
Hari terus berganti, bulan terus berlalu dan tepat hari ini merupakan hal yang ditunggu oleh Nadia, Andre, juga seluruh keluarganya. Hari ini tepat moment 7 bulan kehamilan Nadia yang akan langsung diadakan pengajian. Pengajian tujuh bulanan ini digelar di rumah Keluarga Farda dengan mengundang tetangga sekitar dan beberapa anak yatim piatu.
Sedari pagi, rumah itu sudah disibukkan dengan kegiatan menyiapkan acara pengajian ini. Mereka saling bekerjasama untuk membersihkan rumah, sedangkan makanannya sendiri Mama Anisa memilih memesannya di catering langganannya. Tak kalah antusiasnya dengan orang dewasa, ketiga cucu keluarga Farda juga terlihat bersemangat.
Bahkan mereka bangun lebih pagi demi membantu membersihkan rumah itu. Namun bukannya membantu, ketiganya malah asyik dengan mainannya. Memberantakkan mainan kemudian membereskannya lagi, begitu seterusnya sampai semua orang hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah ketiganya.
"Nenek capek banget" keluh Mama Anisa yang langsung menghempaskan badannya ke sofa ruang keluarga.
Ketiga cucunya langsung saja mendekati Mama Anisa dan duduk disebelahnya kecuali Abel yang langsung memberikan segelas air putih. Mama Anisa yang disodori air minum pun langsung meminumnya hingga tandas kemudian mengucapkan terimakasih pada cucunya.
"Hah... Anol uga apek anget, dali adi beles-beles ndak ada yan antuin" ucap Arnold tiba-tiba sambil mengusap dahinya yang tak ada keringatnya sama sekali.
Apalagi Arnold yang langsung menyandarkan tubuhnya di sofa seperti orang kelelahan. Mama Anisa yang gemas dengan tingkah cucunya pun langsung menciumi pipi Arnold sampai bocah itu kegelian. Abel dan Anara langsung tertawa melihat adiknya kegelian karena ulahnya yang sok sibuk itu.
"Enek... Eli, mpun..." seru Arnold dengan terus menjauhkan wajah neneknya dengan kedua tangannya.
"Rasain nih..." ucap Mama Anisa terus memberikan ciuman bertubi-tubi.
Saat Mama Anisa masih bercanda dengan ketiga cucunya, Andre dan Nadia setelah membantu bersih-bersih tadi langsung naik ke kamar untuk membersihkan diri begitu pula dengan Papa Reza.
***
__ADS_1
Acara pengajian berlangsung dengan hikmat. Lantunan ayat suci Al-Qur'an dilantunkan oleh para anak yatim piatu dipandu oleh seorang ustadz. Arnold, Anara, dan Abel duduk bergabung dengan anak-anak yang lainnya menggunakan pakaian muslim putih. Mereka bertiga mendengarkan dengan seksama rekan-rekannya yang membaca Al-Qur'an.
Nadia yang melihat ketiga anaknya itu tengah mendengarkan dengan seksama membuatnya berpikir untuk mengajak mereka ikut mengaji didekat rumah kontrakannya. Disana setiap sorenya diadakan mengaji bersama untuk anak-anak.
Setelah melantunkan ayat suci Al-Qur'an, diisi oleh beberapa kalimat tausiyah yang disampaikan oleh seorang ustadz. Tak ada yang berbicara sendiri, semua mendengarkannya dengan seksama. Setelah rangkaian acara selesai, akhirnya Andre dan Nadia berdiri bersama dengan kedua orangtuanya untuk memberikan santunan kepada anak-anak yatim piatu.
Menjelang sore hari, acara pengajian itu selesai kemudian Mama Anisa menyuruh beberapa orang yang telah disewanya untuk membersihkan area ruang tamu. Sedangkan ia dan keluarganya tengah berkumpul di ruang keluarga untuk mengistirahatkan badan.
***
"Unda, Anol engen belajal aji" ucap Arnold tiba-tiba.
