Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Olimpiade


__ADS_3

"Apa yang Ibu Nengsih dan Ibu Laili lakukan?" seru Ibu Yuni dengan melotot tajam.


Andre juga menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh oknum guru ini. Keduanya seakan tak berpikir bahwa apa yang dilakukannya ini tentu akan sangat merugikan peserta olimpiade. Beruntung orangtua dari peserta yang mengikuti lomba memilih ada disana untuk mengawal agar semuanya berjalan dengan lancar. Kalau tidak, pasti mereka akan kerepotan mencari kendaraan atau taksi online.


"Bu, tolong bawa anak-anak ke mobil saya saja. Jangan sampai mereka melihat pertengkaran orang dewasa" ucap Andre pelan menyuruh Gea.


Gea menganggukkan kepalanya kemudian membawa 4 siswa itu untuk menuju mobil Andre yang berada di tempat parkir khusus tamu. Bahkan disana sudah berdiri orangtua dari dua peserta lainnya yang merupakan rekan Anara dan Abel sudah menunggu dengan tatapan khawatir. Jangan sampai akibat hal seperti ini anak-anak yang tak tahu apa-apa malah terkena getahnya.


Ibu Nengsih dan Ibu Laili hanya bisa berdiri kemudian menundukkan kepalanya. Namun tanpa ada yang melihatnya, keduanya tersenyum sinis dengan sedikit melirik kearah Andre. Mereka kesal perbuatannya diketahui oleh Andre padahal mereka tadi sudah memperkirakan jaraknya dengan kepala sekolah dan yang lainnya agar tak ketahuan.


"Kalau kalian memang tak becus untuk menjadi penanggungjawab olimpiade, setidaknya jangan hancurkan harapan anak-anak. Saya akan mengadukan semua ini ke pihak pengurus yayasan agar kalian ditindak. Sepertinya kejadian kemarin tak membuat kalian jera juga. Kalian sudah orangtua bisa disebut dewasa namun sayangnya pikirannya masih seperti anak kecil" sentak Ibu Yuni dengan menggebu-gebu.


Ibu Yuni kesal bukan main bahkan kini ia harus putar otak untuk mencari kendaraan untuk dirinya dan peserta olimpiade. Bahkan untuk beberapa pendukung yang akan diajak ke lokasi acara pun juga kena imbasnya. Ibu Yuni segera pergi meninggalkan dua orang guru yang tak bisa berkutik lagi itu diikuti oleh Andre.


"Bisa pakai mobil saya nanti untuk membawa para pendukung anak-anak. Sedangkan untuk Ibu Yuni, Anara, dan Abel bisa satu mobil dengan Pak Andre. Untuk kedua peserta yang lainnya bisa sama orangtuanya. Mereka pasti takkan keberatan. Iya kan pak, bu?" tanya Gea kepada semua orangtua wali dari peserta olimpiade.


"Iya, bu. Kami tak masalah jika anak-anak harus ikut dengan mobil kami" ucap salah satu wali siswa.

__ADS_1


Akhirnya Ibu Yuni setuju dengan usulan yang disampaikan oleh Gea itu. Mereka pun akhirnya masuk dalam mobil kemudian melajukannya keluar halaman sekolah. Ada empat mobil yang melaju dengan kecepatan sedang sesuai dengan pembagiannya masing-masing saat berada di halaman sekolah itu.


***


Tak berapa lama, empat mobil mewah itu memasuki sebuah gedung aula yang dijadikan untuk Olimpiade SAINS. Terlihat sudah banyak sekali perwakilan dari berbagai sekolah di seluruh Indonesia yang hadir disini. Beruntung kegiatan ini dilaksanakan di kota yang sama dengan sekolah Anara dan Abel tinggal jadi gangguan kecil seperti tadi takkan berpengaruh apa-apa.


Beberapa pendukung dari sekolah maupun keluarga juga sudah hadir disana agar siswa yang didukung bisa bersemangat untuk jadi juara. Tak terkecuali Nadia, Mama Anisa, Papa Reza, Alan, dan Arnold yang sudah ada disana. Mereka begitu bersemangat saat melihat mobil Andre memasuki halaman tempat parkir.


