
"Lebih baik kalian pergi dari sini daripada bikin pemandangan mata saya jadi buram" ucap Andre dengan nada santainya.
Bahkan kini Andre dengan santainya membuka plastik hitam berisi makanan dari kantin. Ia tadi memang sempat membeli makanan di kantin karena perutnya sudah lapar kembali setelah menghadapi dua manusia tak punya hati yang ada di ruangan ini. Sedangkan orangtua Fikri menganga tak percaya bahwa mereka diusir oleh orang yang tak mereka kenal sama sekali.
"Hei... Dia anak kami, bisa-bisanya anda mengusir kami" sentak Mama Fikri berang.
Sedari tadi orangtua Fikri sudah terbakar emosinya karena selalu mendapatkan sindiran pedas bahkan ucapan ketus dari Andre. Kini mereka langsung saja menatap tajam Andre yang tengah makan dengan santainya disana. Kedua orangtua Fikri saling menatap seakan mereka sedang berdiskusi untuk melakukan sesuatu terhadap Andre.
"Jangan buang-buang tenaga untuk membalas ucapanku karena itu memang pantas kalian dapatkan. Beruntung kalian cuma dapat sindiran pedas, lha ini Fikri dapat jahitan banyak di kepalanya aja diam aja" ucap Andre.
Andre mengetahui jika kedua orangtua Fikri sedang memikirkan rencana untuk mengusir dirinya dari ruangan ini. Namun Andre takkan membiarkan itu terjadi karena bisa saja nanti mereka akan berbuat ulah kembali dengan menyakiti Fikri. Baru ditinggal beberapa menit saja kepala Fikri sudah bocor apalagi dirinya tinggal untuk pulang.
Kedua orangtua Fikri terdiam dengan ucapan yang terlontar dari mulut Andre. Akhirnya daripada mereka berdebat malam-malam begini, akan lebih baik jika semuanya istirahat. Kedua orangtua Fikri memilih tidur diatas brankar yang ada disamping milik bocah cilik itu. Sedangkan Andre yang melihat hal itu tentu tak terima.
"Udah nggak mau bayar administrasi, eh tidurnya diatas brankar. Harusnya di lantai tuh" sindir Andre.
Namun kedua orangtua Fikri sama sekali acuh dengan sindiran itu karena bagi mereka yang terpenting nyaman untuk istirahat. Sedangkan Andre hanya bisa mendengus kesal karena harus tidur diatas sofa yang ada di ruangan itu nantinya. Setelah menyelesaikan acara makannya, Andre segera saja membaringkan tubuhnya diatas sofa.
***
Keesokan harinya, Andre terbangun dengan keadaan tubuh yang lelah. Rasanya kemarin adalah hari sibuknya karena setelah pulang dari kantor bukannya langsung istirahat namun malah harus mengurus di rumah sakit. Rasanya semua badannya remuk karena tertidur diatas sofa.
Andre melihat kearah dua brankar yang ada di ruangan ini yang ternyata orangtua Fikri belum bangun padahal adzan shubuh sudah berkumandang. Tanpa mempedulikan mereka, Andre segera beranjak dari sofa kemudian berjalan kearah kamar mandi. Ia segera mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat shubuh.
__ADS_1
Tak berapa lama sholat shubuh sudah ia lakukan, ia segera keluar dari ruangan Fikri untuk mencari makanan. Ia juga akan meminta perawat untuk berjaga sebentar karena masih belum mempercayai orangtua Fikri.
***
"Astaga... Fikri, kok kamu bisa kaya gini?" seru seorang wanita dewasa yang baru saja masuk dalam ruangan bocah laki-laki itu.
Wanita yang baru saja datang itu adalah Nadia. Ia datang ke rumah sakit untuk menggantikan Andre yang harus berangkat ke kantornya. Andre juga harus mencari tahu tentang keluarga Fikri yang lain. Tak mungkin juga ia merawat Fikri setiap hari makanya ia memutuskan untuk mencari tahu keluarga bocah kecil itu yang memang peduli.
