belakangan, pasti Andre juga paham kalau anaknya kini masih dalam masa-masa ingin selalu diperhatikan. Terlebih selama ini mereka sama sekali tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu.


Nadia pun merebahkan dirinya disamping Arnold dan memeluknya, tak sadar bahwa kini gadis itu ikut terlelap dalam tidurnya bersama ketiga anaknya. Andre yang sedari tadi mengintip dibalik pintu kamar ketiga anaknya pun hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Dia sekarang harus lebih dewasa lagi menyikapi sikap anaknya yang selalu ingin dekat dengan Nadia.


***


Keesokan harinya, Nadia bangun lebih awal dibandingkan ketiga anaknya yang masih tertidur dengan nyenyaknya. Jam masih menunjukkan pukul setengah 5 pagi membuatnya segera kembali ke kamarnya untuk melakukan ibadah pasalnya perlengkapan sholatnya ada di kamar Andre. Ia juga tak lupa pada peringatan dari Arnold untuk menunggu anak itu bangun, makanya setelah ibadah dia akan kembali lagi ke kamar ketiga anaknya.


"Kamu sudah bangun?" tanya Nadia saat memasuki kamar ternyata Andre sudah rapi dengan baju kokonya.


"Kita shubuhan dulu" ajak Andre tanpa menjawab pertanyaan Nadia.


Setelah berwudhu akhirnya mereka melakukan ibadah sholat shubuh bersama. Setelah selesai, Nadia segera mengambil tangan kanan suaminya untuk dicium, sedangkan Andre mencium kening istrinya dengan begitu lembut.


"Terimakasih sudah menjaga dan menyayangi anak-anakku dengan tulus. Semoga pernikahan kita bahagia sampai maut memisahkan" bisik Andre tepat ditelinga istrinya.


Nadia yang mendengar ucapan yang syarat akan do'a dan harapan begitu romantis pun hanya bisa menitikkan air matanya. Sungguh ia sangat terharu dengan apa yang diucapkan oleh Andre, dalam hatinya pun Nadia selalu mengaminkan semua itu.


"Sudah sana kembali lagi ke kamar anak-anak, nanti si gembul ngomel lagi kalau kamu nggak ada disana" usir Andre sembari melepaskan tangannya dari genggaman tangan istrinya itu.

__ADS_1


"Sama kamu juga dong. Kamu harus mendekatkan diri sama anak-anak, biar mereka juga merasakan kasih sayang yang lengkap dari papa dan bundanya" ajak Nadia yang kemudian melipat mukenanya.


Dengan pasrah Andre mengikui istrinya yang berjalan sambil menarik tangannya. Ia menyetujui ucapan istrinya yang memang peran keduanya sangatlah penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Bukan hanya Nadia saja ataupun Andre saja, keduanya harus saling bahu membahu untuk mendidik dan memberikan kasih sayang penuh pada ketiganya.


Beruntungnya saat sampai disana ketiga bocah kecil itu masih tertidur dengan lelapnya. Andre segera berbaring disamping Abel sedangkan Nadia disebelah Arnold. Bahkan kedua orang dewasa itu sibuk menciumi kening ketiga anaknya membuat mereka merasa terganggu dan alhasil terbangun dari tidurnya.


"Wah... Unda epatin anji, ndak pelgi campai Anol angun" ucap Arnold dengan mata berbinar.


Sedangkan Abel dan Anara seketika tersenyum karena kedua orangtuanya berada di kamar yang sama dengan mereka. Impian mereka sejak kecil akhirnya tercapai juga hari ini. Apalagi saat ini kedua gadis kecil itu melihat betapa sayangnya Nadia kepada semua anak sambungnya.


"Iya dong, kan bunda udah janji sama Arnold. Ada papa juga lho disini, lengkap deh" ucap Nadia sambil menunjuk kearah Andre yang memeluk Anara dan Abel yang duduk diatas pangkuannya.


Arnold pun melihat kearah papanya kemudian tersenyum dengan manisnya. Tak biasanya bocah laki-laki itu mau tersenyum untuk papanya itu. Hal ini membuat Andre curiga dengan Arnold, pasalnya pikiran bocah kecil itu sama sekali tak bisa ditebak.


"Telimakacih unda, papa... Cudah adi olangtua yan cayang cama nanak-nanaknya. Anol cuka ucil cama papa kalna papa celalu cibuk cama keljaan adahal Anol dan akak-akak ngin cekali apat pelhatian dali olangtua yan engkap. Cepelti ini" ucap Arnold dengan tatapan dalam.


Bahkan Arnold dengan tiba-tiba menarik tangan Nadia kemudian beranjak mendekat kearah Andre dan kedua gadis kecil itu. Mereka berlima pun saling berpelukan bahkan Nadia dan Andre memeluk erat ketiga anaknya. Ucapan Arnold tadi benar-benar menohok hati Andre yang selama ini tak sadar jika ketiga anaknya membutuhkannya.


"Papa, Bunda... Jangan pernah berubah ya jika suatu saat nanti kalian mendapatkan bayi kecil lagi" ucap Abel dengan tatapan permohonan kearah keduanya.


"Kami takkan pernah berubah. Kami akan tetap memperlakukan kalian sama rata. Kalian adalah anak kami yang pertama, ke dua, dan ke tiga berarti jika nanti punya adik maka mereka anak ke empat dan seterusnya" ucap Andre dengan tegas.

__ADS_1


Ketiga bocah kecil itu mengangguk dengan antusias. Mereka percaya dengan ucapan papa dan bundanya yang takkan pernah meninggalkan ketiganya apapun yang terjadi nanti. Mereka pun semakin mengeratkan pelukannya satu sama lain sambil tersenyum bahagia. Sungguh kegiatan pagi hari yang sangat berbeda dari hari lainnya.


__ADS_2