"Kak Bel, Kak Nala yan aling antik... Alan dan abang dicini. Cemangat ya, angan yupa beldo'a cama Allah" teriak Alan setelah melihat kedua kakaknya turun dari mobil.


Anara dan Abel begitu terharu dengan apa yang dilakukan oleh adik-adiknya itu. Terlebih keduanya juga memakai kacamata hitam dan kaos bergambarkan Anara juga Abel. Itu adalah kaos saat kedua gadis cilik itu berulangtahun tahun lalu.


"Kalian berisiknya, astaga..." ucap Andre sambil geleng-geleng kepala saat mendekat kearah keluarganya.


Bahkan hanya pakaian keduanya yang terlihat heboh sedangkan yang lainnya berpakaian rapi dengan kemeja dan celana jeans. Sedangkan Alan dan Arnold memakai kaos, celana pendek jeans, sepatu, dan kacamata hitamnya.


Anara dan Abel langsung digiring masuk bersama dengan peserta lainnya oleh Ibu Yuni dan Gea. Sedangkan keluarga dan pendukung lainnya tentu sudah ditempatkan pada tempat khusus. Mereka akan melihat secara langsung bagaimana peserta olimpiade itu mengerjakan soal. Itu juga bisa menguji mental dan kejujuran anak-anak dalam mengerjakan soalnya karena dipandang oleh ribuan mata.

__ADS_1


"Kita langsung gabung sama pendukung sekolah lainnya yuk. Itu mereka diatas" ajak Andre sambil menunjuk beberapa orang yang dikenalnya.


Bahkan Ibu Yuni dan Gea juga ada disana karena memang semua pembimbing tak boleh berada didekat area olimpiade. Saat semua peserta olimpiade sudah duduk di kursinya masing-masing, pendukung juga tenang. Bahkan gedung aula itu begitu hening karena semuanya tampak begitu serius.


"Stttt... Abang, napa pada biam?" bisik Alan pada Arnold.


"Kita memang harus diam. Lihat itu... Kan mereka lagi mengerjakan soal, harus butuh konsentrasi yang tinggi. Kalau berisik kan jadi nggak fokus" ucap Arnold dengan pelan sambil menunjuk kearah semua peserta olimpiade.


Alan kesal karena ternyata menjadi pendukung tak seseru seperti menonton sebuah pertandingan sepak bola. Ia pikir bahwa bisa teriak dan jingkrak-jingkrak seperti itu namun ternyata hanya duduk sambil memperhatikan semua peserta dari belakang pula. Para peserta memunggungi penonton membuat Alan kesal dan rasanya sia-sia mencetak spanduk dengan bantuan satpam rumahnya.


Sudah setengah jam berlalu, namun semuanya tampak hening dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sedangkan Alan sudah mulai bosan bahkan menyandarkan kepalanya pada bahu sang abang yang langsung mengelus rambut adiknya itu. Nadia dan Andre begitu salut dengan kedekatan keduak kakak beradik itu. Tiba-tiba saja Alan menegakkan kepalanya kemudian berdiri dari duduknya.


"Ayo temua... Cemangat, angan celius-celius baca coalna. Ebih baik talo celius langcung ke lumah Alan aja. Atan langcung ku lamal dikau engan bimillah" teriak Alan tiba-tiba.


Teriakan melengking itu tentunya membuat atensi semua orang disana langsung menatap seorang anak kecil yang memakai kacamata hitam itu. Bahkan mereka tertawa saat mendengar ucapan bocah kecil itu. Suasana dalam ruang aula itu seketika menjadi riuh karena seorang anak kecil. Nadia dan Andre hanya bisa menepuk keningnya melihat tingkah anaknya itu.


Peserta olimpiade juga banyak yang tertawa karena ulah Alan. Mereka tak menyangka suasana yang harusnya serius menjadi hancur karena tingkah seorang anak kecil. Segera saja Andre menggendong Alan kemudian keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2