Fikri yang memang sedang disuapi oleh Andre itu makan dengan lahapnya karena tadi pria itu membelikan bubur ayam di luar. Mereka berdua menoleh kearah Nadia yang sedang menggandeng Alan dan Arnold. Fikri begitu bahagia karena dijenguk oleh dua adik kecilnya itu.
"Hanya kecelakaan biasa, tante" ucap Fikri menenangkan.
Namun bukan Nadia namanya jika percaya begitu saja pasalnya Andre sudah menceritakan semuanya semalam. Terlebih kini ada dua orang dewasa yang masih tertidur di brankar lain yang berada disamping Fikri tanpa terganggu dengan suara berisik yang ada di ruangan itu.
"Itu luka bukan mumi" protes Arnold.
"Tuka-tuka Alan don" acuh Alan menanggapi protesan kakaknya.
Arnold hanya bisa mendengus kesal dengan adiknya yang semakin pintar berbicara itu, bahkan Fikri kini tertawa melihat tingkah lucu keduanya. Kehadiran dua bocah kecil itu disana membuat suasana di ruangan itu semakin ramai. Terlebih Fikri yang begitu terhibur walaupun hanya melihat perdebatan keduanya.
"Itu orangtua Fikri?" tanya Nadia yang kini sudah menggantikan posisi Andre yang duduk di kursi samping brankar Fikri.
Andre memilih mandi kemudian berangkat ke kantornya. Sedangkan Nadia dan kedua anaknya akan menjaga Fikri agar tak disakiti oleh siapapun lagi. Bahkan nanti siang juga kemungkinan Mama Anisa akan datang bersama Abel dan Anara. Fikri menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Nadia.
__ADS_1
Brok... Brok... Brok...
"Angun... Angun..." seru Alan.
"Masa yang anak kecil saja jam segini sudah bangun, situ yang orang dewasa masih molor" teriak Arnold sambil tertawa.
Kedua bocah kecil itu dengan semangat mendekat kearah brankar yang digunakan tidur oleh orangtua Fikri. Dengan semangat, keduanya memukul-mukulkan botol air mineral ke sandaran brankar tempat tidur mereka membuat kedua orangtua Fikri terkejut. Alhasil mereka terbangun dengan panik karena mendengar suara pukulan yang begitu memekakkan telinga.
Setelah tersadar jika mereka masih berada dalam ruang rawat inapnya, keduanya menatap kearah dua anak kecil yang membawa botol air mineral kosong ditangannya sambil tersenyum polos. Akhirnya keduanya tahu jika suara itu berasal dari pukulan botol kosong yang dibawa dua anak kecil yang tak dikenalnya ini. Keduanya hanya bisa mendengus kesal melihat tingkah mereka yang begitu mengejutkan itu.
Terlebih kini mereka melihat Fikri sudah bangun dan sarapan membuatnya keki. Mereka menatap tajam kearah Nadia yang terlihat menahan tawanya karena telah berhasil mengganggu tidur nyenyak keduanya.
"Bangun siang, rejekinya entar dipatuk ayam lho. Pantes pelit, lha wong rejekinya di patukin ayam tiap hari" sindir Nadia.
Nadia semalam saat diberitahu oleh suaminya tentu terkejut mengetahui fakta bahwa kedua orangtua Fikri ribut mengenai biaya administrasi rumah sakit. Hal ini juga yang membuat Nadia ingin tahu bagaimana wajah orang-orang yang pelit kepada anaknya itu.
Sindiran pedas yang keluar dari mulut Nadia itu membuat keduanya hanya bisa melongo. Dari semalam keduanya mendapatkan ucapan pedas dari orang yang bahkan tak mereka kenali sama sekali. Tentunya sekarang kedua orangtua Fikri turun dari brankar kemudian berjalan medndekat kearah Nadia.
Fikri yang melihat itu sudah mengubah raut wajahnya menjadi ketakutan. Ia takut kalau kedua orangtuanya akan melakukan sesuatu yang tak diinginkan. Terlebih disini Nadia akan melawan dua orang dewasa yang tentunya tak seimbang sama sekali.
Dughh...
Bunda...
__ADS_1