"Kalau bunda sih boleh-boleh aja. Malah tadi niatnya bunda mau minta kalian belajar ngaji di masjid dekat rumah kontrakan Nenek Darmi" ucap Nadia dengan antusias.
"Mama, Papa Reza, dan Papa Andre gimana? Setuju atau tidak?" lanjutnya.
Sontak saja ketiganya langsung menganggukkan kepalanya antusias. Mereka bertiga tentunya setuju apalagi ini merupakan ajaran yang bagus untuk anak-anak seusia ketiganya. Langsung saja Arnold, Anara, dan Abel langsung bersorak gembira saat keinginan mereka dituruti. Mereka tadi begitu takjub dengan anak-anak sesusianya yang pintar dalam membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an membuat keinginan untuk belajar lebih kuat.
"Besok sore biar bunda antar ke sana ya" ucap Nadia.
"Makacih unda" ucap Arnold yang kemudian mencium pipi bundanya.
__ADS_1
"Sama-sama, nak" ucap Nadia mengusap rambut anaknya dengan lembut.
Nadia juga mencium dahi kedua anak gadisnya dengan lembut. Selama hampir 9 bulan menjadi serang istri dan ibu, Nadia terbilang sangat sempurna menjalankan perannya. Terlebih ketiga anak sambungnya sampai saat ini selalu nyaman berada disisi wanita itu. Bahkan Nadia menepati janjinya untuk tak bersikap seperti ibu tiri dalam dongeng cerita Cinderella.
Andre dan kedua orangtuanya begitu bahagia melihat pemandangan itu. Kebahagiaan mereka benar-benar datang di waktu yang tepat setelah semua masalah dalam kehidupan datang bertubi-tubi. Walaupun masih ada beberapa orang yang menganggu kehidupan rumah tangga mereka, namun keduanya yakin kalau dapat melewati semua ini dengan baik. Terlebih sebentar lagi kebahagiaan mereka akan dilengkapi oleh hadirnya anggota keluarga baru.
***
Sore ini Nadia terlihat sedang menyirami tanaman yang ia tanami di halaman rumah keluarga Farda. Ketiga anaknya tengah dibawa oleh Mama Anisa menuju masjid yang berada didekat rumah kontrakannya dulu. Sudah satu bulan berjalan mereka setiap sorenya selalu belajar mengaji disana yang berarti usia kandungan Nadia sudah memasuki 8 bulan.
Perut yang semakin membesar membuatnya sangat susah untuk berjalan jauh membuatnya memilih untuk tak mengantarkan ketiga anaknya kesana. Hal ini juga sudah disetujui oleh ketiga anaknya membuat ia begitu merasa lega. Saat dirinya tengah asyik menyirami tanaman, tiba-tiba saja ada seorang dua orang wanita menaiki sepeda motor dengan berboncengan memasuki halaman rumahnya.
Sontak saja Nadia menghentikan kegiatannya itu kemudian melihat siapa yang datang. Pasalnya kini ia hanya bersama dengan satpam dan Mbok Imah saja di rumah ini membuatnya harus waspada. Namun sepertinya Nadia pernah melihat sepeda motor itu.
"Mbak Nadia, itu katanya tamunya Den Andre" ucap satpam itu tiba-tiba.
Nadia begitu terkejut dengan satpam yang tiba-tiba saja datang dan berbicara di belakangnya itu. Untung saja dia tak terjungkal karena terlalu terkejut dengan satpam itu sehingga bisa langsung menetralkan nafas dan detak jantungnya.
"Tapi suami saya kan nggak di rumah, pak" ucap Nadia dengan heran.
Bahkan satpam itu juga kebingungan pasalnya orang yang membawa motor itu memaksa masuk dan akan melaporkannya pada Andre jika tak diijinkan. Nadia dan satpam itu terus melihat dua orang itu yang telah turun dari motornya kemudian membuka helmnya. Nadia begitu terkejut melihat siapa orang yang tengah bertamu dan mencari Andre itu.
__ADS_1